
Sekarang waktu menunjukan kalau sebentar lagi akan maghrib, Dirga dan Kafa memutus kan untuk pulang. Mereka pun naik mobilnya melaju kembali ke arah kota. Dirga melihat sekeliling jalanan nampak sepi dan juga tidak terlalu banyak cahaya, dengan kata lain jalan terlihat agak petang karena hari mulai gelap.
Terlebih jalanan banyak di tumbuhi pepohon an yang tinggi menjulang, di sekitar bibir jalan serta kurangnya lampu penerangan membuat suasana terasa mencekam. Suara beberapa burung , dan juga serangga mulai terdengar.
Jalan nampak sepi karena pengunjung pantai banyak yang memutuskan pulang sore tadi.
Dirga dan Kafa menyalakan musik di dalam mobilnya agar suasana lebih mencair, atau lebih tidak menyeramkan. Hawa dingin mulai terasa di permukaan kulit.
"Lihatlah jalannya begitu petang, kita harus segera beranjak dari sini." gumam Kafa dan melihat wajah Dirga yang tegang saat menye tir mobilnya, sesekali melihat kekanan, dan kekiri jalan.
"Tidak ada apa-apa, berhati-hatilah karena tak ada cahaya Dirga." saran Kafa.
"Iya Kafa, tetapi kenapa tiap kita pergi selalu berurusan dengan hantu yaa?" tanya Dirga .
"Makanya Dirga, jauhi aku maka kau tak akan pernah berurusan dengan hantu." ucap Kafa .
"Tak mau jika aku menjauhi dirimu, kenapa kau selalu mengusirku??" tanya Dirga dan fokus menyetir mobilnya.
"Bukan mengusir, tapi aku bisa melihat hantu kau akan ketakutan jika terus berada di dekat ku." gumam Kafa.
"Tak mau, " jawab Dirga singkat.
Setelah mengendarai mobil selama kurang lebih dua jam lamanya maka mereka berdua sudah berada di jalan raya. Dirga menghenti kan mobilnya di tepi jalan karena lelah. Agar mesin mobilnya beristirahat. Mendinginkan mesin sejenak. Kafa pun melihat ponselnya.
Ternyata ada beberapa pesan yang masuk, dan membacanya satu persatu.Dirga keluar dari mobil karena badanya yang pegal duduk selama dua jam di mobilnya.Pantatnya terasa panas, ia mendinginkan sejenak dan melihat keadaan sekitar menghirup sedikit udaranya yang segar di luar mobil.Terlihat amat banyak motor dan mobil masih berlalu lalang, Dirga merasa mengantuk, membeli kopi hangat dan teh hangat juga untuk Kafa adalah solusi pas.
Beberapa menit kemudian dia membawa dua cup, berisi kopi hangat dan teh hangat untuk Kafa, dia masuk kedalam mobilnya.
"Ini untukmu,minumlah agar tak masuk angin apa luka jahitanmu masih sakit?" tanya Dirga.
"Terimakasih tehnya, dan lukaku masih sakit." jawab Kafa dan menangkupkan kedua telapak tangannya ke cup teh hangatnya,agar ia tidak kedinginan.
"Dengar, kau tidur di rumahku saja, biar ada yang merawatmu." Dirga memelas pada Kafa.
"Aku ingin tinggal di rumah saja, lagipula aku akan menjualnya sebentar lagi, kita kan mau lulus SMA." ujar Kafa.
__ADS_1
"Kau mau pindah kemana?" tanya Dirga.
"Entahlah, aku akan pindah di dekat kampus saja, biar lebih enak kalau sekolah." jawabnya.
"Kalau begitu aku juga akan beli rumah di dekatmu, biar kita lebih sering lagi bertemu." ujar Dirga dan menyeruput kopi hangatnya .
Kafa tak menjawabnya hanya diam, karena ya percuma kalau udah ngomong sama Dirga, ya gak bakalan di dengerin. Karena ia seenaknya saja, baginya kemauan dan perasaannya akan di dahulukan. Tak mau mendengarkan usulan dari Kafa.Beberapa di usir dan sudah menjauh masih tetap saja mendekati gadis yang punya bola mata bewarna biru itu.
Setelah satu jam lamanya perjalanan itu pun berahir juga,saat ini mereka berdua berada di depan gang rumah Kafa.Karena gadis itu mau tinggal di rumahnya sendiri saja.Dia tak mau merepotkan orang lain Dirga akan berpamitan namun sangat berat. Maka dia memutuskan untuk turun dari mobil masuk ke rumahnya .
Mereka berdua berada di rumah Kafa, dan arwah anak kecil itu masih berada di dalam.
Dia pun melihat wajah Dirga mengamatinya , Kafa pergi ke kamar mandinya untuk berganti pakaian.Setelahnya duduk di sebalah Dirga .
"Jika kau lelah pulang saja." ujar dari Kafa berusaha mengusir pria jangkung itu.
"Tak mau, aku akan berada di sini saja." jawab Dirga menolak usiran dari Kafa.
Arwah anak kecil itu mengerjai Dirga dengan menjatuhkan buku di pangkuannya. Sontak Dirga terkejut kenapa tiba-tiba ada buku yang jatuh di pangkuannya.
"Kau yang melempar ini?" tanya Dirga lalu ia mwngerutkan keningnya.
"Hem.. tidak." jawab Kafa singkat.
Dirga merinding bulu romanya menggosok lengannya beberapa kali. Karena memang tak ada angin tak ada hujan siapa yang melempar sebuah buku ke arahnya. Memang ada arwah anak kecil yang jahil padanya saat ini.
"Hi..hi..hi.. Rasakan makanya pulang sana!" usir arwah anak kecil itu dan cekikikan. Dirga tak mendengarnya tapi merasakan kehadiran. Karena bulu romanya yang berdiri sedari tadi.
"Kafa, apakah disini juga ada makhluk halus nya juga?" tanya Dirga sembari celingukkan ke arah semua sudut rumah Kafa.
"Tidak ada, itu hanya perasaanmu saja." ujar Kafa memalingkan wajahnya berpura-pura tak ada makhluk halusnya.
Setelah itu Dirga menyalakan televisi Kafa dan melihat acara berita hari ini. Kebetulan gadis itu mempunyai buah melon di kulkas dan menghidangkannya di meja.
Setelah beberapa menit mereka berdua saat ini menonton di temani makan buah melon segar.Ternyata ada seorang yang mengetuk pintu di depan rumah Kafa.
__ADS_1
"Thok..thok..thok... Kafa ini Bibi buka pintu nya.." ujar wanita yang mengaku bibinya dan berada di depan pintu saat ini.
"Iya sebentar bi..!" teriak Kafa lalu ia berlari ke arah pintunya segera membuka.
Ternyata memang benar bibinya telah datang. Karena tahu kalau rumah Kafa mau di jual dia segera datang menghampiri keponakannya .
Setelah mempersilahkan masuk bibinya, dia melihat ada seorang pria tampan duduk di sofa. Dan memandanginya dengan cermat.
"Siapa dia ?" tanya Bibi Kafa melihat ke arah Dirga.
"Perkenalkan saya Bi kekasihnya Kafa." ujar Dirga memperkenalkan diri dengan percaya diri tinggi, dan tersenyum manis, agar bibinya Kafa menyukainya dan merestui hubungan dengan keponakannya itu.
"Bukan bi, dia temanku sekolah." jawab Kafa dengan canggung dan agak gugup.
"Mana yang benar ini Kafa?,aduh anak muda jaman sekarang ya ckkk..." ujar Bibi Kafa dan menaruh tas kopernya itu di dekat sofa lalu duduk .
"Ambilkan minum bibi Kafa haus nich..."ujar Bibi Kafa seenaknya untuk menyuruh Kafa mengambil minuman.
"Biar saya saja." ujar Dirga lalu dia pergi ke dapur membuatkan teh, Kafa menyusulnya dan melihat Dirga sedang menyeduh air.
"Apa yang kau lakukan?, biar aku saja." bisik Kafa lirih pada Dirga karena takut terdengar oleh bibinya.
"Biar aku saja." Dirga berusaha membuat teh.
"Bahkan di rumahmu saja tak pernah buat teh sendiri." bisik Kafa lagi pada Dirga.
"Anggap saja pelatihan." jawab Dirga sambil meringis ala kuda menahan pipis.
"Kau yakin?" sambil menggerakkan beberapa kali kelopak matanya.
Dirga menganggukan kepalanya satu kali dan meneruskan usahanya membuat teh hangat.
"Terserah kau saja." jawab Kafa pasrah dan menggaruk kecil kening dan tengkuknya .
Kafa pun meninggalkan Dirga yang sibuk membuat teh untuk bibinya, saat ini Kafa duduk menemani bibinya untuk berbincang.
__ADS_1
Bersambung...