Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 124 "Hipnotis"


__ADS_3

"Dengar, di dalam ruangan itu banyak foto dan kenangan semua orang tuaku saja, tidak ada yang spesial Dirga." ujar Kafa menepis semua kecurigaan pria itu.


"Tapi aku lihat pria itu menatap terus ruangan kamar orang tuamu Kafa." Dirga mencoba lagi meyakinkan Kafa agar ia mau untuk satu kali saja percaya pada perasaan curiga Dirga .


"Ehm, baiklah ayo kita masuk ke dalam kamar kedua orang tuaku." jawab Kafa dan berjalan beriringan dengan Dirga.


Setelah masuk kedalam kamar dia pun mulai menyalakan lampunya agar terlihat terang.Dia memperlihatkan ruangan pada Dirga semua foto masa kecil Kafa dengan kedua bola mata nya yang bewarna coklat, dan tidak bewarna biru. Dirga pun menatap lekat-lekat tiap foto yang terpajang di dinding juga di atas meja.


Dirga menatapnya dan sangat berbeda sama sekali dengan Kafa yang sekarang bermata biru langit. Yang membuat Kafa bisa melihat banyak makhluk halus itu.


"Kafa, sejak kapan kedua bola matamu itu bewarna biru seperti sekarang ?" tanya Dirga sambil memegangi salah satu foto Kafa, dan menatapnya lekat-lekat.


"Ehm, sebentar Dirga aku ingin melihatnya, oh yang ini gambarku saat masih kecil." jawab Kafa lalu memegang foto tersebut.


"Ehmm, benar lihatlah baik-baik , kedua bola matamu bewarna coklat dalam gambar ini." ujar Dirga sembari mengajak Kafa duduk di bibir kamar orang tuanya .


"Iya benar, tapi kenapa sekarang bewarna biru dan kenapa kau lupa?, seharusnya kau ingat." ujar Dirga sambil menatap kedua bola mata Kafa yang bewarna kebiruan.


"Maaf Dirga aku benar-benar lupa apa yang sudah terjadi padaku?" ujar Kafa, sembari memegangi kepalanya karena tiba-tiba rasa nyeri datang di kepalanya dan juga di hatinya itu pun terasa amat sesak.


"Tenang... tenangkan dirimu dulu.." ucap Dirga lembut dan penuh perasaan.


"Aku benar-benar tidak ingat, namun bisakah kita pergi ke dokter menceritakan kejadian ini siapa tahu bisa dapat solusi?" ajak Kafa pada Dirga dan memohon agar dia mau menemani nya.


"Baiklah, tapi kau istirahat dulu saja." bujuknya agar Kafa mau menurutinya juga.

__ADS_1


"Tapi lebih cepat lebih baik Dirga, kau mau mengantarku kan?" ajak Kafa lagi,memegang tangan Dirga agar dia luluh dengannya.


Dirga pun luluh, dan hanya bisa mengangguk pasrah, jika menolak ajakkan Kafa ia benar- benar tidak bisa. Dia pun mau namun karena Kafa sudah mengajaknya maka dia meminta ijin kepada bibi Kafa untuk membawanya ke Dokter. Karena ada hal yang perlu di periksa.


Beberapa menit tak jauh dari rumah Kafa, ada seorang Dokter ahli hipnoterapi, agar dia bisa mengingat kejadian masa silamnya itu.


Setelah melakukan reservasi, mereka berdua masuk ke dalam ruangan dan di persilahkan duduk oleh seorang Dokter muda berparas amat tampan rupawan.Dengan sedikit kumis, ada brewok tipis,hidungnya yang macung dan memakai kaca mata. Dengan tinggi 182 cm, ia terlihat gagah dan juga sangat berdedikasi.


"Silahkan duduklah, ceritakan semua masalah yang kamu alami agar aku bisa membantumu jangan ragu." ujar Dokter berparas tampan itu sambil melihat wajah Kafa.


"Sebenarnya aku ingin mengingat sesuatu, jika aku mengingatnya kepalaku terasa sakit Dokter,apa anda bisa membantuku?" Kafa memohon pada Dokter itu dengan sopan dan lirih.


"Tentu saja, namun jika aku membantumu mengingat, kau akan merasakan sakit yang hebat." ujar Dokter berparas tampan, sembari menatap wajahnya Kafa yang sedikit tegang karena ucapan Dokter itu.


"Sebentar Dokter aku ingin sekali bicara dulu dengan Kafa beberapa menit saja." ujar Dirga.


Setelah mereka berdua menjauh dari dokter itu, Dirga menatap wajah Kafa lekat-lekat dia panik dan juga khawatir karena jika ia tetap meneruskan ini maka akan menyakiti Kafa.


"Ayo kita kembali saja, kenapa kita kemari?, jika nanti kau akan merasa kesakitan lagi?" ujar Dirga menarik lengannya, namun gadis itu menepisnya.


"Ayolah Dirga, kau tahu aku harus melakukan ini, karena aku ingin mengetahui masalaluku." ujar Kafa pada Dirga dengan suaranya yang lembut.


"Aku tidak tega jika kau kesakitan lagi." ujar Dirga pada Kafa terlihat di wajahnya sangat menghawatirkannya.


"Tapi sampai kapan kita begini Dirga?,jika aku cepat dapat jawabannya maka masalah akan bisa teratasi." Kafa membujuk Dirga agar mau menemaninya di dalam.

__ADS_1


"Baiklah, kau ini memang keras kepala." ujar Dirga pada Kafa dengan pasrah karena dia merasa kalah tak bisa menolak keinginannya.


Mereka berdua masuk lagi ke dalam ruangan, dan Kafa duduk lalu menunggu Dokter untuk menyiapkan semua persiapannya, yaitu untuk melakukan hipnoterapi.


"Dengar, aku akan membantumu untuk bisa mengingat masalalumu, akan tetapi kau itu pasti merasa kesakitan hebat, kau harus bisa menahannya." ujar Dokter itu, dan duduk di depan Kafa.


"Baik Dokter aku akan menahannya." jawab Kafa, lalu ia setengah merebahkan kepalanya di kursi itu.


Lalu Dokter itu mengetuk sebuah besi dan ia pukul hanya sekali Kafa langsung terhipnotis akan suaranya.


Saat Kafa tertidur dan terhipnotis oleh Dokter, dia merasa kalau masih dimana dia menjadi seorang anak kecil, dia masih berusia sekitar 8 tahun masih anak-anak. Berlarian kesana- kemari, bermain sepeda dengan kedua orang tuanya. Kafa pun melihat itu serasa tak ingin kembali kedunia asalnya. Ingin masuk dalam masalalunya yang indah itu.


"Apakah begini rasanya terjebak dalam masa lalu?,aku mengerti kenapa banyak orang yang gila tak bisa lepas dari masalalunya."batinnya karena di masalalu yang ia lihat begitu nyata tak ada cela, serta ingin tetap berada dalam ingatannya itu.


Kafa mengikuti anak kecil yaitu dia sendiri, dan kedua orang tua Kafa yang masih hidup. Sangat perhatian pada gadis cilik itu,saat dia belajar mengendarai sepeda dia terjatuh dan kedua orang tuanya pun membalut lukanya sembari menatapnya hangat.


"Ayah ibu aku merindukanmu." Kafa mendekat kepada masalalunya berharap bisa memeluk erat walau hanya sekejap saja.


"Aku benar-benar kesepian sekarang apakah kalian bahagia di sana?, apakah aku ini boleh ikut kalian berdua?" tanya Kafa pada kedua orang tuanya itu.


Mereka berdua melihat wajah Kafa dewasa menyeringai lalu dengan kompaknya mereka bilang " Iya..." Kafa pun kegirangan karena ia bisa ikut kedua orang tuanya.


Dirga berbisik lembut di telinga Kafa, agar ia bisa tetap kuat tak masuk, tak terpengaruh oleh masa lalunya itu.


"Ayo ,Kafa ingat itu hanya masalalu saja, kau hanya perlu melihatnya jangan terpengaruh." ujar Dirga memberi semangat agar Kafa bisa melewatinya dan mengingat kembali hal yang ia ingin ingat saja.

__ADS_1


Tidak terperosok ke dalam ingatan masalalu dan terjebak, untuk selama-lamanya dan lebih memilih hidup dengan bayangan ilusinya saja


Bersambung...


__ADS_2