
"Tentu saja ini adalah tempat favoritku, mulai aku kecil karena ini adalah tempat ternyaman aku bisa ketiduran di sini." ucap Dirga lalu dia mengambil beberapa buku akan ia tunjukkan pada Kafa. Setelah itu dia duduk di samping Kafa yang duduk memandagi jendela saat ini
"Lihat ini foto ku masih kecil." ucap Dirga kepada Kafa.
"Lucu sekali Dirga ,kau masih tk ini ya?!"
"Apakah mereka ini kedua orang tuamu??"
"Ya ini Mama, dan ini Papa,mereka kewalahan jika aku sedang merajuk dan marah, aku akan bersembunyi." ucap sembari terseyum amat manis mengingat masa kecilnya dulu.
Sedangkan Kafa mengamati foto album itu dengan seksama,karena album kenangan itu mengingatkan dengan kedua orang tuannya yang meninggal beberapa tahun silam, tepat karena kecelakaan tunggal.
Kafa pun merasa agak bersedih teringat akan masa lalu nya yang terasa pahit itu.
Di luar hutan pun terlihat mulai berkabut agak tebal, dedaunan yang tadinya itu terkena sang terik sinar mentari,sekarang harus mau basah terkena embun yang mulai tiba mengusirnya .
🍃🍃🍃🍃🍃
Dokter Armand yang sedang asyik mandi air hangat, di bawah guyuran shower dia sangat menikmatinya hangatnya air yang mulai turun dari rambut dan membasahi setiap pori-pori kulitnya, Dokter Armand masih bergidik ngeri jika mengingatnya,kalau siang tadi terbangun dari mimpinya bertemu ular cobra yang siap akan mematuk kaki jenjangnya.
"Aduh, kenapa aku harus mengingatnya sedih sekali?, lagipula kenapa aku sial sekali ya hari ini?" gerutu Dokter Armand lalu dia pun mulai menggosok semua permukaan tubuhnya dan busa di tanganya beralih ke sekujur tubuhnya.
Namun tiba-tiba saat semua busa sabun itu memenuhi tubuh Dokter paruh baya tersebut.
Air shower tidak mau keluar dari lubangnya, Dokter Armand matanya kemasukan busa jadi dia pun berteriak lagi meminta bantuan.
"Dirgaaaa!!! tolooong airnya matiii!!!"
"Dirgaaaa!!! tooloooong!!!!"
Teriakkan Dokter Armand tidak terdengar oleh Dirga, karena ruang baca berada pada paling ujung Villa kayu ini.
Dokter Armand pun mau tidak mau melingkar kan handuk putih itu pada pinggangnya yang lebar. Setelah mengusap busa di wajahnya itu agar tidak pedih di matanya.
Dia berjalan keluar hendak meminta bantuan. Ternyata tidak ada orang sama sekali.
"Duh, siaalaaan kenapa mereka berdua tidak ada, apa yang mereka lakukan?,meninggalkan pria tua sendirian." gerutu Dokter Armand dia pun merutukki nasib sialnya karena mulai di siang yang cerah tadi, sampai sekarang tidak ada yang berjalan lancar satu pun.
"Dirgaaaaa !!!"
__ADS_1
"Dirgaaaa !!!"
Teriakkan Dokter Armand masih tetap tidak terdengar oleh Kafa ataupun Dirga.
Dan sang penunggu Villa itu meringis saat ini menatap tubuhnya Dokter Armand dan hanya berbalut sehelai handuk saja,hanya melingkar tepat di pinggang lebarnya.
Dada Dokter itu terekspos sempurna bersih dan mulus sekali, membuat penunggu Villa itu sangat menyukai Dokter Armand.
"Hi...hi...hi..."
"Kenapa Dokter polos ini agak bodoh ,hihihi."
Sang penunggu itu sudah lama tinggal di Villa dia adalah makhluk halus berwujud wanita.
Maka melihat Dokter Armand yang sedang kesusahan malah menggodanya, saat Dokter berjalan pun terpeleset karena lantainya licin terkena tetesan dari kakinya yang basah.
"Gedebug..."
"Sialaaan,kenapa aku sangat sial di sini apa ada yang sedang mengerjaiku ha ??" sambil kedua mata melirik ke kanan dan ke kiri .
"Hi...hi..hi...Dokter bodoh !!" ucap penunggu villa itu sambil cekikikan, dia mengerjainya.
Melihat keadaan villa yang membuat Dokter heran, kenapa tak satu kegiatan hari ini lancar
🍃🍃🍃🍃🍃
"Apakah kau bersedih?" tanya Dirga memecah lamunan saat ini sembari menatap tepat ke arah jendela luar.
"Aku hanya teringat ibu dan ayah saja, mereka sangat sayang denganku,jika masih ada pasti mereka..." ucap Kafa dengan mata yang akan menangis, mulai berkaca-kaca mengingatnya
"Sudahlah kalau kau sedih kita pergi saja dari sini, lagipula aku punya tempat rahasia, kau mau melihatnya ?" ajak Dirga pada Kafa agar tidak bersedih lagi dan membantu dia berdiri.
"Baiklah kita kesana, tetapi bagaimana kalau kita mengajak Dokter Armand ok, aku rasa dia sekarang mencari kita." usul Kafa agar Dokter tidak sendirian ,sambil menatap wajah Dirga.
"Tapi biarkan Dokter beristirahat saja, hanya kau dan aku saja ini adalah tempat rahasia." bujuk Dirga ke Kafa dengan tersenyum kecil.
"Baiklah, ayo kita kesana." jawab Kafa
Mereka berdua pun meninggalkan ruang baca dan sekarang menuju ke arah tempat rahasia Dirga, namun saat dalam perjalanan mereka berdua berpapasan dengan Dokter Armand ia berada di bawah lantai, sedang duduk karena barusan jatuh terpeleset.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan Dokter?, ha.. ha..ha.." Dirga menertawakan Dokter Armand.
"Dasar kau ini bantulah aku berdiri." Dokter pun saat ini di tarik oleh Dirga dan berdiri.
"Dengar air hangatnya itu mati, aku sedang mandi coba lihat, bantulah ini kan villa mu." ucap Dokter Armand memohon pada Dirga.
"Oh, jadi Dokter mandi tapi belum selesai." ledek Dirga pada Dokter yang kacau, dengan tubuhnya yang masih penuh sabun dan hanya memakai handuk saja.
"Iya, ayolah Dirga." dengan memohon.
"Baiklah, pegang benar-benar handuk anda, dan jangan sampai lepas bisa bahaya itu!!" Dirga memperingatkan Dokter Armand lebih waspada dan melirik ke arah Kafa, karena itu bisa membuat malu dirinya sendiri.
"Baiklah, ayo aku ingin membilas tubuh dan juga rambutku." ucap Dokter Armand yang berjalan tepat di belakang Dirga, membuntuti nya.
Namun masih beberapa langkah serasa ada angin yang bertiup dengan seenaknya tanpa izin, dan membuat handuk yang melingkar itu jatuh di lantai dengan begitu saja.
Sang penunggu Villa pun tertawa cekikikan. Dia lah yang membuat ulah tersebut sehingga Dokter pun segera menutup pinggangnya lagi.
"Hi..hi..hi..hi..."
Padahal Kafa itu tadi sempat melihat benda sakral dari Dokter paruh baya tersebut, namun dia berpura-pura tidak melihatnya, agar Dokter tidak semakin malu.Kafa berputar haluan dia malu akan matanya yang tidak sengaja sudah ternodai melihat benda sakral itu.
"Aku kan tadi sudah bilang Dokter, anda harus lebih berhati-hati !!!" Dirga pun melirik ke arah Kafa yang sudah pergi entah kemana, karena dia amat malu harus menghadapi situasi itu.
Dirga tersenyum kecut lalu ia berjalan penuh perasaan yang kesal pada Dokter paruh baya yang berada di belakangnya.
"Kemana Kafa Dirga ??" tanya Dokter Armand yang semakin kebigungan karena ia berharap, kalau Kafa tidak melihat kejadian yang amat memalukan baginya.
Namun Dirga menghela nafas panjang untuk beberapa kali,karena sangat sebal dengannya
"Hemmm, Haaaaaa." menghela nafas panjang
"Hei, apakah sudah bisa showernya?" tanya Dokter Armand dengan kebingungan sambil melihat Dirga yang masih membenahinya.
"Ini masih aku perbaikki, dengar Dokter anda kan sudah tua, kenapa seperti anak-anak??" protes Dirga sebal karena dia tahu kalau Kafa pergi karena pasti sudah melihat kejadian itu.
"Sialaaan, kenapa harus melihat Dokter gila ini? dalam keadaan seperti ini, kurang ajar !!" batin Dirga sambil membenahi shower agar air hangat itu bisa keluar lagi.
"Sialaaan!!" batin Dirga mengumpat.
__ADS_1
Bersambung...