Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 38 "Pahit 2"


__ADS_3

Bunga-bunga kamboja rontok di terpa angin siang ini,dan Dokter Armand masih menangis sesenggukkan, mungkin karena kerinduannya kepada kedua orang tuanya,sudah lama sekali tak bertemu dan terkadang juga bisa melihat wajah kedua orang tuanya walau itu hanyalah dalam mimpinya Dokter Armand saja.


Angin berhembus pelan-pelan menjatuhkan beberapa bunga, di area pemakaman dan di pemakaman tak ada orang, kebetulan hanya ada Dokter Armand saja suara tangisnya itu sangat keras terdengar pilu dan sedih sekali.


Matanya sembab berlinang dengan hidung yang seketika memerah, dengan ingus yang keluar dari kedua lubang hidungnya, Dokter Armand mengusap air mata di kedua pipinya sesekali. Setelah itu dia mulai mengehentikan tangisannya, menumpahkan rasa kerinduan .


Beberapa menit setelah dia bermonolog, puas bercerita dengan kedua orang tuanya itu, dia harap jika saat ia pulang merasa agak baikan.


Mencoba berdiri tegak kembali dan perasaan kacau,masih ada sisa-sisa air mata di pelupuk matanya Dokter Armand.


Namun Dokter Armand tetap tak kuasa untuk bangkit dari tangisannya serta kesedihannya saat ini,namun beberapa kali deraian air mata yang berlinang itu di hapus dan di usap tetap masih saja mengucur dengan deras.


"Sudahlah berhenti air mata apakah kau ingin terus keluar?,aku ingin berhenti aku mohon." Dokter Armand memarahi air matanya yang tak mau berhenti, lalu dia pun melihat kelopak bunga kamboja bewarna kuning, merah, dan putih yang beterbangan di atas terkena angin


Seketika air matanya pun berhenti berlinang, Dokter Armand melihat keadaan sekeliling sangat sunyi sekali,tak ada tanda-tanda orang kecuali dirinya sendiri sedari tadi menangis dan bicara sendiri bak orang gila, namun dia sesekali melihat kebelakang badannya apa ada orang melihat dia menangis dan berkata sendirian saat ini,akhirnya setelah Dokter itu memastikan bahwa memang nihil tidak ada satu orang pun yang melihat, dia pun sangat lega sekali. Apabila ada orang yang melihat maka Dokter Armand malu setelah menangis sedari tadi dan bicara sendiri .


Lalu bangkit berdiri berpamitan kepada kedua orang tuanya yang sudah tiada, membungkuk dan memberi salam agar Ayah dan Ibunya itu tenang dia Alam lain. Setelah ia memanjatkan doa teramat tulus tentunya dari putra semata wayangnya .

__ADS_1


"Aku pulang Ayah, Ibu, dan semoga aku kuat tak lelah dengan semua yang terjadi padaku." Dokter Armand itu pergi meninggalkan kedua pusara kedua orang tuanya, menuju mobilnya yang di parkir di tepian makam.


Dengan perasaannya yang masih sedih bekas tetesan air mata di pelupuk matanya,dan juga langkah agak gontai,namun akhirnya dia pun menaikki mobilnya menyalakkan menuju balik ke arah rumahnya .


🍃🍃🍃🍃🍃


Kafa dan Dirga hendak memesan makanan namun karyawan, atau pelayan tidak muncul sama sekali, jadi mereka hanya menunggunya


Mereka berdua dengan sabar menunggu ada karyawan yang menghampiri untuk memesan beberapa menu makan siang.


"Aku ingin bercerita kepadamu maukah kau mendengarnya?" Kafa bertanya pada Dirga dengan suaranya yang lemah lembut, lirih dan serta sangatlah sopan .


"Aku sudah tak punya orang tua, mereka itu meninggal karena kecelakaan, aku ini adalah gadis aneh." Kafa pun menatap Dirga dengan intens, dia ingin Dirga percaya kepadanya jika dia adalah gadis yang bisa melihat makhluk halus, dan semua yang ia lihat bukanlah ilusi.


Dirga pun diam menyimak semua kata yang akan muncul dari bibir Kafa saat ini, sambil memandangnya dan terlihat kedua bola mata kebiruannya bersinar, karena pantulan sinar cahaya matahari .


"Lalu aku akan bercerita padamu dengan jujur, karena aku ini bisa melihat hantu, arwah, dan makhluk halus." Kafa menjelaskan pada Dirga kalau dia bisa melihat semua makhluk halus .

__ADS_1


"Kau tahu kenapa tadi saat kecelakaan aku meminta kita segera pergi? karena ada arwah sedang mendekati kita." Kafa memberitahu Dirga dengan serius dengan harapan dia akan percaya kepadanya.


"Dan satu lagi kau tahu tadi saat suami Ibu Khotimah meninggal, aku rasa bukan dia yang membunuhnya." Kafa menegaskan kasus dari pembunuhan tadi siang ,kepada Dirga dengan serius agar Dirga percaya kepadanya.


"Aku tak gila, juga tak bipolar aku bisa melihat makhluk halus,jika kau takut denganku lebih baik menjauh ." Kafa meneruskan bicaranya lalu dia pun menundukkan kepalanya sesaat.


"Entah itu kau jujur atau itu hanya usiran agar aku tak mendekatimu, aku tak paham namun aku tak mau menjauhimu." Dirga pun menepis usiran Kafa agar menjauhinya, karena Dirga memang belum tahu dan tidak bisa percaya begitu saja kalau dia itu bisa melihat makhluk halus, karena sebelum dia mendapatkan bukti


"Kau belum percaya padaku, aku setiap saat sangat tersiksa dengan mataku ini, ingin aku normal sepertimu tidur dengan nyenyak."Kafa menghela nafasnya panjang mencoba untuk menunjukkan keterpurukkanya kepada Dirga .


"Kalau kau bisa tenang setiap saat aku tidak bisa,aku juga tak pernah bisa tertidur dengan nyenyak." Kafa meneruskan bicaranya dengan menundukkan wajahnya.


Dirga menggenggam erat jemarinya dengan lembut agar Kafa tetap tegar, dan juga tetap mau bersemangat menjalani harinya .


"Entah kau bohong ataupun jujur, aku akan percaya tenang saja." Batin Dirga padanya.


Namun mereka berdua nampak sama-sama menguatkan, Kafa masih tetap tertekan atas penglihatannya itu setiap saat harus melihat semua makhluk halus di semua tempat yang ia singgahi.Ternyata di tempat samping ada sosok makhluk halus penunggu warung yang melihat, menatap dengan tatapan sangatlah tajam, matanya merah menyala dia melihat ke arah Kafa dan Dirga, namun karena Kafa tidak melihat kearahnya maka dia tak menghampiri

__ADS_1


Kafa menundukkan wajahnya karena takut jika dia akan menghampiri jika melihat Kafa dan Dirga, namun Kafa tidak membahasnya sama sekali. Pura-pura tak melihat dan tidak tahu menahu itu adalah cara Kafa agar tetap terhindar dari masalah.


Bersambung...


__ADS_2