Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 37 "Pahit"


__ADS_3

"Lihatlah anak itu sangat ketakutan, melihat ada orang yang sedang menggodanya." Dirga pun menyenggol bahu Kafa sebelah agar dia tak melamun saja.


"Ehhmmm, iya maaf ya aku lagi tidak fokus, apa kita cari makanan?,aku sangat lapar." Kafa mengajak makan Dirga karena sedari pagi dia belum makan, karena pagi tadi dia terburu-buru berangkat.


"Baiklah ayo kita cari makan." jawab Dirga.


Ada banyak tugas yang harus di kerjakannya di sekolahan , maka dari itu pagi-pagi sekali Kafa sudah ada di sekolahan seperti seorang murid yang sangat teladan,walaupun hanya berpura-pura saja.


Mereka pun mencari makan siang yang tidak jauh dari acara festival itu, sambil mengamati jalanan yang ramai pengunjung .


Mereka berdua pun berada di sebuah warung makan ,ayam bakar dan tampak warung ini sangatlah bersih sekali namun ada beberapa pengunjung, tidak ramai sama sekali,kalau biasanya warung ramai ya apalagi ada acara festival hari ini, seharusnya warung makanan ayam bakar ini penuh sesak olah pengunjung.


Kafa dan Dirga hendak memesan makanan namun karyawan, atau pelayan tidak muncul sama sekali, jadi mereka hanya menunggunya


Mereka berdua dengan sabar menunggu ada karyawan yang menghampiri untuk memesan beberapa menu makan siang.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Flash back


Di sebuah rumah yang megah beberapa orang berkerumun, dan nampak seorang anak muda


Dia amatlah bersedih akan kehilangan kedua orang tuanya saat itu, dia menangis di depan jenazah kedua orang tuanya, karena siapa lagi yang akan merawatnya jika kedua orang tua nya secara bersama telah meninggal dunia.


"Hu...hu...hu...hiks..hiks..." suara tangis dari seorang pemuda yang ada di dekat jenazah kedua orang tuanya, air matanya berderai,tak henti berlinang saat ini.


Setelah acara pemakaman berlangsung anak itu, terlihat berjalan sendirian membawa dua koper, dengan tertatih-tatih masih berduka dia tetap berjalan tanpa arah tujuan.Terseok-seok entah kemana dia akan pergi,bahkan saat ini di seharusnya masih tetap di dalam rumah .


"Pergilah dari sini!!, lagipula kau hanya anak pembawa sial jangan lagi kau menginjakkan kaki ke rumah ini !!!" usir dari seorang wanita kepadanya, dan dia pun membawa dua koper langsung keluar dari rumah yang mewah itu.


Merasakan kehidupannya yang sangat pahit itu, tidak satupun mendapatkan bantuan oleh orang lain, dan ia teringat pesan kedua orang tuanya tetap sekolah dengan rajin, menjadi seorang Dokter adalah impian dari mendiang orang tuanya, namun saat ia sudah menjadi seorang Dokter tak dapat lagi melihat wajah kedua orang tuanya itu. Membuat hatinya itu bagaikan di tusuk sembilu amat perih sekali .


"Lihatlah betapa rasa pahit ini selalu bersama diriku, Ibu, Ayah, apakah semua orang melalui hal yang seperti diriku?, namun kenapa hanya aku yang merasakan rasa pahit ini,bahkan tak ada orang mengulurkan tangannya kepadaku, kau tahu Ibu dan Ayah saat kalian meninggal, aku merasa tubuhku ini bergetar tak akan bisa merasakan kehidupan lagi,kenapa kalian tega mempermainkan hingga saat ini aku sudah menjadi seorang dokter dewasa yang bisa di banggakkan...."


"Beberapa hari yang lalu sama persis melihat masalalu diriku,ada seorang gadis di usir oleh warga kampung,dia juga sama seperti diriku hidup sebatang kara, bahkan dia menangis dengan putus asa, sama seperti dulu pernah sangat putus asa ingin mengakhiri hidupku namun aku tepis, karena mengingat suara Ibu yang masih teringat di dalam hati kecilku."

__ADS_1


"Aku merasa memang hidup tak pernah mau adil dengan kita, dia selalu mempersulit dan memberikan rasa pahit agar kita mau berjalan maju dengan tegar, namun kenapa aku masih merindukan kalian saat ini."


"Hiks...hiks...hu...hu..hu..." tangisan Dokter Armand di samping pusara kedua orang tua nya saat ini, dia menangis sesenggukan .


"Armand, jangan lupa sekolah yang rajin jadi Dokter saja aku rasa kau sangat pas." ingatan Dokter Armand saat dahulu Ibundanya masih hidup dan mengelus rambutnya lembut , lalu dia memakan sisa sarapannya .


Terlihat senyuman tersimpul dari seorang Ibu dan aroma harum itu,masih membekas dalam ingatan Dokter Armand, membuatnya masih tetap tegar menjalani hidupnya saat ini juga .


Sangat manis sekali saat Ibunya masih hidup kehidupannya lancar, sebelum sekolah setiap saat melihat sarapan yang setiap pagi sudah terhidang di meja makan,dan mendapatkan kecupan sayang, serta belaian dari sang Ibu.


Bunga-bunga kamboja rontok di terpa angin siang ini,dan Dokter Armand masih menangis sesenggukkan, mungkin karena kerinduannya kepada kedua orang tuanya,sudah lama sekali tak bertemu dan terkadang juga bisa melihat wajah kedua orang tuanya walau itu hanyalah dalam mimpinya Dokter Armand saja.


Angin berhembus pelan-pelan menjatuhkan beberapa bunga, di area pemakaman dan di pemakaman tak ada orang, kebetulan hanya ada Dokter Armand saja suara tangisnya itu sangat keras terdengar pilu dan sedih sekali.


Matanya sembab berlinang dengan hidung yang seketika memerah, dengan ingus yang keluar dari kedua lubang hidungnya, Dokter Armand mengusap air mata di kedua pipinya sesekali. Setelah itu dia mulai mengehentikan tangisannya, menumpahkan rasa kerinduan .


Beberapa menit setelah dia bermonolog, puas bercerita dengan kedua orang tuanya itu, dia harap jika saat ia pulang merasa agak baikan.

__ADS_1


Mencoba berdiri tegak kembali dan perasaan kacau,masih ada sisa-sisa air mata di pelupuk matanya Dokter Armand.


Bersambung...


__ADS_2