
"Hoam, hem... Kenapa Kafa itu kau gendong Dokter?, apa yang terjadi padanya??" tanya Dirga ke, Dokter dengan mengusap beberapa kali kelopak matanya.
"Nanti aku ceritakan," jawab Dokter.
Dokter pun membaringkan Kafa di kamarnya, dan melihat luka di pinggangnya terbuka lagi, makanya darahnya pun merembes lagi.
Maka Dokter Armand melakukan perawatan kepada Kafa, dan memberikan lukanya obat.
Setelah itu membalutnya dengan perban agar darahnya segera berhenti,Dirga melihatnya.
"Lho, kenapa lukanya terbuka lagi??" tanya Dirga dan melotot.
"Tadi ada satu pohon jatuh di tamanmu, aneh bukan??, tak ada angin tidak ada hujan sudah tumbang begitu saja." ujar Dokter Armand.
"Apa??, aku tak mengerti maksudmu Dokter." ujar Dirga, belum paham perkataan Dokter .
Beberapa saat setelah Dokter menjelaskan ke Dirga kalau di taman belakang ada gua kecil, dan tiba-tiba menghilang setelah itu ada juga pohon tumbang yang hampir mengenai Kafa.
Mereka berdua melihat ke taman belakang, dan memastikan apakah semua perkataan dari Dokter Armand memang benar.
"Tuh kan, gak ada gua disini Dok." ujar Dirga sembari melihat di sekeliling dan berkacak pinggang, setelah melihat keadaan tak ada gua, namun ada satu pohon pinus tumbang hampir mengenai badan Kafa.
"Maka dari itu, tapi tadi memang benar-benar ada Dirga, Kafa dan Aku sangat yakin sekali." ujar Dokter Armand lalu dia pun mengernyit kan kedua alisnya.
"Sudah dokter, biarkan pohon ini di bereskan pelayanku saja ayo kita masuk, aku juga mau mandi habis ini." ajak Dirga lalu ia menggaruk rambutnya, menyeret Dokter Armand masuk ke dalam rumahnya dengan paksa.
Dirga masuk kedalam kamar mandi, sedang kan Dokter Armand masuk ke dalam kamar Kafa. Dia duduk di dekat Kafa yang berbaring.
"Bagaimana sudah baikan??" tanya Dokter .
"Aku rasa aku tidak bisa berjalan-jalan untuk sementara Dok, biar lukaku mengering dahulu haaaa..." ujar gadis yang bermata biru itu lalu dia pun menghela nafasnya panjang.
"Ha.. Iya aku rasa juga seperti itu, hei apakah kau tidak merasa aneh dengan rumah ini???" tanya Dokter Armand dengan suara pelan, dia mendekatkan ke arah Kafa dengan bisik-bisik agar tidak ada yang mendengarnya.
__ADS_1
"Aku rasa begitu Dokter,dan beberapa kali aku mendengar suara aneh, suara ular, malam hari aku bermimpi buruk." ujar Kafa kepada Dokter sembari meringis karena luka jahitan masih sakit.
"Benarkah?, apa kau tidak mencurigai orang lain?, seperti..." ujar Dokter Armand, dan dia menarik sudut bibirnya.
"Maksud Dokter..." ucap Kafa membulatkan kedua bola matanya yang biru itu.
"Ya maksud aku, ada orang yang ingin sekali mencelakaimu Kafa...." ujar Dokter, dia sambil melihat wajah Kafa yang semakin tirus dan juga kurus karena beberapa hari dia sangat sering mengabaikan jadwal makannya.
"Menurut Dokter siapakah orangnya??" tanya Kafa ,dengan nada serius.
"Aku tidak tahu pasti, tapi kita harus memasti kannya dulu." jawab Dokter Armand, dengan berbisik-bisik pada Kafa.
"Bagaimana caranya??" tanya Kafa semakin penasaran.
"Tentu saja ada, tapi kau harus terlihat tidak mencurigai siapapun." bisik Dokter Armand lagi,dan menganggukan kepalanya.
"Baiklah dokter, aku akan berusaha senatural mungkin, agar tidak membuat orang curiga."
ujar Kafa, menganggukan kepalanya Dokter.
Dirga setelah selesai membersihkan badanya masuk ke dalam kamar, dan melihat keadaan Kafa, dengan membawa banyak buku serta beberapa camilan ingin menemaninya, agar tidak bosan walau hanya di dalam kamar saja
Dia menyalakan televisi dan memutar semua film kesukaan gadis itu, karena Kafa sangat suka film tentang horor, dan film romantis.
Maka semua yang ia putar masih kesukaan dari Kafa. Dengan memakan camilan yang ia bawa untuknya.
"Kalau kau bosan kau boleh pergi Dirga, aku bisa sendirian di dalam kamar." ujar Kafa.
"Kau mengusirku gadis bodoh !!" ujar Dirga dengan mengunyah camilannya.
"Aku tak mengusir, aku takut kau bosan, aku tak apa-apa sendirian saja." ujar Kafa sedikit ketus.
"Kenapa kau terlihat mengusir bagiku?" gerutu Dirga dan menyeringai.
__ADS_1
"Tapi kalau kau tidak bosan ya terserah." ujar Kafa sambil menggaruk rambutnya merasa kalau sudah keterlaluan pada Dirga.
"Aduh, kenapa ucapan Dokter membuat aku bingung ya??" batin Kafa saat ini, mencurigai Dirga sebagai orang yang ingin mencelaki Kafa.
"Apa aku tidak keterlaluan ya??" batin Kafa.
"Dengar, aku tak bosan sama sekali ,dan aku hanya akan menemanimu." ucap Dirga yang amat manis membuat Kafa sedikit bingung.
Karena jika Dirga ingin berbuat buruk kenapa Dirga harus bersusah payah, dan sekarang ia bersikap manis kepadanya. Dirga sangatlah perhatian dan terlihat sangat setia pada Kafa.
Dia bahkan membuat beberapa jadwal yang akan di lakukannya bersama Kafa saat libur. Karena sementara sekolah di tutup, tidak itu saja Dirga juga selalu menempel hanya di dekat Kafa saja.
Sekarang di film yang mereka tonton di layar televisi, film berkisah tentang pembunuhan.
Dan ternyata aktor utama lah sang predator, dia hanya berpura-pura baik selama ini untuk mengelabuhi semua penontonya. Dirga pun menatap lekat ke arah televisi dan Kafa, juga melihat ke arah Dirga lalu mengamati lekat- lekat wajah pria itu. Dirga tidak terlihat aneh sama sekali, tidak mencurigakan bahkan ia terlihat polos dan diam mengamati adegan dari film itu. Setelah film nya berakhir barulah ia menengok ke arah Kafa dan tersenyum.
"Kenapa kau menatapku dengan pandangan seperti itu???" tanya Dirga yang seketika itu membuyarkan tatapanya yang fokus sedang mengamati Dirga.
"Oh, tidak Dirga maafkan aku , hanya sedang memandang wajahmu yang sangat polos dan tampan itu." ujar Kafa berbohong pada Dirga, padahal dalam batinnya dia amat mencurigai pria tampan yang berada di depannya itu.
"Tapi kenapa tatapanmu seakan aku ini pria yang tidak baik..." gerutu Dirga dan mendekat ke arah kamar Kafa.
Dia duduk di di sebelah Kafa, dengan tatapan yang intens menamatkan wajah Kafa, dia pun kini menopang dagunya. Kafa mengernyitkan kedua alisnya dan merasa agak gugup takut ketahuan Dirga kalau kini Kafa mencurigainya kalau pria yang duduk di dekatnya adalah pria yang akan mencelakainya.
"Maaf Dirga aku tak bermaksud begitu." ucap Kafa dan berpura-pura lagi di hadapan Dirga.
"Kenapa kau meminta maaf?, aku hanya asal bicara,sudah kalau kau mengantuk tidur saja." saran Dirga dan menaikkan selimut Kafa agar menutupi tubuhnya yang ramping.
"Terimakasih Dirga." ujar Kafa
"Sama-sama..." jawab Dirga dan tersenyum ke arah Kafa.
"Apa yang sedang kau fikirkan?, kenapa aku merasa aneh...??" batin Kafa dan menyembu nyikan ekspresi wajahnya sebenarnya, karena dia mencurigai Dirga orang yang berniat akan membunuhnya saat ini.
__ADS_1
Bersambung...