
Mereka berdua keluar mencium aroma pagi dan berjalan-jalan di taman ini dekat Rumah Sakit, dan banyak juga para pasien menikmati sinar mentari dengan duduk-duduk di sekitar taman, Kafa lalu mendorong kursi roda Dokter Armand menuju taman yang banyak bunga .
Tampak bewarna-warni mereka berderet-deret dari warna pink, kuning,merah menyala, jingga dan lain-lain, mereka semua seperti sepotong kue lapis, yang berjejeran warnanya rapi dan indah, sangatlah nyaman di pandang mata ini
Kafa hanya diam dan mencium aroma pagi ini yang segar,dan sembari memegang ujungnya dorongan, dari kursi roda Dokter Armand, dan Dokter masih agak sedih namun dia mencoba tegar melihat sinar mentari yang menyilaukan kedua bola matanya yang habis menangis .
Dokter Armand mengernyitkan kedua alisnya terkena sinar cahaya mentari pagi yang agak menyilaukan mata.
Banyak para pasien berjemur merasakan pagi dan sinar mentari yang sangat setia memberi kehangatannya, begitu juga dengan Kafa dan Dokter Armand saat ini.Nampak Dokter sudah mau merilekskan dirinya sendiri merasakan kehangatan dari sinar mentari. Pagi ini indah dan juga sangat cerah sekali awan nampak lagi mengintip-intip dari celah atas langit itu.
Bergerombol berbisik-bisik kepada kawannya. Apa mungkin mereka itu mau bermain, atau hanya sedang ingin berbisik-bisik saja. Lalu Kafa mengajak mengobrol Dokter Armand .
Agar suasananya mencair namun saat akan memulai membuka suara ada seorang pria, datang dari arah belakang dia berperawakan tinggi sekitar 180cm, dengan wajah tirus dan berkaki jenjang,melangkahkan kakinya kearah Dokter Armand, akhirnya dia berdiri tepat di samping Dokter Armand saat ini.
Memandang dengan lekat dengan tatapan sendu dan tidak asing, Dokter Armand juga menatapnya lalu tersenyum manis.
Keduanya berpelukkan saling berbincang,dan Kafa yang tak mau mengganggu pun segera agak menjauh, namun saat dia akan pergi dan melangkahkan kaki kecilnya, Dokter Armand malahan memanggilnya dan melambaikan tangannya ke arah Kafa.
"Kemarilah, ini temanku saat dulu sekolah." Dokter Armand pun memanggil Kafa sambil melambaikan tangannya ke arahnya.
Kafa pun mendekat dan memberi salam pada pria yang ada di hadapannya saat ini, teman dari Dokter Armand nampak tersenyum saat dia memandang Kafa sekilas.Dia membalas menundukkan badanya dengan hormat juga.
"Ini Kafa dia adalah tetanggaku,dan ini teman ku sekolah dulu namanya Rizki." Dokter pun memperkenalkan temannya bernama Rizki itu pada Kafa.
"Salam kenal Pak Rizki." sapa Kafa dengan sangat hormat dan sangat sopan kepadanya.
__ADS_1
"Iya salam kenal, oh iya kenapa dia berada di Rumah Sakit dia kan Dokter?" ujar dari teman Dokter Armand ini, ia sambil menggelengkan kepala.
"He.. he..he.." terkekeh karena sangat aneh ada Dokter yang sakit dan sedang di rawat di Rumah Sakit saat ini.
"Iya Dokter Armand kecapekan dan pingsan." jawab Kafa dengan polosnya pada Pak Rizki
"Ha...ha...ha..." malah tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau menertawakanku?,dasar kau ini." gerutu Dokter Armand dia lalu mengerucutkan bibirnya dengan sebal, karena di tertawakan oleh teman lamanya saat ini.
"Walaupun aku Dokter juga butuh perawatan." ucap dari Dokter Armand sedikit sebal pada temannya itu.
"Tentu saja, makanya aku sudah tahu apa kau masih betah melajang?"tanya dari Pak Rizki ke Dokter Armand dia melirik Kafa tersenyum manis, dan memberi tanda kalau Dokter harus lebih cepat tanggap.Dan siap untuk mengahiri masa lajangnya itu.
"Bicara apa kamu ini? ccckkk." Dokter Armand menggelengkan kepalanya dan terlihat malu .
"Hi...hi..hi.."tertawa lagi dan menutupi bibirnya dan menepuk beberapa kali pundak Dokter .
"Kau tahu, Kafa ini masih mudah dan masih sekolah, kenapa kau menggodanya?" gerutu dari Dokter Armand dan mencibirkan bibirnya.
"Ya memang kenapa?, walau masih sekolah sebentar lagi juga dewasa." jawab Pak Rizki dengan renyah seperti biskuit kelapa tergigit.
"Apa yang kau bilang?,tutup mulutmu itu tak sopan sama sekali." hardik Dokter Armand pada teman lamanya itu.
"Maafkan dia Kafa, jangan di ambil hati ya, dia memang kadang seperti itu tidak sopan." ujar dari Dokter Armand menyeringai ke arah Pak Rizki dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Maksudku kau itu sudah tua, pilihlah salah satu gadis untuk menjagamu dan punya anak seperti aku." ucap Pak Rizki sambil meringis dan melirik Kafa dan bermaksud menggoda Dokter Armand.
"Jangan di ambil hati ya Kafa, dia itu sedang bercanda saja." sanggah dari Dokter Armand takut Kafa tak nyaman dengan ledekkan dari Pak Rizki. Dan memandang Kafa yang polos.
Kafa tidak mengerti maksud dari kedua pria dewasa yang berada di sampingnya saat ini.
Hanyalah menundukkan badannya tanda dia paham, dan sebenarnya dia tidak paham akan pembicaraan antara Dokter Armand dan Pak Rizki ini, mereka berdua lalu bertatapan muka dan melanjutkan perbincangannya.
Kafa hanya diam dan melihat ponselnya dari tadi bergetar, dia membukanya ada beberapa pesan masuk ada dari Dirga dan balasan dari gurunya saat ia ijin tak masuk hari ini.
Dirga memberinya pesan kenapa Kafa tidak masuk hari ini, karena mengira dia sakit Dirga sedang menghawatirkannya. Lalu Kafa mulai memberi balasan kalau dia sedang menjaga Dokter Armand sakit di Rumah Skait dan dia mungkin besok baru bisa masuk sekolah lagi.
Secepat kilat melihat balasan dari Kafa, Dirga langsung meneleponnya.
"Drrt...drrt..drrt..." Kafa mengangkat ponsel miliknya lalu menjauh dari para pria dewasa yang sedang asyik mengobrol.
"Hallo ada apa?" tanya Kafa pada Dirga.
"Hei, aku menghawatirkanmu memang kau di Rumah Sakit mana?" tanya Dirga pada Kafa.
"Ini Rumah Sakit Harapan dekat kok, kamu mau kesini?" tanya Kafa pada Dirga dengan mengamati Dokter Armand dari kejauhan.
"Tentu saja nanti pulang sekolah aku akan mengunjungimu ok." Jawab dari Dirga dan langsung menutup ponselnya .
Kafa pun menunggu Dokter Armand selesai berbincang dengan temannya,karena tak mau mengganggu maka dia berpura-pura melihat pemandangan taman ini sambil berkeliling .
__ADS_1
Bersambung...