Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 86 "Ulang Tahun Sekolah 2"


__ADS_3

"Hem, apakah tidak apa-apa?, aku khawatir."


"Aku rasa tak apa-apa, jika kita pulang maka aku tak bisa berlatih,ayolah hanya sebentar." bujuk Dirga agar Kafa menunggu dia berlatih.


"Baiklah, tapi nanti segera pulang jika sudah selesai ok." permintaan Kafa dengan suara lembut.


"Iya,lagian kenapa kau selalu perhatian?, apa kau perawatnya ?!,hemmm." ledek Dirga dia menyeringai dan sewot karena Kafa perhatian pada Dokter Armand.


"Kau ini... aku menghawatirkan Dokter ckk, kenapa kau malah meledekku??" ujar Kafa dia membuang muka agak sebal akan ledekan dari Dirga tersebut.


Dirga merasa gemas karena baru kali ini Kafa yang pemalu, dan pendiam marah kepadanya.


"Ya sudah kalau begitu cck, kau mendukung kelasku saja ya." rengek Dirga karena dengan begitu Kafa berhianat pada kelasnya.


Seharusnya dia memberi dukungan kepada kelasnya. Kalau mendukung kelas Dirga dia akan di protes banyak teman sekelasnya.


Karena berani berhianat memberi dukungan kelas lainnya.


"Tapi aku akan di protes teman sekelasku, tak mau Dirga."gerutu dari Kafa sambil tersenyum


"La begitu dong tersenyum, jika bergitu kau nampak cantik, tidak terlihat tertekan." goda Dirga sambil mencolek pipi Kafa yang tirus.


"Kau menggodaku ya ck." ucap Kafa memukul tangan Dirga.


"Tidak, memang benar kau terlihat cantik saat tersenyum seperti ini."Dirga menatap wajah gadis bermata biru itu.


"Haaa, kau ini selalu saja kalau di dengar oleh banyak siswa aku malu."ujar dari Kafa dengan tersenyum kecil dan sedikit salat tingkah.


"Bagaimana kalau aku mengalahkan semua para wakil di sekolah,dan aku juara satu maka kau harus memberiku hadiah ?" rengeknya dia pun menatap lekat wajah Kafa dengan penuh perasaan.


"Apa yang kau maksud?" tanyanya dengan agak ragu.


"Kau akan tahu kalau aku sudah menang mau ya??" rengek Dirga sekali lagi.

__ADS_1


"Wah, memang aku yang mengadakan lomba, kan sekolahan, mintalah hadiahnya pada para guru saja." tolak Kafa yang tidak pekah sama sekali kepada Dirga.


Dirga pun tak membuka suara merasa agak kecewa dengan perkataan Kafa yang secara tidak langsung mebuatnya tidak bersemangat


"Kenapa kau diam?, apakah marah padaku?"


"Tidak marah, tapi aku merasa agak kecewa, mau ya , dan kabulkan permintaanku jika aku juara?" ucap Dirga dengan sorot mata agak tajam merasa dia akan menang juara pertama jika Kafa mengiyakan permintaannya.


"Hem, baiklah kau ini ada-ada saja." ucap Kafa sambil tersenyum kecil .


"Begitu dong." ujar Dirga menggoda


🍃🍃🍃🍃🍃


Di rumah Dirga Dokter Armand sedang dalam masa pemulihan,dia mulai keluar ruangannya melihat banyak sekali pepohonan itu berjejer rapi, dan menjulang dengan berbagai macam di rumah Dirga.


Hawa sejuk dengan angin yang sepoi-sepoi meniup pori-pori kulit Dokter Armand.


Merasakan hembusan angin itu benar-benar membuatnya merasa lebih tenang sekarang.


Daunya yang hijau membuat suasana siang nyaman, Dokter pun menikmati suasana itu.


"Haaa... begitu nyaman di rumah bocah kaya ini, kenapa sangat beruntung dia?" gerutunya sambil duduk di dekat kolam ikan sesekali kakinya di masukkan kedalam kolam yang dingin itu.


Rasa dingin mulai terasa di telapak kakinya Dokter Armand. Dan saat menikmati waktu quality time nya Susan muncul di sebelahnya.


"Bukankah kau Dokter yang tinggal bersama Kafa ya?" tanya Susan duduk menyilangkan kakinya menatap lekat wajah Dokter Armand.


"Ehm, untuk apa kau bertanya padaku?, kau siapa?" tanya balik dari Dokter Armand pada Susan yang menatapnya dengan tidak sopan.


"Ck, aku rasa kau pria tua yang cukup tampan, dan aku lihat kau menyukai Kafa iya kan??" ujar Susan dengan sembarangan dia mulai mengulum senyuman penuh intrik.


"Aish, maksudmu apa?,bukankah kau tidak sopan bila bicara dengan seorang yang lebih tua denganmu." jawab Dokter Armand sambil menatap lekat Susan ,yang sedari tadi wajah nya terlihat menyeringai.

__ADS_1


"Ha..ha...ha,jangan sok polos kau pria tua ha,


kau kira aku tak tahu,sedari tadi kau melihat pahaku yang mulus ini." sambil mendekatkan tubuhnya yang amat seksi menggoda, duduk di dekat Dokter Armand.


Sambil menatap intens pada Dokter Armand.


"Si.. siapa beraninya kau gadis gila pergi dari hadapanku." sanggah dari Dokter Armanda dia membuang muka dan menghadap arah yang berlawanan.


"Haa, dasar pria munafik, mana ada pria tua polos sepertimu, pasti saat ini fikiranmu itu melayang-layang iya kan?" ucap Susan dia memancing Dokter Armand.


Dokter Armand tidak menggubris dan juga tak bergeming sama sekali menanggapi omong kosong Susan. Namun dalam hati kecilnya itu memanglah Dokter Armand yang sudah lama melajang, ingin sekali dia mendapat sentuhan hangat dari seorang wanita,namun karena dia adalah seorang pria yang samgatlah pemalu maka ia memahan hasrat pria normalnya.


"Dengar pria tua, kau menyukai Kafa dia itu seorang gadis belia sedangkan kau itu hanya pria tua." ledek Susan dengan memprovokasi Dokter Armand.


Namun untuk saat ini Dokter Armand tidak terpancing sama sekali dengan omongan Susan.Mencoba menahan amarahnya dan juga menyembunyikan sebisanya perasaan itu dalam-dalam.


"Apakah kau itu benar-benar menyukai anak remaja berusia 18 tahun?, jangan bermimpi."


"Ha...ha..ha... ha... " tawa Susan terbahak- bahak membuat Dokter Armand geram pada nya.


"Masih ada di dunia ini pria tua masih perjaka, sangat memalukan, kau tidak berani dengan seorang gadis."ucap Susan dia menggodanya, sambil menatap Dokter Armand penuh gairah.


"Dasar, bocah jaman sekarang ini memanglah sangat berani sekali." ujar Dokter Armand dan menggelengkan kepalanya.


"Bilang saja kau itu pria pengecut." ledeknya dia menatap dan mengetipkan matanya yang sebelah menggoda Dokter Armand.


"Ha, aku ini pria normal dasar gadis ingusan, jangan meledek orang tua, itu tidak baik." Dokter menasihati Susan dengan baik namun karena Dokter menatap Susan.


Susan itu mencoba dengan menggoda Dokter tua sebisa mungkin, karena siapa tahu si pria tua itu dengan umur 42 tahun tergiur dengan tubuh Susan yang seksi dan menggoda para kaum adam.Dia mendekatkan tubuhnya yang molek ke dada bidang Dokter Armand.


Sambil meniup tengkuknya Dokter mencoba menggoda hasrat pria normalnya agar segera terbangun. Dokter Armand merasa risih akan tiupan Susan pergi dari hadapan gadis seksi itu,dia menuju ke ruang dapur bertujuan untuk mengalihkan perhatiannya,yang sudah mulai tergoda akan rayuan maut Susan.


"Sialan... gadis tengik kurang ajar memang." gerutu Dokter Armand sebal, karena merasa gerah dia berkali-kali minum air dingin untuk mendinginkan tubuhnya itu yang kepanasan .

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2