
"Sudah satu jam aku berkeliling tapi kenapa tak menemukannya?,padahal tempat ini tak begitu luas." gerutu Kafa, lalu matanya tertuju pada sebuah pohon amat besar dan berbeda dengan pohon lainnya.
Dia berjalan dengan pelan-pelan mengamati warna pohon itu, berkilauan dan juga bersinar seperti emas. Dia semakin dekat pada pohon emas itu. Akhirnya sampailah gadis bermata biru di depan pohon besar berukuran sekitar 15 meter tingginya,dan berdiameter 1,5 meter.
Kafa mengamati lekat-lekat pohon emas itu apa ada yang aneh, atau berbahaya dengan pohon yang berada tepat di depannya.Namun tidak ada hal yang terjadi padanya. Pohon itu juga tak bergerak, tidak mempunyai seorang penunggu atau arwah yang tinggal disana .
"Apa Dirga tersesat di sini ya??" batin Kafa .
Pohon itu pun mengeluarkan serbuk emas di dekat Kafa seperti dunia dalam dongeng saja.
Dan tiba-tiba suasana di tempat itu berkabut .
"Apaaaa iniiii?" teriak Kafa.
Saat Kafa berteriak akar pohon emas itu pun menjalar dan melilit kaki Kafa menariknya ke dalam lubang di dalam pohon besar itu.
Saat Kafa menggerakkan badanya lalu dia akan meronta, namun nihil akar itu begitu kuat menariknya hingga masuk kedalamnya.
Kafa pun masuk dan lubang di pohon besar ini, melihat sekelilingnya Dirga berada di atas dan dililit banyak akar. Pria itu pingsan tidak sadarkan diri, Kafa medongakkan wajahnya ke atas dan melihat ada Dirga yang saat ini bergelantugan. Dia berusaha meraihnya tapi tubuhnya juga terlilit banyak akar dari pohon emas ini. Dalam tasnya itu menemukan satu cutter kecil dan segera memotong akar yang melilit tubuhnya. Beberapa menit Kafa mulai terbebas dari belitan akar itu. Dan berusaha meraih tubuh Dirga , setelah dia naik dan bisa meraih tubuh Dirga. Dia pun membebaskan pria tegap membawa kamera di tangannya .
"Dirga bangun...,bangunlah..!!" ujar Kafa dan mengguncangkan tubuhnya agar mau bangun
Beberapa kali Kafa menguncangnya,akhirnya dia pun membuka kelopak matanya. Terlihat Dirga terkejut melihat pemandangan di dalam pohon emas, tak ada cahaya pengap dan bau serta tempat ini sesak. Mungkin jika mereka berdua itu terlalu lama di dalam mereka akan mati sesak. Kekurangan oksigen, di dalam ini memang benar-benar sesak dan juga pengap.
"Kenapa kita berada di sini Kafa?"tanya Dirga
"Aku juga tidak tahu, lebih baik kita cari cara untuk keluar dari sini!" ujar Kafa dengan nada agak marah, dan juga kesal
__ADS_1
"Apa ini pohon yang memakan manusia??" tanya Dirga dan melotot ke arah Kafa.
"Mungkin saja Durga, aku tak tahu, tadi aku mencarimu kemana-mana, tapi ternyata kau berada disini." ujar Kafa dan dia menyalakan ponselnya.
Terlihat dalam pohon banyak urat-uratnya tak ada hal yang aneh, hanya beberapa serat dari akar pohon ini mengeluarkan cairan air mulai banyak. Kaki Kafa dan Dirga basah olehnya .
Mereka berdua bergelantungan di atas dan berpegangan beberapa akar pohon yang kuat. Agar tidak terjatuh ke bawah.
"Bagaimana Dirga apa yang harus kita berdua lakukan ??" tanya Kafa dan melihat wajahnya sangat cemas,dan juga kebingungan .
"Sebentar Kafa aku berfikir dulu, kenapa kita bisa terjebak di dalam pohon ini??" gumam Dirga dan mengamati keadaan.
"Aku tidak tahu, lebih baik kita mencari cara untuk bisa keluar dari sini." ujar Kafa sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Beberapa jam kemudian ternyata air yang di keluarkan dari akar pohon keluar lebih banyak mereka berdua semakin kebingungan,jika tak segera keluar maka mereka tak bisa bernafas di dalam air. Kafa pun berusaha menendangi pohon itu sekuat tenaganya .
Dirga hanya melihat tidak melakukan apa-apa Setelah beberapa menit Kafa sudah kelelahan dan berhenti menendangi pohon itu.Dirga pun menyalakan kameranya dan mengeluarkan cahaya flash dari lensanya.
"Clap... Clap...clap...."
Setelah beberapa kali ternyata ajaibnya pohon membuka dan ada cahaya yang terlihat, Kafa tersenyum melihat itu menggandeng lengan Dirga buru-buru dan keluar dari pohon emas itu.
Mereka berdua pun berada di luar dan merasa lega, Dirga dan Kafa saling menatap dengan perasaan lega satu sama lainnya.
"Kenapa kau bisa tahu kalau memakai flash kameramu kita bisa keluar?" tanya Kafa pada Dirga dengan antusias, dia mengamati wajah Dirga hanya tersenyum sedikit , banyak arti.
Tak bisa di artikan, Kafa heran kenapa tidak sedari tadi saja, sampai menunggu lama dan tak keluar-keluar. Di dalam sangat sesak dan pengap tak bisa bernafas lega. Baru setelah ia berkeringat menendang pohon itu sampai kakinya sakit melepuh, baru Dirga mempunyai cara keluar. Mereka pun berjalan keluar dan melihat hamparan pasir dan pantai merasa bebas ,lepas, tak berada dalam kungkungan pohon emas itu lagi .
__ADS_1
"Ayo kita kembali pulang." ajak Kafa.
"Bentar lagi, lagipula sangat seru bukan tadi." sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Dasar pria gila, aku hampir mati sesak, tidak bisa bernafas, kau hanya bilang seru." gerutu Kafa sebal pada pria yang membawa kamera di sampingnya itu.
Mereka pun kembali ke tempat semula, dan berjalan beriringan,Kafa mencubit pinggang Dirga agar dia berhenti mengerjainya.
"Argh...sakit..sakit...jangan mencubit lagi." gumam Dirga dan lari meninggalkan Kafa .
Beberapa menit mereka sudah berada di sebuah warung makan di tepi pantai, untuk mengisi perut mereka yang sudah berbunyi.
Kafa memesan ikan bakar, dan Dirga sedang makan bakso dengan banyak sekali sambal dan juga saosnya. Kafa pun masih menunggu pesanannya. Berbeda dengan pria di samping nya sedang menikmati banyak bakso dengan tingkat kepedasan yang maksimal. Dengan bibirnya memerah kena panasnya dan pedas dari kuah baksonya.
"Nanti kalau perutmu sakit gimana Dirga?" tanya Kafa, dan melihat mangkok Dirga warna nya merah menyala,dia bergidik karena aroma kuahnya saja sudah sangat pedas.
"Tidak lah,aku setiap makan bakso ya harus pedas, gak enak lah kalau tidak pakai cabai dan saus." jawabnya dengan meringis kayak kuda, yang sedang menahan pipis. Lalu asyik melahap bulatan-bulatan bakso dengan enak nya, menikmati dan melihat ombak lautan .
"Terserah kau." Lalu Kafa pun memakan nasi dan ikan bakar pesanannya yang sudah di tunggunya sedari tadi. Perutnya sudah tidak tahan karena sudah kelaparan.
Ikan bakar dengan saus asam manis, karena di temani dengan minuman dingin juga enak.
Mereka berdua memesan beberapa gelas es degan, dan es jeruk karena setelah memakan makanan pedas maka makin enak, mendingin kan lidah dan tenggorokan dengan minuman yang dingin dam segar.
Kafa dan Dirga benar-benar merasakan piknik ke pantai kali ini dengan suasana yang agak berbeda tidak seperti biasanya. Ada suasana yang membuat mereka berdua itu dag dig dug tak karuan.
Bersambung...
__ADS_1