
Kafa dan Dokter Armand sangat menikmati pemandangan yang sejuk di mata, bermandi kan semua kelopak bunga mawar yang mulai bermekaran membuat suasana hati semakin tentram dan damai.
"Wah... enak sekali kalau jadi anak orang kaya kebunya saja seperti ini." gumam Dokter dan di merebah tepat diatas rumput ber atapkan langit biru menghampar luas seluas samudra.
Kafa pun saat ini di dekati pria tampan dan tinggi menjulang seperti pohon, dia berbadan tegap dengan kulit sawo matang.Dia pemilik semua kebun nan luas yang terhampar nyata di kedua pelupuk mata .
Tak sedikit dari hewan kupu-kupu dan capung yang berterbangan, hinggap dari kelopak satu ke kelopak lainnya, sambil menikmati sari dari bunga mawar yang menyembul indah .
Dirga membawa sekuntum mawar pink, dia menarik lengan Kafa dengan halus. Setelah itu dia pun mengajaknya agak menjauh dari Dokter Armand. Sementara Dokter saat ini mulai terlelap karena suasana di kebun amat rindang dan sejuk sangat cocok untuk tidur siang.
Kafa dan juga Dirga main di ayunan kemudian mereka berdua bercengkrama saling menatap satu sama lainnya.
Sambil menatap akan indahnya langit siang ini, terhampar seperti karpet permadani dari sebuah negeri dongeng bernama Aladdin itu.
Mereka berdua melihat pemandangan yang indah, tersuguh di depan kedua mata.
Sejauh mata ini memandang banyak sekali warna hijau, rumput yang berbaris menghiasi semua tanah perkebunan,dengan cuaca cerah sangat mendukung.
Jika Dirga mengajak Kafa yaitu gadis bermata biru,menikmati akan keindahan lalu memberi sekuntum mawar pink indah, melambangkan keanggunan dari gadis bernama Kafa.
"Bagaimana indah kan pemandangan disini?" tanya Dirga sembari memberikan sekuntum mawar pink pada Kafa.
"Kenapa kau memberi mawar ini??" ujar Kafa.
"Mawar pink ini seperti seorang gadis anggun yang baik hati sepertimu."ucap Dirga lalu saat ini matanya memandang langit bewarna biru.
"Benarkah?,aku rasa aku tidak anggun dan tak baik hati sama sekali." Kafa menyanggahnya dan melayangkan sebuah senyuman kepada Dirga karena, gadis ini berfikir sangat tidak cocok sama sekali dengan sekuntum mawar pink yang di beri Dirga padanya.
Dia merasa kalau dia itu gadis yang pemalu, dan tidak anggun apalagi dengan kedua bola mata yang bewarna biru, tentu ia bisa melihat makhluk halus yang sangat menyiksa sekali.
Walaupun dia tidak menginginkannya, namun karena tiba-tiba dia mengetahui itu,hanya bisa pasrah akan keadaannya.
__ADS_1
"Apakah kau merasa kalau tidak beruntung?" tanya dari Dirga dengan menatap kedua bola matanya, dengan penuh perasaan.
"Sebenarnya aku adalah gadis aneh, lagipula mataku bisa melihat semua makhluk halus."
"Apa kau tak takut padaku?" tanya Kafa pada Dirga, sembari menundukkan wajahnya yang cantik dan tirus itu.
"Apa yang harus aku takuti?,aku rasa tak ada." Dirga menyanggah ucapan Kafa, karena dia mau menerimanya kekurangan dan kelebihan
"Ckk, aku saja terkadang ketakukan , sampai kalau malam jarang bisa tertidur." ucap Kafa.
Tiba-tiba Dirga pun mengingat kejadian yang sudah terjadi semalam,dan membuatnya saat ini penasaran apakah yang terjadi kepadanya malam kemarin.
"Oh, ya tadi malam aku tidak bermimpi, aku tidur di kamarmu." ucap Dirga dengan tegas.
Karena apa yang terjadi semalaman itu bukan mimpi baginya,sangatlah yakin sekali kalau si pria tampan itu tidur berdua dengan Kafa.
"Kau tadi malam pasti bermimpi, aku sudah mengunci kamarku." sanggah Kafa dengan sopan dan lirih.
"Kau yakin."
"Dengar, apakah kau tak mempunyai perasaan padaku?" tanya Dirga pada Kafa dan dengan intens menatapnya.
"Ehm, maafkan aku Dirga aku masih belum tahu perasaanku bagaimana??" jawab Kafa sambil menundukkan wajahnya yang tirus.
"Aku benar-benar menyukaimu, dan aku juga menerimamu dengan semua yang ada pada dirimu." ujar Dirga dengan lirih dan juga penuh perasaan .
🍃🍃🍃🍃🍃
Saat ini Dokter Armand yang tertidur lelap, karena suasana memang mendukung sekali.
Dia sangat lelap karena angin semilir yang berhembus kecil, mengiringi tidur siangnya.
Namun karena memang kebun yang luas nya beberapa hektar ini,banyak sekali hewan liar yang berkeliaran mulai, serangga, tikus, ular, dan lain-lain.Maka sesekali memanglah kita harus waspada.
__ADS_1
Ternyata ada seekor ular cobra namun masih kecil sedang meliuk-liukkan badannya tepat di dekatnya tempat Dokter Armand yang sedang terlelap di buai mimpi, namun ular cobra itu mengitari tempat itu, seperti sedang mencari induknya.Karena bertepatan pada saat Dokter membuka kedua kelopak matanya.
Dia bangun seraya terkejut karena di dekatnya ada seekor ular cobra besar, ia sedang terlihat marah.Kepalanya itu dengan ciri khas seperti sebuah sendok, namun berukuran lebih kecil seperti telapak tangan bayi yang di tangkup kan.Dokter Armand tak bisa berteriak ataupun meminta bantuan karena sangat ketakutan .
Tubuhnya pun menggigil kedinginan berpeluh mengeluarkan keringat sebesar biji jagung itu.
Walaupun seorang pria dewasa dan juga dia itu Dokter, namun dengan urusan ular cobra yang berukuran cukup besar Dokter pun harus waspada , karena bisa cobra amat mematikan
Bahkan hanya dalam satu gigitan bisa itu bisa membuat satu orang manusia hanya hitungan detik saja, bisa meregang nyawa jika di patuk.
"Astaga... ular cobra ini kenapa berada disini, dan kenapa harus sekarang?, aku masih ingin hidup." batin Dokter Armand dengan perasaan yang campur aduk.
"Ya Tuhan, berilah aku pertolongan... lihatlah betapa mengerikannya ini." batin Dokter saat ini sambil memundurkan pelan badanya.
Agar ular itu tak terkejut karena jika merasa terancam maka, satu patukan itu bisa saja membuat melayangkan nyawa dari pria yang berumur 42 tahun ini dengan sekejap mata.
🍃🍃🍃🍃🍃
"Bukankah kita berdua itu kita itu lebih baik berteman saja." ucap Kafa lirih kepada Dirga .
"Kenapa kau bilang begitu?, karena lebih baik kau menerimaku,lalu kau pindah dari rumah."
"Pindah rumah, maksudmu aku keluar dari rumahnya Dokter Armand??" tanya Kafa pada Dirga dengan nada amat sedih terdengar di telinga Dirga.Dia pun mengernyitkan kedua alisnya yang tebal.
"Benar, kau pindah saja kerumahku, di rumah banyak sekali kamar kau tak akan jadi seperti seeorang pembantu." ujar Dirga kepada Kafa dengan nada sedih juga.
"Aku tak merasa jadi pembantu, malah aku sangat suka Dokter selalu mengajariku jadi gadis mandiri." jawab Kafa kepada Dirga lalu menyunggingkan sebuah senyuman bahagia.
Karena menurutnya memanglah harus bisa mendapatkan uang secara mandiri, dengan membantu Dokter di kliniknya.
Dengan demikian dia itu bisa belajar menjadi gadis yang bekerja keras setelah itu Kafa juga bisa meneruskan sekolahnya nanti.
Dokter Armand yang lebih berpengalaman di dalam hidup, dia sangat bijaksana membuat gadis bermata biru itu sangatlah takjub,dan membuat pria yang berusia 42 tahun itu mulai menjadi penutan gadis cantik dan anggun .
__ADS_1
Bersambung...