
"Aku mohon tetap diam, aku tak akan melukai dirimu aku berjanji." bisikkan maut Dirga pun di layangkan Kafa mengangguk pasrah pada pria tampan berbadan tinggi besar dan kekar ini.Hanya bisa diam karena perlakuan manis Dirga malam ini membuat jantungnya Kafa berdegup tak beraturan juga.
Dirga pun memelukknya erat seraya menaut kan bibirnya yang seksi kepada Kafa, mereka berdua berpagutan di malam yang dingin ini.
Entahlah Kafa hanya bisa pasrah mendapat perlakuan hangat Dirga, mereka berdua tidak bisa tidur dan melanjutkan kegiatannya.
Menutup dengan selimut di atas ranjang yang sama, saling berpelukkan erat dengan hangat melanjutkan meny*sapnya, *******, dan juga bertautan dengan lembut nya serasa mereka berdua tak bisa lagi mengendalikan keadaan.
mereka berjiwa muda terbakar api di bawah selimut yang sama saat ini,merasakan hangat nya berbeda sama sekali dengan malam yang lainnya.
🍃🍃🍃🍃🍃
Pagi hari yang indah dan di sambut dengan kicauan burung murai di perbukitan , dengan rerumputan masih basah sisa tetesan embun yang bersemayam di tiap pucuknya, sinarnya yang mulai hangat menyeruak di antara celah gumpalan awan yang mengepul.Tentunya itu berasal dari sang Surya dia mulai bangun dari tidurnya. Dia membelalakan kedua matanya seraya mengusir sisa hawa dinginnya malam.
Sinarnya yang amat hangat menerobos celah setiap pori-pori jendela, beberapa ruang yang terlihat silau membuat mata yang terpejam akan segera terbuka dengan sendirinya .
"Ha, sudah pagi ternyata." ujar Dokter Armand
Dia pun melihat di sampingnya Dirga sedang memeluk erat sekali Dokter Armand, dan dia meracau jika Dokter itu adalah seorang gadis yang bernama Kafa, Dokter pun melepaskan pelukkan Dirga dengan segera.
"Hei, dasar kau pria mes*m, aku pria normal bangun sudah pagi !!!" teriak Dokter Armand.
Karena Dirga masih tak mau bangun Dokter mendorongnya hingga jatuh di bawah lantai.
"Geeeedebuuuukkkk !!" seperti bunyi dari satu karung beras jatuh dari lantai atas , Dirga pun sadar dan terbangun dari tidur lelapnya saat ini.Membuka kedua kelopak matanya .
"Aduuuuh, kaaampreet siaalaan, siapa berani mendorongkuuu !!!" Dirga mengumpat sambil memegangi pinggangnya saat ini. Dia sudah berada di atas lantai yang dingin.
"Salah sendiri ini jam berapa?, ingat aku ini pria normal ok." tegas Dokter Armand dia pun merapikan tempat tidur , tidak mengindahkan Dirga yang terjatuh dari tempat tidur.
"Sebentar lho, kenapa aku ada disini???" Dirga pun segera lari keluar menuju kamar Kafa .
__ADS_1
Lalu saat dia berada di kamar Kafa dia tidak ada, hanya ada guling bantal dan kamar yang sudah rapi dan harum.Namun sayangnya tak menemukan gadis bermata biru itu.
"Kemana dia??, kenapa aku tak menemukan nya?, dan ckk mana mungkin semalam hanya mimpi?" sambil mengacak-acak rambutnya sendiri,dia pun melihat kolong kamarnya Kafa ternyata ada sepasang sandal kamar tidur.
Dan sandal itu milik Dirga dia pun merasa kalau kejadian tadi malam bukanlah mimpi.
Setelah yakin dia mencari Kafa akan bertanya padanya ,dan memastikan lagi tadi malam itu benar kejadian nyata,bukanlah sekedar mimpi saja.Dirga berlari berkeliling memakai piyama menuju setiap sudut Villa miliknya ,akhirnya ia pun menemukan Kafa yang sedang berada di dapur , yang sedang menyiapkan sarapan.
Kafa saat ini memanggang roti dengan isian selai coklat, serta selai strawberry, setelah itu dia pun meletakkan semua hasil buatanya di meja makan dengan rapi di atas piring.
Setelah terhidang susu hangat pun ia tuang di atas gelas,serta ada teh madu juga di tambah beberapa lembar daun mint , dan tentunya teh itu adalah kesukaan Dokter Armand.
Setiap pagi pastilah dia akan meminumnya karena Kafa terbiasa hidup bersama dengan Dokter Armand,maka sangat paham kebiasan dari Dokter setiap pagi.
"Kafa aku mau tanya bolehkah?" ujar Dirga sembari duduk di meja makan.
"Tanya apa?" jawab Kafa dengan suara khas nya yang lirih dan sopan di telinga.
"Ehm, aku rasa tidak." jawab Kafa dan duduk di meja sambil mencoba susu hangatnya.
"Sarapan dulu, apa kau mau mandi dulu??" tanya Kafa pada Dirga dia menatap wajahnya
"Ayolah,kau berbohong,aku tadi malam masuk ke dalam kamarmu!" ujar Dirga merengek dia seperti bayi, sambil menatap Kafa yang saat ini mencoba teh Dokter Armand.
"Hemmm, kau bermimpi Dirga kamarku aku kunci." jawab Kafa sembari menatap Dirga yang penasaran.
Dia merasa yakin kalau dia tidak bermimpi, pasti ada yang terjadi diantara dia dan Kafa.
"Kau bohong ya, sandalku itu ada di kolong kamarmu." ujar Dirga bersikukuh kalau dia memang tidak bermimpi.
"Ada apa ini?, pagi-pagi kalian itu membahas apa?" tanya Dokter Armand sembari duduk lalu menyeruput teh madu yang dibuat Kafa.
__ADS_1
"Hemm,enak kau yang membuat??" tanya dari Dokter Armand pada Kafa sembari menatap serta menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Benar Dokter, dan baguslah kalau anda suka." jawab Kafa sambil tersenyum manis, dia pun memakan roti bakar buatannya sendiri.
Memakanya dan mengunyah dengan sangat sopan.
Diga yang merasa kecewa karena Kafa mulai mengabaikannya, serta kejadian tadi malam yang ia yakini kalau bukanlah mimpi.
Namun Kafa menyangkal dan Dirga memang sedang bermimpi,manakah yang benar jikalau Dirga tidak bermimpi kenapa sandal miliknya berada di kolong kamar Kafa, jika Kafa sudah berbohong kenapa dia tidak berterus terang .
"Sialaaaan... apa disini ada hantunya?, siapa yang memindahkanku dari kamarnya Kafa??" Dirga pun berfikir keras dengan wajah yang penuh tanda tanya, kedua alisnya tertekuk
"Hei, makanlah rotimu kan masih hangat, kau mau mengajak kami ke kebun bukan??" ujar Dokter Armand sambil menikmati sarapan buatan Kafa. Sangat pas roti bakar kesukaan dan teh madu selera Dokter Armand.
Semua di lahap tidak bersisa Dokter Armand mengelus perutnya kini yang sudah kenyang.
"Ahhh kenyangnya, enak Kafa setiap hari kau harusnya bikin sarapan." ujar Dokter Arman sembari tersenyum puas karena sarapan itu membuatnya bersemangat sekali.
Berbeda dengan Dirga dia masih tidak mau memakan sarapannya diam dan dengan raut wajahnya sebal. Dia pun memandangi Kafa yang meminum susu hangatnya.
"Kafa, kemarilah ayo ikut aku ke depan kita mengobrol tanpa Dokter Armand." rengekan Dirga pada Kafa membuat Dokter Armand menatapnya penuh curiga .
"Memang ada apa denganku??" tanya Dokter dengan menggerakkan beberapa kali kelopak matanya lalu memandangi wajah Kafa dan Dirga saat ini.
"Tidak apa-apa Dokter." jawab Kafa sembari tersenyum kecil.
"Kau mandilah dulu Dirga kita kan akan pergi ke kebun, ayo cepat!" jawab Kafa pada Dirga sambil melayangkan sebuah senyumannya yang amat manis melibihi gula dan madu.
"Tapi nanti di kebun jawab dengan jujur." ucap Dirga kepada Kafa, dia pun menatap dengan serius mengamati ekspresi gadis cantik yang bermata biru itu .
Bersambung...
__ADS_1