
"Oew...mau mencoba tendanganku ini !!" pekik Dirga dan melayangkan kaki kanannya itu ke depan wajah preman itu.
"Buaaaggghhh..." sekali tendang preman itu pun berdarah di ujung bibirnya.
Dia menatap Dirga dengan penuh kemarahan dan juga kebencian. Namun karena jumlah dari para preman banyak maka bisa di lihat, kalau Dirga kalah dari segi banyak anggota preman itu.
"Jangan main keroyok bagaimana kalau, satu lawan satu berani tidak???" tanya Dirga dan tatapannya mengintimidasi agar mereka bisa di takhlukan olehnya.
Namun salahnya Dirga mengajak orang yang salah, mereka sama sekali tidak menggubris omongannya, dan mereka semua itu berniat menhajar Dirga beramai-ramai. Maju di dalam pertandingan itu. Seolah pemain tinju mereka semua sangat antusias.
Kafa pun memegang lengan Dirga dan pria itu hanya tenang, dan memberi tanda Kafa agar tidak panik, karena dia bisa mengatasinya.
Mereka semua maju dan mendekati Dirga, dia pun dengan cekatannya menarik salah satu dari para preman itu dan membantingnya di atas lantai itu. Seketika bunyi " Bammm.."
Dengan segala kekuatan Dirga dia pun mulai beraksi dan melepas kancing kemeja birunya agar sedikit terbuka, saat dua kancing di buka mata Kafa terbelalak menatap tubuhnya Dirga yang tak sengaja terekspos. Dada bidangnya terlihat berotot, tegap. Dan sekuat tenaganya dia menelan ludah kasar, dan tetap menatap dada bidang Dirga. Kafa tak berkedip untuk beberapa detik saja dan fokus melihat dada bidang pria itu.
Sedangkan Dirga mengeluarkan segalanya, yaitu kemampuan untuk menghajar semua para preman. Dan dia menendang beberapa preman itu dengan serempak, merunduk dan juga menghindari semua serangan yang tidak seimbang itu. Namun pria itu tetap saja bisa menang walaupun di keroyok beberapa pria.
Arwah anak kecil itu pun sangatlah semangat dan antusias karena semua bidikan dan juga pukulan Dirga mengenai sasaran dengan pas.
"Wahhh lumayan hebat juga Kakak ini aku suka... !!, ayo.. ayo... ayo....!!" suara dari anak itu memberi semangat kepada Dirga agar dia lebih semangat memukuli semua preman.
"Oh, iya aku lupa kan dia tak bisa melihatku." gerutu arwah itu menepuk jidatnya sendirian.
Kafa melihatnya tersenyum karena arwah itu menyukai aksi Dirga saat ini.Betapa hebatnya Dirga dengan beberapa tendangan,pukulan, beberapa preman tumbang.
"Sialaann boss kenapa bocah tengik ini kuat sekali!!" gerutu dari salah satu preman itu.
"Iya,sialan aku kira dia tak bisa melawan kita." ujar dari salah bos preman itu, dia mengelap darah yang menetes di sudut bibirnya dan ia juga memar dan lebam kebiruan.
__ADS_1
"Sudah-sudah begini saja kita berdamai saja." usul dari bos preman itu meminta agar sudah adegan pukul-memukulnya.
"Baiklah, apa mau kalian kesini!?" tanya Dirga
"Perempuan itu berhutang kepadaku sebesar, 50 juta sudah beserta bunganya..!" ujar bos preman itu dengan meringis menahan sakit.
"Benarkah bibi yang dikatakannya??" tanya Kafa dengan nada lirih dan lembut.
Bibinya Kafa hanya mengangguk tak berani berkata-kata lagi, dia menundukkan wajahnya dan merasa malu karena sudah mempunyai banyak hutang saat ini. Terlebih di hadapan Dirga kekasih Kafa,bibi Kafa merasa tak enak.
"Oh, hanya 50 juta tapi kenapa kalian semua mengacak-acak rumah ini?, dan kalian juga berani memukul wanita." gerutu Dirga tidak terima kalau para preman sudah memukuli bibi Kafa.
"Itu karena kami tidak mendapat uang dari wanita ituuu !!" ujar bos preman itu, sambil melirik bibi Kafa dengan tatapan tajam.
"Lantas jangan memukul wanita!!, baiklah mana nomer rekeningmu aku akan segera mentransfer uangnya." ujar Dirga dengan tegas pada bos preman itu.
Setelah beberapa menit setelah Dirga sudah berhasil membayar hutang dari bibinya itu, maka para preman itu segera bubar. Maka mereka bertiga saat ini pun duduk di ruang tamu. Kafa merasa tidak enak selalu saja merepotkan Dirga.
"Kau bicara apa?, sudah hanya uang segitu saja jangan di fikirkan." ucap Dirga dengan sopan.
"Maafkan bibi juga nak Dirga karena sudah merepotkan ..." ujar Bibi Kafa dan mer*mas- r*mas rok panjangnya karena dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, merasa malu.
Dirga mengangguk dan tersenyum hangat.
"Aku janji jika rumah ini laku maka aku akan menggantinya, karena aku tidak mau sering berhutang padamu." ujar Kafa kepada Dirga.
"Sudahlah, aku membantu dengan ikhlas lalu kenapa kau selalu merasa sungkan kepadaku Kafa?"ucap Dirga agak merengek, karena dia tidak mau Kafa menganggapnya hutang budi.
Karena Dirga berharap kalau Kafa selalu bisa dekat dengannya, supaya Dirga itu terus bisa menjaganya. Karena Kafa tidak mempunyai kedua orang tua dan hanya bibi satu-satunya keluarganya.
__ADS_1
"Aku berharap bisa membantumu, jangan kau merasa sungkan dan tidak enak padaku hem." ucap Dirga dengan melihat wajahnya Kafa itu, tatapannya penuh kasih sayang yang amat mendalam.
"Tetap saja Dirga, nanti jika rumahku laku aku akan segera melunasi semuanya." Kafa tetap saja bersikukuh tak mau merepotkan pria itu.
"Baiklah, terserah kau saja aku, tapi aku ini memang tulus membantumu dan ikhlas ." ujar Dirga tak mau kalah denga Kafa.
Namun Kafa pun diam berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman dingin untuk Dirga.
Es teh dan juga camilan sudah terhidang di meja ruang tamu, mereka semua menikmati dengan santai untuk beberapa saat.
"Kak, aku sangat kagum pada Kak Dirga, dia sangat hebat dalam beladiri." ujar dari arwah anak kecil itu, dia berbisik di telinga Kafa .
"Oh, iya Dirga kenapa kau hebat sekali tadi?" tanya Kafa sembari menatap wajah Dirga yang berkeringat, di penuhi tetesan keringat dan berpeluh.
"Tentu saja, aku ini sabuk hitam Kafa mereka semua hanya pemanasan saja bagiku." seru Dirga menyombongkan dirinya, dia promosi pada Kafa.
"Ha..ha..ha... Baru kali ini aku tahu kau ahli beladiri..." jawab Kafa dan tertawa lepas.
"Oew, kau meledekku, aku memang sangat ahli !!" ujar Dirga dan memperlihatkan semua otot di lengannya pada Kafa.
Sontak bibi, arwah anak kecil, dan Kafa juga tersenyum melihat aksinya dari Dirga seperti anak kecil saja tidak mau kalah omongan.
"Thok..thok...thok...thok." suara pintu di ketuk beberapa kali.
"Lihat Kafa siapa yang datang?,jangan-jangan orang yang menawar rumahmu."ujar bibi Kafa
Lalu Kafa segera berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu agar tahu siapakah yang saat ini mengetuk pintu rumahnya.
Setelah itu pintu di buka ternyata memanglah benar ada dua orang yang saat ini berdiri di pintu luar,seorang wanita paruh baya dan satu pria dengan perut yang buncit mirip seorang ibu hamil yang mengandung sembilan bulan.
__ADS_1
Bersambung...