
Sepulang kerja dari klinik Dokter Armand, dia berjalan ke arah rumahnya, arwah anak kecil itu mengikutinya dari belakang saat ini.Dirga juga saat ini menaikki motornya dengan pelan dia mengikuti Kafa.
"Kak, kau di ikuti seorang pria tampan apa dia itu pacarmu?" tanya arwah anak kecil itu pada Kafa , dia pun menoleh ke arah belakangnya.
Ternyata memang benar Dirga mengikutinya, Kafa berjalan mendekati Dirga lalu, dia mulai mematikan motornya di tepi jalan.
"Kenapa kau itu mengikutiku?, pulang saja ini sudah malam, kau tahu kan warga komplek di rumah kalau tahu." ucap Kafa sedikit marah dan sedikit ketus pada Dirga agar dia pulang.
"Aduh, la gimana?, aku khawatir kalau kau itu harus pulang sendiri ,ini sudah malam Kafa." ujar Dirga dan mengernyitkan kedua alisnya.
"Aku ini pandai beladiri, jika ada orang yang mengganggumu bagaimana?" tanya Dirga
"Aku akan menghajar mereka dengan kedua tanganku ini." ucap Dirga memamerkan tubuh kekarnya ke arah Kafa.
"Sebentar lagi akan sampai, bukankah rumah ku sudah dekat Dirga?" tanya Kafa dia agak sebal dengan sikap Dirga yang berlebihan.
"Namanya bahaya ,tak melihat jauh dekatnya dasar gadis polos!" sambil mencolek dagunya Kafa yang runcing, dan tirus itu.
Bukannya membuat Kafa senang malah dia melirik ke arah Dirga semakin sebal, dengan tindakannya itu. Kafa geram dan menyilang kan kedua tangannya di depan dadanya.
"Apakah kau tahu apa yang jauh tapi terasa dekat?" tanya Dirga pada Kafa dengan nada menggodanya.
"Ckkk, tak tahu aku juga tidak mau tahu Dirga, pulanglah !!" usir Kafa pada Dirga dan dia itu akan melanjutkan perjalanannya menuju ke arah rumahnya saat ini.
"Eits, sebentar nona, aku belum melanjutkan ucapanku, jadi jangan pergi ok." ujar Dirga dan tersenyum melihat wajah Kafa yang semakin sebal padanya. Padahal dia marah tapi saat ini terlihat semakin cantik.
Tangan Kafa di pegang Dirga agar ia tak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Baiklah apa?,setelah ini biarkan aku pulang janji !!" ucah Kafa memasang sedikit dengan wajah masamnya.
"Tentu saja, yang jauh tapi terasa dekat yaitu hatiku ini, walaupun dia berada jauh namun terasa dekat di hatimu." Dirga menggombal dan tersenyum puas ke arah Kafa berharap ia tak akan marah, dan tersenyum kepadanya.
"Sekarang kau harus bertanggung jawab ok, aku mau dekat denganmu saja." ujar Dirga kembali menggombali Kafa dan tersenyum.
"Hueeekkk..,aku mau muntah Kak Kafa."ucap arwah kecil itu yang saat ini berada di dekat Kafa,dan menggelengkan kepalanya ke arah Dirga yang berusaha keras menggombalinya.
Ternyata samar-samar ada bunyi suara orang yang berteriak keras minta tolong, suara dari seorang wanita terdengar dari kejauhan .
"Tolooooong...toloooong maliiiing... Maling... Maliiing...!!!!" teriakan dari seorang wanita saat ini dari kejauhan berlari ke arah Dirga dan Kafa.
Ternyata memang benar ada seorang pencuri lari tunggang langgang, ke arah Dirga dengan sigap dia menghadangnya dan baku hantam pun tidak terelakkan mereka saling memukul, satu sama lainnya.
Dirga dengan sigapnya, dan juga cepat bisa menghindari beberapa pukulan dari pencuri itu, pukulanya memang kuat tapi masih bisa di hindari. Tak kehabisan akal sang pencuri mengeluarkan pisau belati yang tajam kecil dan dia menyeringai ke arah Dirga.
"Kau, mau membunuhku, tidak semudah itu kita lihat siapa yang akan melayang nyawa nya malam ini !!" sanggah Dirga dia pun maju dan mengambil ancang-ancang.
Saat ia maju ke depan sang pencuri hendak menghunuskan pisau belatinya ke perutnya, dengan sigap dia memundurkan sedikit perut nya agar tak terkena pisaunya. Lalu Dirga pun menaril lengannya, serta mengunci kakinya, dengan kaki kanannya, sehingga pencuri itu tak dapat bergerak. Setelahnya itu Dirga lalu memukulkan tangannya ke tengkuk pencuri.
"Buagh..buagh..."dua kali dan dia pun pingsan di tengah jalan, setelahnya dia tersungkur.
"Terimakasih anak muda berkat kau, tas ku dan semua uangku aman, terimakasih, sekali lagi aku ucapkan terimakasih ya." ucap ibu itu terharu akan aksi heroik dari Dirga.
Beberapa saat ternyata sang pencuri itu mulai bangkit dan menghunuskan pisau belatinya dengan cepat beberapa kali, namun dengan secepatnya Kafa menajdi perisainya.
"Jleb...jleb.."setelah menusukkan benda tajam dia lari karena takut polisi akan menangkap pencuri itu.
__ADS_1
Kafa bersimbah darah karena ia terkena dua tusukan di pinggangnya. Dirga dengan cepat membawanya dengan naik taksi.Dia tak pergi kearah rumah sakit terdekat malah membawa ke arah rumahnya. Setelah beberapa menit ia membawanya ke rumahnya yang ia rasa lebih aman, karena takut saat membawa ke rumah sakit akan bertemu beberapa makhluk halus akan membuat masalah bertambah rumit.
Dirga pun menyuruh salah satu pelayan untuk memanggil Dokter pribadinya ke kamarnya itu
Setelah merebahkan tubuhnya Kafa,dan darah yang masih merembes segar di pinggangnya Kafa pingsan seketika.Dan beberapa menit kemudian Dokter pribadi Dirga datang untuk memeriksa keadaannya.
Setelah merawat luka Kafa Dokter memberi jahitan di pinggangnya, yang terkena tusukan belati. Untungnya luka tidak terlalu dalam.
Jika saja belati itu menancap lebih dalam lagi akan sangat berbahaya,maka itu akan terkena organ vital Kafa.Bisa saja ia tak akan pernah bisa mempunyai keturunan.
"Untung saja tusukannya tidak terlalu dalam tuan muda, jika tidak maka nona ini bisa saja tidak akan pernah bisa punya anak." ujar dari Dokter itu, dan menggelengkan kepalanya .
"Terimakasih Dokter telah membantu saya." ucap Dirga pada Dokter dengan berkaca-kaca.
"Baiklah tuan muda saya pamit pulang dulu." ucap sang Dokter dan berjalan keluar ke arah pintu kamar Dirga saat ini.
Kafa pun di beri infus dan juga masih pingsan tak sadarkan diri saat ini. Karena setelah dia mendapatkan perawatan dari Dokter,dan obat yang sudah di berikan melalui cairan infus itu.
Agar dia bisa beristirahat dengan tenang,saat Dirga duduk di sebelahnya sambil mentapnya
"Dasar gadis bodoh ini!, kenapa kau itu malah menantang maut ?!, ha biarkan aku saja yang terkena luka tusukan." gerutu Dirga merutuki Kafa yang masih pingsan di ranjangnya yang lebar, dan mewah itu.
"Aku yang mau menyelematkanmu, tapi kau malah menantang maut,ckk dasar gadis gila." gerutu Dirga memegangi jemari Kafa yang dingin dan pucat itu.
Dirga tertidur lelap karena kelelahan ia sudah menunggu Kafa malam ini, di dekat Kafa dia menyandarkan kepalanya di bibir ranjangnya yang lebar sembari duduk di kursi, tangannya yang masih menggenggam erat jari-jemarinya Kafa saat ini,mereka pun sama-sama di buai mimpi. Malam penuh dengan mistery mereka berdua mendapat hal yang mengejutkan,Kafa masih tetap belum tersadar.
Malam yang kian larut membawakan pesan dingin, serta hawa yang penuh dengan juga ke misteriannya.Hawa magis juga terasa dan sepasang mata merah yang mengikuti Kafa dari celah rumah Dirga saat ini. Tiba-tiba hal itu terlihat,dia pun menyeringai penuh dengan dendam dan kebencian ,serta angkara murka ke arah Kafa .Sepasang mata merah menyala akan terlihat jelas di kegelapan malam.Seolah akan ada hal buruk lagi yang akan menanti Kafa .
__ADS_1
Bersambung...