Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 125 "Hipnotis 2"


__ADS_3

Kafa mengikuti anak kecil yaitu dia sendiri, dan kedua orang tua Kafa yang masih hidup. Sangat perhatian pada gadis cilik itu,saat dia belajar mengendarai sepeda dia terjatuh dan kedua orang tuanya pun membalut lukanya sembari menatapnya hangat.


"Ayah ibu aku merindukanmu." Kafa lalu pun mendekat kepada masalalunya berharap bisa memeluk erat walau hanya sekejap saja.


"Aku benar-benar kesepian sekarang apakah kalian bahagia di sana?, apakah aku ini boleh ikut kalian berdua?" tanya Kafa kepada kedua orang tuanya itu.


Mereka berdua melihat wajah Kafa dewasa menyeringai lalu dengan kompaknya mereka bilang " Iya..." Kafa pun kegirangan karena ia bisa ikut kedua orang tuanya.


Dirga berbisik lembut di telinga Kafa, agar ia bisa tetap kuat tak masuk, tak terpengaruh oleh masa lalunya itu.


"Ayo ,Kafa ingat itu hanya masalalu saja, kau hanya perlu melihatnya jangan terpengaruh." ujar Dirga memberi semangat agar Kafa bisa melewatinya dan mengingat kembali hal yang ia ingin ingat saja.


Tidak terperosok ke dalam ingatan masalalu dan terjebak, untuk selama-lamanya dan lebih memilih hidup dengan bayangan ilusinya saja


Kafa pun mengikuti kedua orang tuanya dan seharusnya kedua orang tua gadis bermata biru itu tidak bisa melihatnya, namun kenapa ini bisa terjadi ,mereka berdua dapat melihat Kafa yang tumbuh dewasa itu di dalam masa lalunya. Kafa amat senang dan tidak tahu lagi bahaya apa yang mengancam tubuhnya itu.


Sudah sangat lama sekali, sekitar dua jam lamanya mata Kafa terpejam. Namun dia seharusnya sudah membuka kelopak mata nya yang indah itu. Tapi Dokter merasa ada yang janggal dengan hal ini.


"Dokter, kenapa dia juga belum sadar ini kan sudah dua jam lewat??!" tanya Dirga dengan raut wajah kebingungan, nampak dia amat menghawatirkan Kafa.

__ADS_1


"Iya seharusnya dia sudah sadar tapi kenapa dia tak mau bangun." jawab Dokter dan dia mengamati tubuh Kafa yang terlihat diam dan kaku.


Tubuh Kafa yang memucat bewarna kebiruan dan dia juga terlihat kejang, seperti meregang nyawa. Dokter menyuruh Dirga tak mendekat, atau melakukan apapun. Karena mungkin itu bisa jadi akan semakin membahayakan Kafa.


"Bagaimana iniii?, lihatlah Dokter apa yang terjadi dengan Kafa?!" pekik Dirga yang amat mengkhawatirkannya.


"Maafkan saya karena baru kali ini ada pasien yang saya hipnotis, sampai terjadi demikian." jawab Dokter itu juga sangat terkejut melihat Kafa, tapi dia kembali tenang dan pingsan tak sadarkan diri.


Nafas Kafa terdengar pendek dan dia seperti kekurangan oksigen. Dokter pun memberikan bantuan oksigen agar dia bisa bernafas lega.


Namun dia masih tak sadarkan diri, karena saat ini Kafa berada di dalam masalalunya dahulu. Dia amat suka dengan masa kecilnya bersama kedua orang tuanya.


"Makanlah yang banyak nak, anggap saja ini rumahmu, dan ini adikmu." ujar ayah Kafa.


Kafa mengangguk dengan gembira dan dia mulai melahap makanan yang terhidang di meja makan. Dia memakan makanan yang terhidang karena semua menu di meja makan adalah makanan kesukaannya.


Kebetulan yang sangat sempurna membuat Kafa melupakan jika itu bukanlah hal nyata, hal yang ingin sekali terulang kembali dalam hidupnya. Impiannya menjadi gadis yang mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya.


Mereka berempat duduk di meja makan dan kedua orang tua Kafa beranjak pergi ke dapur untuk membersihkan semua piring kotornya.

__ADS_1


"Dengar kita harus bisa membunuh anak itu!" bisik Ayah kepada ibu Kafa.


"Benar, kita akan membunuhnya saat ia tidur dan tak sadarkan diri dengan begitu dia tak akan bisa kembali ke masa depan." jawab dari ibu Kafa sambil menyeringai ala psikopat.


"Serahkan urusan itu padaku, ini akan menjadi akhir yang bagus." ujar ayahnya pada ibu Kafa


Ibu Kafa mengangguk dan tersenyum miring, dia menatap lekat Kafa yang sedang asyik mengobrol dengan Kafa kecil. Mereka berdua nampak sangat akrab. Setelah mereka selesai mencuci piringnya maka mereka berjalan ke arah meja makan.


"Apakah kau tak lelah?, jika kau mengantuk tidur saja di ranjang situ." ujar Ayah Kafa.


"Iya terimakasih ,aku hanya ingin mengobrol bersamanya sebentar lagi." jawab Kafa dan dia menatap ayahnya itu dengan tersenyum amat tulus. Lalu mengalihkan tatapannya ke arah Kafa kecil.


Namun Ayah Kafa hendak berniat buruk pada gadis itu, karena hari ini kedua orang tuanya itu akan berencana membunuh gadis bermata biru itu. Apapun yang terjadi, mereka berdua sudah menyiapkan rencana untuk membunuh nya. Karena waktu yang tepat sekali jika Kafa mati maka dia tak akan pernah bisa kembali ke masa depan lagi.


"Aku harap kau beristirahat, karena aku lihat kau amat kelelahan." bujuk ibu Kafa dan dia berpura-pura tersenyum amat lembut pada Kafa, agar dia mau termakan bujukan dan rayuannya juga.


"Sebentar lagi, aku pasti akan beristirahat." jawab Kafa, pada ibunya dan melanjukan mengobrol dengan Kafa kecil.


"Ya sudah , ibu dan ayah pergi kedalam dulu nanti kau istirahat juga ya." kata ibu Kafa dan berpura-pura memasang wajah senang pada gadis itu,sebenarnya ingin sekali menghabisi nyawa Kafa saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2