Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 123 "Sold Out"


__ADS_3

"Kak, aku sangat kagum pada Kak Dirga, dia sangat hebat dalam beladiri." ujar dari arwah anak kecil itu, dia berbisik di telinga Kafa .


"Oh, iya Dirga kenapa kau hebat sekali tadi?" tanya Kafa sembari menatap wajah Dirga yang berkeringat, di penuhi tetesan keringat dan berpeluh.


"Tentu saja, aku ini sabuk hitam Kafa mereka semua hanya pemanasan saja bagiku." seru Dirga menyombongkan dirinya, dia promosi pada Kafa.


"Ha..ha..ha... Baru kali ini aku tahu kau ahli beladiri..." jawab Kafa dan tertawa lepas.


"Oew, kau meledekku, aku memang sangat ahli !!" ujar Dirga dan memperlihatkan semua otot di lengannya pada Kafa.


Sontak bibi, arwah anak kecil, dan Kafa juga tersenyum melihat aksinya dari Dirga seperti anak kecil saja tidak mau kalah omongan.


"Thok..thok...thok...thok." suara pintu di ketuk beberapa kali.


"Lihat Kafa siapa yang datang?,jangan-jangan orang yang menawar rumahmu."ujar bibi Kafa


Lalu Kafa segera berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu agar tahu siapakah yang saat ini mengetuk pintu rumahnya.


Setelah itu pintu di buka ternyata memanglah benar ada dua orang yang saat ini berdiri di pintu luar,seorang wanita paruh baya dan satu pria dengan perut yang buncit mirip seorang


ibu hamil yang mengandung sembilan bulan.


"Hai, ini aku orang yang menawar rumahmu apakah kau pemiliknya?" tanya pria itu tanpa basa-basi lagi.

__ADS_1


Untuk beberapa detik Kafa terkejut dan hanya diam membisu,dan tak menjawab pertanyaan dari pria itu. Dia hanya sedikit melamun saja.


"Hei !!, kau ini tuli ya?, aku ini serius tapi kamu kenapa bengong saja !!" hardik pria berperut buncit itu, karena memang Kafa sedikit tidak bisa fokus melihat dandanan mereka berdua.


Terlihat sangat berlebihan, wanita yang saat ini berada di dekatnya pria berperut buncit itu, memakai rok merah dengan lipstick merah, ia memakai tas mahal bemerk internasional,dan banyak sekali perhiasannya yang kini ia pakai, mulai dari gelang sekitar ada 5, cincin, anting kalung, serta tindik di hidungnya ada berlian.


Terlihat kilaunya itu pun membuat silau mata, beberapa detik pun Kafa sudah tersadar dari lamunannya itu. Dan akhirnya mereka berdua di persilahkan masuk ke dalam rumahnya.


"Aku akan melihat-lihat rumah ini ya, sebelum aku deal membelinya." ujar pria itu, sembari menatap sekeliling rumahnya dengan rinci dan teliti sekali.


Semua sudut pun ia jelajahi dan tak ada yang terlewat sedikit pun sama sekali.Setelah puas mereka berdua duduk dan di temani oleh Bibi, Dirga, dan juga Kafa.


"Bagaimana dengan tawaranku??, karena hal ini sangat penting, oh ya rumahmu aku tawar dengan harga tinggi." ujarnya dan dengan menyalakan rokok di tangannya, lalu ia duduk menyilangkan kedua kakinya.


"Baiklah kalau begitu, ehm besok semua biar di urus dengan orang suruhanku uangnya aku transfer langsung ke rekeningmu." ujar dari pria itu, sembari menatap lekat satu sudut dari rumah Kafa yaitu kamar kedua orang tua nya.


"Baik, nanti sesegera mungkin aku bereskan barang-barang dari kedua orang tuaku." jawab Kafa dan menyalami pria itu.


"Pa, tapi kenapa kau membayarnya dengan harga tinggi?!, kau tak salah??" tanya dari istri pria berperut buncit itu, dan mencibirkan bibir nya ke arah suaminya.


"Tidak, aku rasa memang pantas rumah ini berada di depan amat luas, aku juga suka letaknya yang strategis." jawabnya dan tetap saja ia mengamati satu ruangan kamar kedua orang tua Kafa.


"Aneh sekali Pa, aku rasa rumahnya sangat lama dan juga usang, tidak seharusnya kau memberi harga tinggi." pekik dari istri pria itu.

__ADS_1


"Sudahlah, nanti kita bicarakan di rumah saja." potongnya dia karena tak mau lama-lama membahas masalah uang di depan Kafa.


"Baiklah kalau begitu kami kembali dulu ya.. karena masih ada urusan." ujar dari pria itu berpamitan kepada Kafa.


Setelah mereka pergi Dirga pun merasa agak curiga kenapa rumah Kafa laku dengan harga tinggi ,padahal bangunannya itu sangat tua.


Dan bisa di bilang harus di renovasi semua agar bisa layak ditinggali. Dirga pun melihat pria berperut buncit itu menatap ruangan dari orang tua Kafa. Maka ia pun berbisik padanya kalau Dirga ingin sekali masuk ke dalamnya.


Yaitu ruangan kedua orang tuanya Kafa, lalu gadis itu setelah mendengar bisikan Dirga tak merasa curiga. Namun ia menjawab semua rasa penasaran Dirga walau kini ada bibinya juga.


"Dengar, di dalam ruangan itu banyak foto dan kenangan semua orang tuaku saja, tidak ada yang spesial Dirga." ujar Kafa menepis semua kecurigaan pria itu.


"Tapi aku lihat pria itu menatap terus ruangan kamar orang tuamu Kafa." Dirga mencoba lagi meyakinkan Kafa agar ia mau untuk satu kali saja percaya pada perasaan curiga Dirga .


"Ehm, baiklah ayo kita masuk ke dalam kamar kedua orang tuaku." jawab Kafa dan berjalan beriringan dengan Dirga.


Setelah masuk kedalam kamar dia pun mulai menyalakan lampunya agar terlihat terang.Dia memperlihatkan ruangan pada Dirga semua foto masa kecil Kafa dengan kedua bola mata nya yang bewarna coklat, dan tidak bewarna biru. Dirga pun menatap lekat-lekat tiap foto yang terpajang di dinding juga di atas meja.


Dirga menatapnya dan sangat berbeda sama sekali dengan Kafa yang sekarang bermata biru langit. Yang membuat Kafa bisa melihat banyak makhluk halus itu.


"Kafa, sejak kapan kedua bola matamu itu bewarna biru seperti sekarang ?" tanya Dirga sambil memegangi salah satu foto Kafa, dan menatapnya lekat-lekat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2