
Saat keluar kamar Kafa secara tidak sengaja menabrak Susan,hingga bukunya itu yang di bawa olehnya jatuh ke lantai bawah.
"Maaf Kafa, aku tak sengaja memang buku apa itu tadi?" tanya Susan kepo pada Kafa.
"Ehm, itu buku tentang film horor Susan." ucap Kafa yang membohongi Susan, agar ia tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Benarkah aku rasa sepertinya bukan,ehm aku bantu ambilkan ya." ucap Susan sembari akan turun ke lantai bawah.
"Aduh, nanti kalau dia tahu judul bukunya dia akan tanya lagi nich..." gerutu dan gumamnya agak kebingungan karena Susan sudah turun untuk mengambil buku yang di baca Kafa.
Kafa amat kebingungan karena buku yang ia baca itu tentang makhluk halus menghisap darah perjaka, dan memakan jantungnya juga. Susan akan bertanya lebih dalam jika dia itu tahu buku yang di ambil olehnya saat ini.
Namun saat akan menyusul Susan, Dirga pun sudah berada hampir dekat dengannya, Kafa yang memerah pipinya canggung dan malu jika harus bertemu dengan Dirga.Buku yang tadi terjatuh di lantai bawah di bawa Dirga.
Dia berjalan mendekati Kafa sambil nyengir, karena merasa Kafa sedang menjahilinya.
"Apakah kau yang melempar buku ini?,hingga jatuh mengenai kepalaku." ucap Dirga sambil menyodorkan buku itu ke arah Kafa.
"Bukan, tadi tak sengaja jatuh ke bawah, tanya saja Susan?" ucap Kafa agak canggung dan menatap bibir Dirga dan menelan salivanya.
"Kau menatapku seperti itu,jangan-jangan kau mau meneruskannya lagi??" ujar Dirga sambil mencolek janggut Kafa dan tersenyum miring
"Apa yang kau bilang barusan itu?,sudahlah aku mengantuk besok pagi kita harus sekolah dan menyelidikki kasus kematian Ardi."ucap Kafa sembari berjalan ke arah kamarnya dan tidak mengindahkan Dirga sambil membawa buku di tangan kanannya.
__ADS_1
Namun Dirga membuntutinya dan menempel di sekitar gadis itu,sembari tersenyum manis.
"Jangan begitu, kau pergi ke kamarmu saja, dan lagi pula kamarku kecil Dirga." usir Kafa dengan mendorong tubuhnya yang kekar dan tinggi menjulang seperti pohon.Mereka saat ini seperti sebuah angka sebelas akan tetapi berbeda tingginya, karena Kafa lebih pendek dari Dirga, berbeda 20 cm membuatnya harus mendongak jika sedang berbicara.
"Tak mau, aku akan tidur di kamarmu saja." ucap Dirga sembari menyeret Kafa masuk ke dalam kamarnya dengan secepat kilat, Dirga pun merebahkan tubuh mungil Kafa di atas ranjang itu.
Merengkuhnya dengan erat sekali,dan karena kamar itu kecil hanya cukup untuk satu orang saja,terlebih tubuhnya Dirga tinggi maka kaki harus di tekuk,agar tidak menapak di lantai .
"Apa yang kau lakukan?,atau aku akan segera memukulmu dengan buku ini!"protesnya Kafa yang di peluk erat dan tidak bisa melepaskan.
"Ha.. pukulanmu itu hanya akan membuatku geli saja,aku tidak takut." ucap Dirga sambil meledek ,menjulurkan lidahnya ke arah Kafa
"Wleeekkk." ledek pria itu.
"Dengarkan jangan seperti ini,atau aku akan pindah dari rumahmu." ancam Kafa sambil menatapnya serius.
"Terserah kau, aku mau melanjutkan bacanya kau boleh tidur ya."bisik Kafa dan dia merasa malu tubuhnya di peluk erat oleh seorang pria
"Sebelum aku melepaskan mu,aku mau tanya padamu, apakah kau menerimaku karena aku rasa kau juga menyukaiku?" tanya Dirga dan menempelkan kepala Kafa di dadanya yang bidang dan lebar itu.Masih terdengar bunyi yang sama yaitu bunyi jantung yang berpacu dengan cepatnya.
Kafa pun malu jika ia melontarkan kata-kata maka ia pun mengangguk dan menundukkan wajahnya yang tirus,sembari merona pipinya.
Dirga pun sangat senang dengan anggukan Kafa menandakan kalau gadis bermata biru itu menerimanya sebagai kekasihnya.
__ADS_1
"Yessss...!" ujar Dirga.
Dia pun akan mengecup bibir Kafa ,dengan cepat dan sigap gadis itu menutup dengan bukunya lagi.Sehingga yang di cium adalah buku tebal yang akan di baca Kafa.
"Ckkk kau ini, baiklah aku menyerah aku mau tidur disini pokoknya."ucapnya Dirga sambil tersenyum meringkuk di kasur Kafa yang kecil dan terlihat kaki jenjangnya tertekuk ,terlihat tidak nyaman, namun dia masih bersikeras kalau akan tidur di kamar Kafa.
"Ya aku merasa lega." batinnya Dirga sambil menutup kedua kelopak matanya.
Kafa turun dari ranjangnya dan duduk di meja belajarnya, sembari meyalakan lampu belajar dan membuka buku yang akan ia baca.
IBLIS ini adalah rajanya para setan yang akan siap menyesatkan dengan segala tipu daya, beserta muslihatnya,dengan berbagai macam cara dia berhasil menghasut semua makhluk tak terkecuali manusia,dia juga bisa berwujud seperti manusia lainnya, dengan sihir dan tipu daya yang di milikkinya sangat menyesatkan semua makhluk hidup.Bahkan dia terkadang merubah wujudnya sebagai seekor ular besar dapat mengendalikan nafsu dan juga fikiran kotor manusia, jika ingin terlepas dari jeratnya maka semua perhatian dan fikiran kita harus bersih tak boleh mudah terpengaruh dan juga mudah terpedaya dengan bujuk rayuannya.
Di dalam sebuah kitab tertulis makhluk IBLIS akan merasa sombong dan juga angkuh,pada manusia karena sejatinya dia berasal dari api neraka yang tidak akan padam.Jika kau ingin memadamkan api itu maka harus mempunyai sifat sejernih air, setenang air, sesuci air, dan mengalir dari atas ke bawah.Karena sejatinya api yang berkobar itu akan bersifat memanjat ke atas terus,namun berlawanan dengan air ia tidak pernah merasa sombong mengalir dari atas ke bawah.Seperti hati yang bersih terus akan di liputi jiwa yang tenang, tidak pernah terpengaruh dengan segala bujuk rayuannya sang IBLIS dengan semua tipu daya dan juga muslihatnya yang menyesatkan.
"Hoammm..." menguap beberapa kali sudah lelah dan mengantuk.
Kafa pun menguap karena tidak terasa jika malam sudah kian larut.Pujul 02.00 wib dini hari terlihat Dirga terlelap dan meringkukkan tubuhnya di atas ranjang kecil miliknya Kafa.
Kafa menatapnya sembari tersenyum ke arah pria yang seperti anak-anak itu.Dia pun saat ini merasa haus ingin meminum sesuatu yang segar untuk mendinginkan kerongkongannya.
Terlihat hujan sudah berhenti hanya tinggal sisa-sisa tetesannya di permukaan daun, dan dahan pohon di sekitar rumah Dirga.Bau air hujan bercampur dengan tanah tercium pada hidung Kafa,aromanya yang khas membuat perasaan agak tenang,karena suara petir dan guntur tak lagi ada untuk sementara ini.
Dan juga sisa genangan air berlumpur di luar, hawa dingin masih tetap menyeruak,meliputi malam ini.Kafa menuruni tangga rumah Dirga dengan pelan-pelan karena kebetulan malam ini semua penghuni sudah tertidur amat pulas pelan-pelan Kafa berjalan ke arah Dapur,tidak mau membangunkan semua para penghuni rumah mewah Dirga.Saat dia akan membuka kulkas itu terlihat ada sebuah bayangan mulai telihat dari pintu dapur itu.Kafa pun mengikuti bayangan dan berjalan dengan pelan-pelan.
__ADS_1
Ternyata bayangan itu sudah hilang dengan sekejap mata,tepat hilang di sekitar ruangan kamar yang berbaris berderet-deret di lorong itu,terdengar samar-samar bunyi suara canda dan juga tawa,serta bunyi erangan magis dari sebuah kamar,entah kamar yang mana,karena ruangan kamar di rumah Dirga amat banyak seperti hotel.Kafa pun menempelkan kepala nya pada pintu ruangan itu satu-satu karena rasa penasarannya sangatlah tinggi,dengan sesuatu yang sudah hilang tadi membuatnya tak akan bisa tidur malam ini jika tak segera mengetahuinya.
Bersambung...