Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 90 "CCTV"


__ADS_3

"Awas saja, lain kali akan ku nikahkan kalian berdua, ha...ha...ha..., aku dan Kafa tak ada halangan hi..hi..hi.." batin Dirga saat ini dan sambil senyum-senyum sendirian.


"Kenapa kau tersenyum sendirian?,apa ada yang lucu?" tanya Kafa sambil melihat wajah Dirga yang memerah, karena dia terkena terik sinar matahari.Apalagi setelah dia berlatih maka tubuhnya penuh keringat.


"Tidak, lihatlah ikan kecil-kecil itu lucu kan?" ujar Dirga untuk mengalihkan pertanyaannya Kafa, agar tidak curiga kepadanya.


Saat membuat jus pembantu itu bergumam, karena merasa sangatlah aneh sekali kenapa juga tuan mudanya tak marah malah tertawa.


"Kenapa tuan muda malah senang?, idih aku kok ya gak paham dengan perilaku tuan muda itu." pembantu itu bergumam sambil mencibir dan selesai membuat jus alpukat kesukaan tuan mudanya itu.


"Apa ya tuan muda itu suka rumahnya di buat me*um orang lain?" gerutu dari pembantu itu dan menata jusnya di atas nampan siap di sajikan ke depan. Dia sambil menggelengkan kepalanya.


Dia pun berjalan sambil membawa dua jus. Berjalan dengan gayanya itu,pantatnya yang sintal bergoyang, saat berada di ruang tengah ia pun bertemu Susan dan Dokter Armand.


Susan mendekat dan melirik pembantu itu, dia mengambil jus alpukat itu dengan enak, dan juga sembarangan membuat pembantu itu agak kesal di buatnya.


Melirik sebal ke arah Susan yang tidak sopan main comot.


"Lho non, mohon maaf itu jus buat nona Kafa san tuan muda." sanggah sang pembantu itu.


"Kamu kan di gaji untuk bekerja, kenapa kau malah nyolot seperti itu?,sudahlah buat sana lagi ." ucap Susan dengan kasar dia pun mulai mengambil jus satunya dan di berikan kepada Dokter Armand sambil tersenyum.


"Hmmm... Baiklah non." jawab pembantu itu sambil sewot karena jus itu akan ia berikan kepada tuan mudanya.


Maka dia mau tidak mau membuat jus itu lagi ke dapur. Dengan sebal dan cemberut.


"Dasar wanita jal*ng tak punya sopan santun." batin dari pembantu itu, menggerutu karena main comot aja, minuman orang dengan tak sopan sama sekali.


Kafa dan Dirga masuk ke dalam rumahnya kali ini dengan ekspresi ingin tertawa, sedang Kafa pun langsung masuk kedalam kamarnya karena ingin berganti pakaiannya.


"Kenapa kau tersenyum begitu?" tanya Dokter.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu,di rumah ini banyak cctv nya jadi kalau kalian berbuat apa saja pasti aku itu mengetahuinya." ujar Dirga membuat Dokter dan Susan kebingungan. Sambil dia menahan tawa yang meledak kapan saja.


"Benarkah?, kenapa kau tidak bilang kalau di rumah ini banyak cctv nya." ucap Susan dia pun melihat sekeliling rumah Dirga yang amat luas sekali.Sambil merasa agak sebal karena setelah dia melakukan adegan panas dengan Dokter membuat sedikit malu jika Dirga tahu.


"Apakah kalian melakukan itu di rumahku ini?" tanya Dirga dengan nada menggoda Dokter Armand, Dokter pun menggerakkan beberapa kali kelopak matanya dan kebingungan.


"Apa yang kau maksud itu,aku tidak tahu??" sanggah Dokter dan memijit keningnya, dia berpura-pura pusing.Padahal sebenarnya dia amat kebingungan.


"Jangan berpura-pura tidak tahu kalau tidak aku akan memberitahu kepada Kafa."ancam Dirga dengan wajah serius, padahal dia ingin tertawa saat ini namun ia tahan sekuatnya.


"Iya-iya tapi jangan beritahu Kafa aku mohon ya Dirga." ucap Dokter Armand memohon ke Dirga dengan pipi yang memerah.


"Baik tapi ada satu syarat." ujar Dirga kepada Dokter.


"Apa itu?" tanya Dokter semakin kepo dan ia pun mendekat ke Dirga.


"Nikah saja Dokter, kau kan sudah tua nanti terlambat keburu lapuk,menjadi fosil iya kan." bisik Dirga tepat ke arah telinga Dokter, dia pun berdiri dan tersenyum girang karena dia merasa lega kalau saingannya telah hilang .


Dirga kabur ke dalam kamarnya secepat kilat, karena takut akan jadi samsak oleh Dokter.


"Dasar anak kurang ajar kau itu Dirgaaa!!!" umpat Dokter Armand sebal, dan Susan yang tahu Dokter agak marah kepada Dirga dia pun menyodorkan segelas jus alpukat dingin dan segar itu, untuk mendinginkan amarahnya.


Beberapa saat kemudian malam telah datang mereka berkumpul untuk makan malam, dan mereka ber empat itu sedang duduk di meja makan. Kafa di dekat Dirga sudah memakai baju tidurnya karena dia setelahnya, dia akan langsung tidur agar bisa beristirahat.


Menunggu hidangan dari pembantu Dirga. Dirga menatap Kafa memakai baju tidur itu.


"Kau akan langsung tidur?" tanya Dirga dan mengamati Kafa memakai baju tidur warna pink nya , nampak anggun dan cantik alami.


"Iya aku sudah lelah sekali, tapi aku sedang lapar." sambil mengelus perutnya yang sudah keroncongan.


"Iya kenapa lama sekali?,biasanya mereka tak seperti ini." gerutu Dirga sambil melihat piring kosong di atas meja.

__ADS_1


"Biiiiikkkk... lama sekali kami sudah lapaaaar!" teriak Dirga karena tumben, mereka semua agak lama menyajikan makan malam ,dan tidak seperti biasanya.


"Iya tuan muda sebentar lagi." ucap salah satu pembantu itu.


"Kenapa pembantumu itu agak lamban ya?" gerutu Susan sambil melirik pembantu yang mengetahui kegiatannya siang tadi. Sebal dia dengan pembantu Dirga karena sudah berani menyolot ke Susan membuatnya tidak begitu menyukainya.


"Sudahlah kita mengobrol saja, sambil kita menunggu hidangannya matang." ujar Dirga.


"Oh ya, Dirga kenapa kita harus merahasiakan kematian Ardi, kenapa Pak Kepala Sekolah itu seperti mencurigakan??" tanya Kafa dengan lirih agar tidak terdengar semua orang.


"Ssssttt, jangan keras-keras." ucap Dirga dan menyeret Kafa keluar rumah.


"Kenapa Dokter Armand tak boleh tahu, dan bagaimana kalau kita bertanya padanya dia kan seorang Dokter??" usul Kafa pada Dirga.


"Ehm, kita kan tak boleh memberitahu siapa pun, ini rahasia." ucap Dirga lirih pada Kafa.


"Tapi aku rasa ini bukan perbuatan manusia, ini ulah makhluk halus Dirga." bisik Kafa lalu Dirga pun bergidik ngeri, bulu romanya pun terasa berdemo karena memang kematian teman satu team nya itu secara tiba-tiba, dan sangat ganjil.


"Apakah tadi ada hal yang aneh dengan Ardi, sebelum dia meninggal?" telisiknya Kafa ingin tahu kalau ada hal yang terjadi sebelum Ardi meninggal secara mendadak.


"Ehmmm, coba aku ingat." ujar Dirga sambil mengingat-ingat apakah ada kejadian ganjil sebelum ia meninggal dunia .


"Cobalah mengingat, pasti ada sesuatu, aku sangat curiga kenapa kematian ini harus juga di rahasiakan?" Kafa merasa curiga dengan kejadian tadi siang, karena jika kematian itu benar-benar mendadak tidak ada keganjilan maka tidak perlu di rahasiakan.


Namun kematian salah satu team basket dari kelas Dirga,terbilang sangat naas dia adalah pria yang pendiam baik, dan tidak terlalu juga menonjol,dia adalah anak yatim piatu. Salah satu siswa yang berprestasi sama dengan hal nya Dirga, karena itu dia masih masuk di satu team dengan Dirga.


"Ardi, itu anak yang baik, pendiam, pintar, dan juga pandai." ucap Dirga, dia tetap berusaha berfikir kejadian apa yang telah terjadi saat sebelum kematiannya datang dengan begitu tiba-tiba dan juga ganjil, bahkan Dokter Ardan tak bisa mengetahui perihal akibat kematian dari Ardi.


"Ayolah, cobalah mengingat-ingat." ucap Kafa memberi semangat Dirga agar berusaha lebih keras untuk mengingat kejadian siang tadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2