
Setelah mereka memutuskan untuk kembali, maka Dirga merasa lega walaupun sebenar nya dia masih ketakutan.Ada dua hantu yang saat ini mendekati Dirga,akan menggodanya.
Hantu itu sedari tadi berterbangan di sekitar pria bertubuh jangkung, dan tegap itu.Karena mereka berada di dekat Dirga beberap kali dia meniup tengkuk Dirga.Pria itu merasakan ada yang aneh kali ini, kenapa sudah masuk tetapi masih saja tengkuknya terasa dingin dan juga meremang.Merasa aneh kenapa perasaan dia selalu tidak enak ,dia mulai angkat bicara.
"Kafa, kenapa tangkukku meremang?" tanya Dirga pada Kafa.
"Eh, memang kenapa kau takut??" tanya Kafa.
"Ya, karena kita sudah kembali tapi kenapa masih begini?, perasaanku juga tidak enak." ujar Dirga mereengek ke Kafa, sembari bibir nya yang seksi mengerucut.
"Kau, kan seorang pria ,kenapa kau terlihat seperti seorang gadis?" gerutu Kafa sambil menganggelengkan kepalanya.
"Iya aku pria, tapi kalau dengan makhluk halus aku takut." ujarnya dan celingukkan ke kanan kekiri, dengan berusaha melihatnya. Namun nihil karena dia tak bisa melihat maka dia tak mendapati apa-apa kecuali angin yang mulai berdesir di sekitar pohon kelengkeng.
"Dirgaaa...Kau disini, aku mencarimu kemana- mana!, eh... tidak tahunya asyik pacaran, kau ini, ayo kita ganti baju." ujar teman Dirga yang tiba-tiba nongol,dia pun meneyeret lengannya
Dirga melepaskan tangan temannya itu, dan menggerakkan beberapa kali kelopak mata nya ke arah Kafa.
"Nanti, kau lihat aku bertanding ya." ucapnya.
"Ehm, tidak aku mau disini saja mau berdiam, dan lagi nanti, banyak gadis akan mendekat kepadamu." gumam Kafa sambil meminum air mineralnya.
"Oh, kau merajuk...ayolah.." bujuk Dirga.
"Ayolaah, kau sudah di tunggu oleh banyak anggota team lainnya." teman Dirga menyeret dengan paksa ke arah kamar mandi.
Kafa tetap tak beranjak dari tempat duduknya, dia pun memilih mencari informasi yang lebih atas, kematian salah satu anggota team Dirga
"Hei,kalian berdua kemari, jangan menggoda para pria, aku tahu kalian mau mengintipkan?" gumam Kafa ,dan menyeringai ke arah para hantu itu, karena mereka tidak terlihat maka mereka lebih memilih untuk mengintip para siswa pria yang sedang berganti baju mereka di dalam kamar mandi.
"Baiklah, kenapa kau memanggil kami?" tanya salah satu hantu itu.
"Kau tahu, siapakah yang membunuh siswa yang bernama Ardi kemarin??" tanya Kafa.
__ADS_1
"Ehm, maaf kemarin kami tidak ke sini, kami sedang berada di sana." sambil menunjuk ke arah luar sekolahan.
"Apa kau bisa menanyakan pada temanmu, siapa tahu ada yang tahu ??" tanya Kafa lagi.
"Tapi, kalau penunggu gedung di belakang sekolah itu memang IBLIS, kami tak berani mendekat." ucap hantu itu sambil melayang- layang di udara.
"Apa ada hal lain lagi yang kalian ketahui?" tanya Kafa lagi dengan memandangi hantu itu.
Mereka berdua menggelengkan kepalanya,
secara bersamaan, mereka terlihat ketakutan.
"Apa yang bisa aku bantu pada kalian?, tetapi setelah itu berikan aku bantuan petunjuknya." ucap Kafa ingin saling membantu para hantu itu, agar bisa segera memecahkan kematian salah satu temannya.
Setelah beberapa menit kedua hantu memilih diam, namun setelah itu mereka berdua mau membuka suara mereka , membisikki telinga Kafa dengan pelan-pelan.
Setelah mereka berbisik-bisik dengan pelan mereka memilih pergi meninggalkan Kafa .
🍃🍃🍃🍃🍃
"Dokter, mau pergi kemana??" tanya Susan.
"Kau, aku ingin kembali pulang, kau mau ikut? tapi rumahku kecil tidak seperti rumah Dirga." ucap Dokter Armand, dan selesai mengemasi barang-barangnya.
"Boleh, tapi jika aku tinggal di rumah Dokter apa tak apa-apa??" tanya Susan dan seulas senyum tersimpul, di bibir ranumnya.
Dan dengan pandangan yang menggoda Dokter Armand.
"Tapi, lebih baik kau tinggal disini menemani Kafa, tak baik gadis sepertimu tinggal dengan pria tua sepertiku." Dokter Armand memberi peringatan pada Susan agar dia tidak terlalu dekat dengannya.
"Memangnya kenapa? , lebih baik ada yang menemani daripada kesepian, iya kan???" ujar Susan sambil menggoda, mencolekkan jari ke arah dada bidang Dokter Armand, menggigit bibirnya yang bawah.
"Aku bilang tidak baik, lagipula kau terbiasa hidup di luar negeri, kau kira aku tidak tahu?" ucap Dokter Armand, menepis jari Susan, dia pun memandang Dokter dengan pandangan tidak suka. Dan seraya menyeringai ,geram dengan tepisan tangan Dokter yang kasar padanya.
__ADS_1
"Kenapa menepis jariku seperti jijik padaku?, padahal kemarin kau tak seperti ini Dokter?" tanya Susan dengan melangkah maju, ke arah Dokter Armand.
Namun Dokter tak terlalu menghiraukan, dan pergi keluar ruangan itu.Sembari membawa barang-barangnya yang sudah di kemas rapi.
Susan pun merasa marah karena sekarang di abaikan oleh Dokter Armand.
"Sialan, dasar pria tua, beraninya dia berlaku seperti itu padaku...!!!" gerutu Susan dengan amat kesal padanya, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Setelah kemarin beraninya kau, huuuu sebal, sebal....!!!" sambil menghentakkan kakinya itu ke lantai porselen.
Merasa sangat sebal atas perlakuan Dokter yang dingin kepadanya, tidak sama dengan kemarin.Susan pun menyeringan dan terlihat mencari cara agar bisa membalas perlakuan Dokter Armand kepadanya.
"Awassss kau...!!!" sambil menyeringai.
🍃🍃🍃🍃🍃
Di sekolahan saat ini Dirga bertanding di atas lapangan basket , karena terlihat team Dirga adalah yang terkuat maka dia lebih unggul .
Tampak dia berkeringat meneteskan peluh, dan merasa gerah. Namun semua siswa tak tahu kalau salah satu team Dirga ada yang meninggal dunia yaitu Ardi.Mereka tidak ada yang bertanya ataupun membahas kejadian kemarin.Semua siswa siswi di sekolahan ini menikmati pertandingan olahraga.
Untuk memperebutkan juara pertama, Kafa hanya melihat dari kejauhan,duduk melihat keadaan sekitar namun tidak ada hal yang ganjil.Pertandingan berjalan lancar hari ini tidak ada korban ataupun pertengkaran.
Semua nampaknya akan baik-baik saja untuk sementara ini.Kafa melihat Dirga melihatnya untuk sejenak saja,dia pun menggodanya dari kejauhan dengan menutup kelopak matanya satu, ke arah Kafa. Sontak para anggota siswi dan semua cheer leader semua bersorak.
"Hu..huuuuu...."
Dan Berhuuu ria, karena melihat Dirga di atas lapangan, tepat di tengah lapangan basket itu memberikan kiss bye,Kafa sedikit terkejut dan merasa aneh juga canggung sekali.
"Apa yang dia lakukan??" batin Kafa.
Di hadapan banyak orang melakukan itu, Kafa merasa malu memerah pipinya,banyak sekali fans Dirga memandang Kafa saat ini, dengan pandangan tidak suka. Merasa mereka telah menemukan seorang mangsa karena sudah berani sekali berhubungan dekat dengan idola mereka. Kafa tak mengetahui pandangan tak suka itu, hanya cuek tidak mengindahkan.
Berpura-pura tidak mengetahui maksud dari para perempuan yang memandanginya saat ini.Kafa berpura-pura menyalakan musiknya di ponsel miliknya dan memakai head set.
__ADS_1
Bersambung...