
"Tapi kenapa tatapanmu seakan aku ini pria yang tidak baik..." gerutu Dirga dan mendekat ke arah kamar Kafa.
Dia duduk di di sebelah Kafa, dengan tatapan yang intens menamatkan wajah Kafa, dia pun kini menopang dagunya. Kafa mengernyitkan kedua alisnya dan merasa agak gugup takut ketahuan Dirga kalau kini Kafa mencurigainya kalau pria yang duduk di dekatnya adalah pria yang akan mencelakainya.
"Maaf Dirga aku tak bermaksud begitu." ucap Kafa dan berpura-pura lagi di hadapan Dirga.
"Kenapa kau meminta maaf?, aku hanya asal bicara,sudah kalau kau mengantuk tidur saja." saran Dirga dan menaikkan selimut Kafa agar menutupi tubuhnya yang ramping.
"Terimakasih Dirga." ujar Kafa
"Sama-sama..." jawab Dirga dan tersenyum ke arah Kafa.
"Apa yang sedang kau fikirkan?, kenapa aku merasa aneh...??" batin Kafa dan menyembu nyikan ekspresi wajahnya sebenarnya, karena dia mencurigai Dirga orang yang berniat akan membunuhnya saat ini.
Untuk beberapa saat ini dalam ruangan pun mulai senyap, Dirga mengganti film lainnya. Sedang Kafa membaca buku dengan asyik , mereka berdua untuk sementara waktu hanya saling diam. Dirga memakan camilannya dan menatap lekat film yang sedang di putar.
Kafa membaca buku yang membuatnya mulai terhanyut lalu dia pun terseret ke dalam alur cerita Novel sang penulis favoritnya itu.
Menikmati di semua keadaan dengan berani, dan tak itu saja dengan membaca sejenak dia bisa merileksasikan semua pikiran kalutnya .
"Aku harus bisa menenangkan diri, dan aku juga harus bisa terlihat tak curiga pada siapa pun juga." batin Kafa sambil membaca novel di tangannya.
__ADS_1
Kafa membaca tiap kata dari sang penulis itu, dengan gaya penulisannya, dan juga semua karakter yang ia bangun membuat gadis itu tak melewatkan sedikitpun kata atau goresan tangannya. Semua yang di tulis membuatnya terhanyut semakin dalam, lalu membuatnya masuk ke dalam buku yang ia baca.
Tidak terasa sedari tadi Dirga menatap wajah Kafa yang terlihat makin kurus, dan sangatlah tirus, Dirga menggeser makanan di dekatnya barulah tersadar kalau pria itu sudah berada di dekatnya sekarang.
"Kenapa kau sangat serius?" tanya Dirga dan dia tersenyum ke arah Kafa.
"Oh, maaf aku membaca buku ini hingga aku lupa waktu, apa kau sudah lama di dekatku??" tanya Kafa dia memberi tanda di bukunya itu agar tak terlewat.
"Apakah seru bukunya?, aku lihat kau sangat fokus dan tak menoleh sedikit pun." ujar Dirga lalu dia mengambil novel Kafa lalu menaruh nya di atas meja.
"Apa kau terganggu??" tanya Kafa yang masih ingin membaca novelnya.
"Bukan begitu, aku rasa ada baiknya jika kau tak membaca lama-lama, sekarang kau lebih baik istirahat dulu ok." ujar Dirga lalu dia pun tersenyum kecil, sambil membenahi selimut.
"Kau ingin kita melakukan apa biar kau tidak bosan?" ujar Dirga memandangi lekat wajah gadis itu.
"Aku hanya ingin membaca saja, aku masih ingin meneruskan buku novel itu." ujar Kafa sambil melirik ke arah buku yang di simpan Dirga itu.
"Aku tak mau kau sangat fokus, aku merasa kau mulai cuek padaku," gerutu Dirga dia ingin Kafa memberi perhatian padanya.
"Kan aku sedang membaca, dan kau sedang menonton televisi bukankah pas?" tanya Kafa
__ADS_1
"Aku ingin kita mengobrol, dan jangan terlalu cuek padaku." rengek Dirga seperti anak kecil
"Kau ingin mengobrol tentang apa Dirga?" tanya Kafa sambil tersenyum ke arah Kafa.
"Aku hanya ingin bercerita tentang masa kecil mu saja, bagaimana mau tidak?" tanya Dirga dengan antusias, sembari menatap wajahnya.
"Aku tak begitu ingat masa kecilku Dirga, aku sendiri sedikit bingung...." ujar Kafa dan dia menundukkan wajahnya.
"Maafkan aku, tapi aku sangatlah penasaran dengan semua ceritamu di masa kecil." ujar Dirga, lalu ia pun menggenggam erat jemari Kafa yang lembut itu, seperti jemari seorang putri.
"Maafkan aku ya Dirga, ada banyak hal aneh sering terjadi padaku, maka ingatanku banyak yang tidak jelas." ujar Kafa bersedih.
"Jangan begitu Kafa, aku menerima semua keadaan mu baik burukmu juga jadi jangan minta maaf kepadaku." rengek Dirga untuk menenangkan kekalutan dari Kafa saat ini.
"Aku hanya terlalu banyak merepotkanmu." ujar Kafa merasa tak enak, masih sungkan pada Dirga dengan semua perilakunya pada Kafa. Membuat banyak hutang budi kepada pria jangkung yang duduk di dekatnya saat ini
Untuk menenangkan fikiran Kafa berbaring dan menyelimuti tubuhnya. Berharap kedua kelopak matanya bisa menutup sejenak dan menikmati tidur siangnya,yang jarang sekali terjadi. Hanya jika Kafa itu benar-benar lelah, letih, dan berlibur sekolah maka hal itu wajib ia lakukan di siang hari. Kafa mulai menutup kedua kelopak matanya berharap saat tertidur dia tidak bermimpi buruk. Bahkan siang hari dia juga sering bermimpi aneh.
Karena sangat sering bermimpi buruk, Kafa berharap bisa normal menjalani kehidupan sama seperti dengan banyak orang lainnya.
Kafa tak mau mendapat kekuatan yang amat spesial yaitu dia bisa melihat semua makhluk gaib, bahkan dia juga bisa berbicara dengan para makhluk.Jika banyak orang Kafa sedikit lalai dan keceplosan maka dia berpura-pura mendengarkan headsetnya yang tak menyala. Agar banyak orang mengira kalau ia bercakap -cakap dengan temannya di ponsel miliknya.
__ADS_1
Bersambung...