Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 82 "Teman Kecil 2"


__ADS_3

"Dik, kau ini sedang berbicara dengan siapa?" tanya Kafa dengan mengelus-elus pundaknya pelan. Sambil memperhatikan makhluk halus itu bermuka pucat dan masih kecil berusia sekitar 6 tahun sama dengan anak yang saat ini mengajaknya berbincang dengannya.


Namun anak kecil itu tak menjawab dan juga tidak mengindahkan pertanyaan Kafa.


Tetap asyik mengobrol saja ,makhluk halus itu mulai terusik dengan kedatangan Kafa dia menatap tajam ke arahnya juga menyeringai.


Karena baginya Kafa hanya pengganggu dan karena merasa tidak suka dia pun mengusir.


Dengan cara halus bangku yang di duduki Kafa tiba-tiba pecah .


"Braaakkkk."


Semua orang pun memandang Kafa dengan pandangan aneh.


"Aduuuh, punggungku sakitnya." erang Kafa sambil memegangi pinggangnya . Dia pun bangun dari lantai.


Dokter Armand dengan seketika mendekati, membantunya untuk berdiri Kafa masih saja kesakitan karena tiba-tiba jatuh dengan kursi yang pecah.Dan mengelus pinggangnya.


"Kau tidak apa-apa? ,kenapa bisa jatuh apa kursinya sudah rusak?" tanya Dokter Armand.


"Oh, kursi disini tidak mungkin rusak gadis ini aku rasa agak ceroboh." ujar salah satu orang yang tiba-tiba mendekat dengan tatapan aneh


"Bu Alma, aku kira rusak lihatlah gadis ini tidak ceroboh sama sekali." gerutu Dokter dan memandang Kafa yang masih meringis sakit.


"Benarkah?,kalau begitu anggaplah demikian maafkan aku ya." ucap Bu Alma itu dengan tersenyum miring sambil menunduk tidak di ketahui oleh siapapun.


Kafa memilih agak menjauh dari kerumunan, karena dia merasa jika mendekati anak kecil itu maka dia akan mengganggu lagi .


Dokter Armand pun berdiri dan memandang Kafa yang terlihat agak melamun, padahal ia sebenarnya mengamati gerak-gerik pria kecil tadi.Dia masih asyik mengobrol namun aneh para penghuni gedung itu mengabaikan anak itu. Dengan demikian Kafa mulai berfikir.


"Kenapa bisa begitu ya?,dan apa yang terjadi disini??" ucap Kafa dengan lirih tidak sengaja di dengar Dokter yang berada tidak jauh dari dirinya saat ini.


"Kenapa kau bergumam sendirian disini hm?" tanya Dokter Armand ,karena hal itu Kafa pun mau tidak mau harus menceritakannya.

__ADS_1


"Begini Dokter,anda tahu anak kecil yang itu." sambil melirik ke arah anak kecil itu dia masih tetap bermain pasir, dan berbincang dengan makhluk halus itu.


"Oh, kenapa?,dia sedang mengobrol dengan makhluk yang bukan manusia?" tanya Dokter.


Kafa mengangguk dengan mantapnya, dia menatap wajahnya Dokter Armand agak takut terlihat pucat. Karena Dokter terakhir kalinya kalau mengalamai hal mistis saat di rawat di rumah sakit yang angker itu.


"Jangan bilang kalau disini, juga ada banyak hantunya?" ucap Dokter mengelus dada dan celingukkan ke arah kanan dan kiri.


"Tidak Dokter, aku hanya melihat satu tetapi anehnya kenapa semua penghuni di sini itu mengabaikan anak kecil itu??" gumam Kafa .


"Eehm, aku kurang paham, aku belum lama hanya beberapa kali saja ke panti asuhan ini." ucap Dokter Armand agak ketakutan karena hawa mulai berganti seperti tiba-tiba dingin.


Angin di luaran seenaknya berhembus lalu, semua dahan-dahan kering juga daun yang rontok di terpa angin mulai berhambur.


Mereka tak karuan bertebaran sana-sini, tapi Kafa tetap mengamati anak kecil tadi maka ia pun menatap lekat ke arah Kafa ,menyeringai dan tertawa terbahak-bahak seakan meledek .


"Ha...ha..ha...ha." tawanya terdengar sampai di luar.


"Lihatlah Dokter, bukankah aneh semua orang seolah tidak tahu padahal jelas-jelas ini amat aneh ya kan??" tanya Kafa dengan menatap Dokter Armand yang semakin pucat.


"Jangan bilang kalau kita itu harus berurusan dengan makhluk halus lagi?" gerutu Dokter dengan sebal, karena dia adalah seorang pria yang penakut dengan hal-hal demikian.


"Apa kita pulang saja?, atau kita akan berlama - lama disini Dokter." ajak Kafa agar Dokter percaya padanya , sebaiknya harus segera pulang .


"Auwwww...auuuw..." lolongan serigala tiba- tiba ada di sekitaran panti asuhan itu .


"Kenapa suasana disini mencekam sekali?" gumam Dokter Armand dengan cepat pun dia mengajak Kafa masuk ke dalam mobilnya.


Saat akan menyalakan mobilnya semua para penghuni berjejer rapi menyeringai, dengan pandangan tidak suka, dan mereka menatap dengan pandangan dingin dan juga seperti merasa terusik .


Dokter Armand mengendarai mobilnya amat kencang, karena kejadian yang di rumah sakit pernah ia alami membuat Dokter tidak mau terulang kembali. Saat di jalan masih banyak anak kecil menghadang Dokter Agar tak bisa lewat.Mereka semua berdiri dengan tatapan melotot, sepertinya mereka bukanlah seorang manusia saja.Atau mereka ini dalam keadaan kerasukan makhluk halus.


"Ciiiit..." ban mobil berdecit di rem mendadak oleh Dokter Armand ,jika kencang menabrak orang maka sangat berbahaya.

__ADS_1


"Bagaimana ini Kafa?!" Dokter Armand saat ini bingung.


Mereka semua mengerumuni mobil dan mulai menggedor pintu dan kaca mobilnya.


"Dooor...dooor...door..." Mereka semua anak- anak itu ada yang naik ke atas atap mobilnya.


Degup jantung Dokter Armand dan juga Kafa berpacu dag dig dug tak menentu. Keadaan sekarang sangat mengerikan dari depan pun ada seorang wanita berambut panjang sekali.


Dengan gaun bewarna merah yang menyala nampak dari kejauhan membawa sekop, dia menyeretnya dari jalanan aspalt yang sepi .


"Sreeekkkkk..... sreeekkk..." bunyi sekop yang bergesekkan di atas aspalt dengan tatapan yang dingin juga menyeramkan dia itu mulai mendekati mobilnya Dokter Armand.


Kafa melihatnya dengan seksama karena dia adalah wanita yang pernah dalam mimpi Kafa menghunus dengan pisau tajam.Dia menatap lekat wajah wanita itu dan tidak salah lagi, ia adalah wanita yang pernah bertamu ke klinik Dokter Armand.Tapi kenapa saat ini wanita itu membawa sekop dan seakan dimatanya.


Bahwa ia akan membunuh Dokter dan juga Kafa.Wanita itu pun mulai memukulkan sekop ke atas mobilnya agar kaca depannya segera pecah.


"Buakkkk....Buakkk...."


Hanya dua kali pukulan sekop maka kacanya bisa di pastikan kalau akan pecah.


"Pyaaaar...." kaca mobil depan pecah Dokter harus mendapatkan beberapa luka sayatan di mukanya, darah pun menetes segar .


Kafa bingung harus melakukan apa karena , dia berfikir bisa saja hanya mimpi ,namun jika mimpi kenapa Dokter Armand berdarah dan terluka seperti kenyataan .


Kafa memejamkan matanya untuk beberapa detik, dan membukanya tapi ternyata semua ini adalah hal yang nyata bukan hanya mimpi.


Kafa pun menelefon Dirga secepatnya agar bisa mendapat bantuan. Beberapa kali dia mencoba menghubungi nomer yang baru .


"Hallo ada apa Kafa?" jawab Dirga.


"Kemarilah aku mohon, cepat bawa mobilmu aku dan Dokter Armand dalam bahaya." ucap Kafa dia pun mengirim alamat tempat mereka sekarang, kemudian mematikan ponselnya .


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2