
"Pyaaaar...." kaca mobil depan pecah Dokter harus mendapatkan beberapa luka sayatan di mukanya, darah pun menetes segar .
Kafa bingung harus melakukan apa karena , dia berfikir bisa saja hanya mimpi ,namun jika mimpi kenapa Dokter Armand berdarah dan terluka seperti kenyataan .
Kafa memejamkan matanya untuk beberapa detik, dan membukanya tapi ternyata semua ini adalah hal yang nyata bukan hanya mimpi.
Kafa pun menelefon Dirga secepatnya agar bisa mendapat bantuan. Beberapa kali dia mencoba menghubungi nomer yang baru .
"Hallo ada apa Kafa?" jawab Dirga.
"Kemarilah aku mohon, cepat bawa mobilmu aku dan Dokter Armand dalam bahaya." ucap Kafa dia pun mengirim alamat tempat mereka sekarang, kemudian mematikan ponselnya .
Wanita itu pun menatap lekat wajah Dokter dengan mata merahnya yang menyala seperti manik mata seekor ular besar yang menyala di dalam kegelapan. Langit pun mendung dan suasana mencekam,udara dan angin yang tak menentu membuat Kafa dan Dokter semakin ketakutan. Dingin menggigit sampai tulang .
Semua para anak kecil tadi ternyata berubah menjadi ular kecil-kecil,sontak Dokter Armand pingsan melihatnya. Dan wanita yang berada di depan membawa sekop berubah menjadi ular besar dengan mata merah yang menyala.
Membuat Kafa bergidik gerika, sisiknya yang keras sekali seperti cangkang kerang, dia pun mendesis dan berucap layaknya manusia .
"Shhhshhhhssshh...." mendesis seperti seekor ular, namun karena ini adalah ular berukuran besar maka suaranya itu amat menyeramkan
"Hari ini aku akan mendapatkan ragamu, dan juga mendapatkan sebuah jantung indah !!"
"Shhhhssshhhsss."mendesis dengan menjulur kan lidahnya yang panjang.
"Kau boleh, ambil nyawaku dan ragaku, tapi lepaskan Dokter ini dia tak bersalah jika kau mau aku saja yang kau bawa." ujar Kafa dan bibirnya bergetar hebat karena ketakutan dia menatap ular besar dengan mata merah yang menyala.Dengan ketakutan, telapak tangan berkeringat dingin.
"Ha...ha...ha..." tawa nya terdengar jelas dan juga memekikkan telinga.
"Beraninya manusia bernegosiasi denganku, aku ini IBLIS,kenapa aku haruslah memenuhi kemauan manusia rendahan...?!"ujarnya dan dengan emosi dia pun mengibaskan ekornya dengan sekuat tenaganya maka sontak satu pohon tumbang.
"Kretek...kretekk.... Buarkkkk..." suara pohon tumbang .
"Lalu apa maumu IBLIS?" tanya Kafa dan ia pun menatap mata sang IBLIS dengan amat tajam, dia pun menatap lekat dan membuat sang IBLIS tiba-tiba merintih kesakitan .
__ADS_1
"Argh... argh...argh.... panas....sakit, sakit!!" rintih sang IBLIS itu dia pun berubah wujud menjadi manusia lagi.
Kafa pun menggoyang tubuh Dokter Armand agar dia terbangun dari pingsannya, namun ia tetap tidak sadarkan diri. Kafa kebetulan tidak bisa mengendarai mobil,maka dia hanya bisa menunggu Dirga datang secepatnya.
Wanita itu di jalanan berguling-guling sakit . juga merintih entah apa yang terjadi saat ini dia kesakitan, sebenarnya ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri,namun karena Dokter Armand pingsan tidak ada pilihan lain
"Drrrt...drrt...drrt..." ponsel Kafa bergetar.
"Hallo, Dirga iya ini aku, kapan kau datang?" tanya Kafa dengan gugup tangannya pun berkeringat dingin.
"Hem, sebentar lagi ini aku sudah dekat dan kebetulan aku tidak jauh dari lokasimu." ucap Dirga ,sembari memutar kemudi di lihatnya ada mobil Dokter Armand berhenti di tengah jalan.
Dia akhirnya tiba tepat waktu, di dekat mobil Dokter, dan segera memindahkan Dokter yang sedang pingsan tidak sadarkan diri.
Lalu dengan cepat meninggalkan mobilnya, dengan begitu saja, ular kecil-kecil itu juga tak ada menghilang dengan begitu saja .
Mereka bertiga pun lalu meninggalkan iblis kembali ke arah berlawanan, menuju kota dan Dirga akan membawa Dokter Armand juga Kafa ke rumahnya agar merasa lebih aman .
"Siapa pria ini??" tanya Susan sambil melihat wajah Dokter Armand.
Dirga yang sedang membopongnya tak mau menghiraukan pertanyaan Susan, dan lebih memilih untuk merebahkan tubuh Dokter itu di kamar tamu.Akhirnya berhasil juga dengan susah payahnya.
"Ha... pegalnya." sambil menepuk beberapa kali pundak Dirga karena merasa tubuhnya Dokter Armand sangat berat.
Setelah menyelimuti tubuh Dokter, Kafa pun keluar mendekati Dirga yang duduk di meja makan, sembari meminum air putih .
"Maafkan aku Dirga, karena aku merepotkan." ucap Kafa sembari menggosok-gosok telapak tangannya yang kedinginan.
"Ini mimumlah, aku rasa kau pasti ketakutan." sembari memberi teh hangat untuknya.
"Terimakasih." jawab Kafa memelas.
Kafa pun sejenak terdiam, masih terbayang jelas di matanya tadi ada seorang wanita itu bisa berubah menjadi seekor ular yang sangat besar, beruntung hari ini dia lolos olehnya .
__ADS_1
Dia bergidik ngeri sekaligus terkejut dengan apa yang dia lihat tadi. Masih tidak percaya.
Kafa terkejut dengan kejadian ganjil di depan matanya. Benar-benar nyata jikalau seorang wanita yang bisa merubah wujudnya menjadi seekor ular besar dengan dua manik matanya yang merah menyala,dengan sorot matanya tajam seperti sebuah senter.Masih berada di dalam ingatannya dengan jelas sekali.
Dirga memegang kedua tanganya dengan lembut, dan bersuara agak lirih agar tidak mengejutkan gadis bermata biru itu.
"Kau mau tidur?, atau mau bercerita tentang apa yang kau alami tadi?" tanya Dirga mulai membuat lamunan Kafa hilang, dia tersadar akan bayangan perubahan wujud ular tadi .
"Ehm,maafkan aku Dirga aku masih ketakutan karena tadi yang ku lihat itu bagiku, bagaikan mimpi ." ucap Kafa dengan bibir biru dingin dan bergetar ketakutan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menemani di sini, atau aku antar kau ke kamar mu." ucap Dirga dengan suaranya yang lembut dan lirih.
"Aku mau disini saja." jawab Kafa
"Apakah kau ingin menunggu Dokter Armand sadar?" tanya Dirga dengan suara lembut.
Kafa mengangguk dengan pelan, Susan dan Dirga duduk di sampingnya menemani agar dia tak ketakutan, Dokter Armand masih tetap pingsan belum sadarkan diri.
Pembantu Dirga menyajikan makan malam di meja makannya, karena waktu menunjukkan pukul 20.00 wib waktu untuk makan malam telah tiba. Dan setelah menyajikan makanan di atas meja membungkukkan dirinya pamit.
"Ayo makan malam dulu, nanti Dokter Armand akan sadar, aku rasa dia hanya terkejut saja." ajakan Dirga untuk makan malam, karena ini sudah malam dan waktunya untuk makan dan beristirahat.
Kafa mengangguk, makan bersama Dirga dan Susan.Setelahnya memilih untuk menunggu Dokter Armand tersadar, karena dia sangatlah khawatir jika terjadi sesuatu pada Dokter yang belum tersadar dari pingsannya.
Mereka bertiga lalu duduk menunggu Dokter bangun dari pingsannya.
Beberapa menit kemudian Dokter pun mulai membuka kelopak matanya dengan lebarnya.
"Ular...ular...ulaaaar...!!!" teriak Dokter Armand.
Suaranya yang kencang dan terlihat sangat shock berat,karena apa yang di lihat tadi amat membuatnya masih terkejut dan di luar nalar nya sebagai seorang dokter.
Bersambung...
__ADS_1