Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 127 "Orang tua palsu"


__ADS_3

Kafa mengingat Kafa kecil memberinya tanda agar dia segera pergi dari rumah itu, dia pun mengetahui kalau ada bahaya yang saat ini diam-diam mengintainya. Terlebih saat tadi cangkir yang berisi teh itu di senggol dengan sengaja oleh Kafa kecil menandakan kalau itu pasti ada racunnya. Dia tersadar kalau kedua orang tuanya bukannlah yang sesungguhnya dan hanya tipuan saja. Mereka berdua sedang menyamar untuk mencelakai Kafa.


"Siapa mereka berdua?, kenapa dalam masa lalu mereka bisa ada?, juga bisa menyamar ." batin Kafa curiga pada kedua orang tuanya yang hanya samaran.


"Aku tak akan terkecoh lagi, ha... aku harus tahu sejak kapan kedua bola mataku bisa berubah warna menjadi biru?" batin Kafa lagi.


Saat ini di ruang Dokter bingung karena Kafa masih belum sadar, dan dia belum kembali ke masa sekarangnya. Dirga memegang tangan Kafa yang memucat bewarna kebiruan, dan bibirnya terlihat bewarna putih pucat seperti anak yang sedang sakit.Tubuhnya pun terasa dingin sekali.


"Bagaimana ini Dokter?, lihatlah, kau harus tanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada Kafa!" hardik Dirga sangat kesal pada Dokter karena sampai detik ini Kafa masih sadarkan diri.


"Maafkan aku, baru kali ini ada pasien seperti ini, biasanya mereka akan mudah sadar jika aku membunyikan ini." ujar Dokter itu terlihat makin gugup karena wajah Kafa sudah pucat.


"Aku akan menuntutmu jika sampai terjadi sesuatu kepada Kafa !!" hardik Dirga marah, karena Kafa belum juga terbangun .


"Baiklah, aku akan berusaha membangun kan gadis ini, tapi aku rasa dia bukan tidak bisa , tapi tak mau bangun." ujar Dokter itu kepada Dirga, dia mengernyitkan kedua alisnya.


"Seharusnya aku tadi tak menuruti gadis ini, lihatlah dia semakin pucat, bagaimana ini??" uajr Dirga, semakin khawatir dia pun berjalan mondar-mandir kebingungan.


Dia beberapa kali memijat keningnya, dan dia mneggaruk rambutnya karena tak tahu harus berbuat apa. Beberapa kali melihat wajahnya gadis yang ia cintai semakin pucat.


"Kafa bangunlah, kenapa kau selalu bertindak membahayakan dirimu??" Dirga duduk dan ia menggenggam erat jemari Kafa yang dingin semakin pucat itu.


"Aku ingin kau bahagia, sama seperti gadis lain, tak bersedih sama sekali, bangun yaaa.." ujar Dirga dengan nada lembut juga penuh perasaan.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


Namun saat ini Kafa masuk dalam ruangan dan dia pun mencium aroma dari lilin yang menyengat. Seketika dia pun tertidur karena lilin itu jebakan untuknya agar ia terlelap dan tak sadarkan diri.


Karena kedua orang tua Kafa mempunyai rencana yang tidak baik padanya. Kafa pun langsung terkulai lemas di lantai. Dan dia di pindahkan oleh Ayahnya .


Setelah ia merebah di dalam kamarnya, ibu Kafa duduk di samping kamar, menyeringai dan menatapnya penuh kebencian yang amat mendalam. Kafa pun menutup kedua kelopak matanya yang cantik. Dia dalam bahaya.


"Bagaimana apa kita akhiri saja sekarang?" tanya ayah Kafa, dengan menyeringai dan tersenyum miring.


"Tunggu, jangan gegabah, biarkan saja dulu, lihatlah dia sudah tak sadar." jawab ibu Kafa.


"He..he..he..." terkekeh dengan puas karena sebentar lagi mereka berdu bisa membunuh Kafa dengan bebas.


Di balik celah ruangan itu Kafa kecil melihat kedua orang tuanya, ingin berbuat macam- macam, dia pun mencari sebuah cara agar Kafa dewasa itu bisa terlepas dari ancaman besar yang akan merenggut nyawanya itu.


"Namanya sama denganku?" batin Kafa kecil.


Untuk beberapa menit kemudian kedua orang tua Kafa keluar dari kamar. Mereka berdua itu hendak membunuh Kafa setelah kembali dari ruang dapur. Sebelum kembali Kafa kecil pun memanfaatkan keaadaan saat ini berusaha sebisanya, membangunkan Kafa besar.


Dia menggoyang tubuh Kafa dewasa untuk membangunkannya, beberapa kali dia agar segera terbangun.


"Kak, ayo bangun kau dalam bahaya!!!, hanya ini yang bisa aku lakukan padamu, pergilah sejauh mungkin !" pekik Kafa kecil dan tetap mengguncang tubuh Kafa dewasa bangun.

__ADS_1


Untuk beberapa kali akhirnya kedua kelopak mata Kafa pun terbuka dan melihat ada gadis kecil berada di hadapannya. Dia menggosok beberapa kali dengan perlahan.


"Ada apa?" tanya Kafa dewasa dengan lembut.


Akhirnya setelah Kafa kecil bercerita maka ia pun melarikan diri lewat jendela kamarnya itu. Dengan di bantu oleh Kafa kecil. Setelah dia berhasil lepas dari jerat kedua orang tua palsu


Kafa berusaha terbangun dari hipnotis Pak Dokter, agar dia bisa terlepas dari jerat kedua orang tua palsunya saat ini, yang siap akan membunuhnya kapan saja.


Untuk beberapa detik kemudian Kafa sadar dan membuka kelopak matanya kalau dia kini sudah dalam masa depannya. Dirga dengan sabar menunggunya di samping gadis itu.


"Dirga, maafkan aku ya telah membuatmu khawatir." suara Kafa terdengar lembut, dan wajahnya yang cantik namun pucat sudah terlihat oleh pria tampan itu .


"Syukurlah, kau terbangun." ucap Dirga lalu ia memeluk erat Kafa yang baru bangun, dengan Kafa yang tersadar sepenuhnya, Dirga pun sangat senang berharap Kafa tak mengulangi hal serupa.


Untuk beberapa menit kemudian Dirga lalu dengan tergesa-gesa mengajak Kafa pergi dari tempat Dokter hipnotis itu. Karena dia sangat muak membahayakan nyawa Kafa.


Hingga sempat tubuh Kafa memucat, sampai kekurangan oksigen juga. Membuatnya Dirga juga kesal tak bisa membangunkan atas ulag Dokter yang tak bertanggung jawab itu.


"Kenapa kau terlihat marah?" tanya Kafa.


"Siapa yang tak marah?, kau hampir mati, dan aku tak menyukai hal itu !!" gerutu Dirga dan menekuk kedua alisnya yang tebal.


"Kau tahu Dokter itu, hanya diam tidak mau melakukan apa-apa?, dasar dokter gadungan!" gerutu Dirga mengumpat, dengan kesal.

__ADS_1


"Sudah-sudah, jangan marah ya,sekarang aku kan sudah sadar." bujuk Kafa agar pria itu tak marah lagi.


Bersambung...


__ADS_2