Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 105 "Kantor Polisi"


__ADS_3

"Sudahlah makanlah sarapanmu,dan setelah ini kita ke kantor polisi." ujar Dirga mengelus rambut Kafa yang panjang terurai.


Kafa heran kenapa Dirga sangat bersemangat juga amat sumringah, aneh sekali jika setelah kejadian tadi malam seharusnya dia merasa agak khawatir juga sedih, Kafa menatapnya lekat-lekat apa gerangan yang sudah terjadi pada pria ini yang tiba-tiba sangat semangat.


"Kenapa kau menatap seperti itu?" tanyanya.


"Aneh, kenapa kau mencurigakan sekali?" tanya Kafa.


"Aku lega, pelaku yang berani menusukmu itu sudah tertangkap, kenapa kau itu manatapku seperti seakan aku ini aneh??" gerutu Dirga,ia pun menatap balik Kafa dan menggodanya dengan mengetipkan matanya yang sebelah.


"Ting..."


"Dasar kau ini Dirga aneh..." ujar Kafa lalu dia menggelengkan kepalanya ke arah pria itu.


Setelah mereka berdua menghabiskan makan sarapan pagi, mereka berdua bergegas pergi ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian.


Dirga membawa mobil warna biru nya karena pinggang Kafa yang masih sakit, maka dia tak membawa motor kesayangannya.


Beberapa menit kemudian Kafa dan Dirga itu sudah berada di dalam kantor polisi, mereka di mintai keterangan yang jelas untuk perihal kejadian malam tadi, malam tentang pencuri an dan juga penusukkan salah seorang gadis yaitu Kafa. Dirga dan juga Kafa memberikan semua pernyataan yang terkait tadi malam dengan jelas dan sebenar-benarnya.


Setelah memberi kesaksian Dirga sekarang ia berbincang dengan orang suruhannya,sedang Kafa masih memberi kesaksian kepada polisi.


"Tuan muda,tadi malam pencuri itu tergeletak di jalanan, sudah tak sadarkan diri." bisik sang pesuruh Dirga,ke telinganya Dirga agar tak di dengar orang lain.


"Benarkah?, beruntung sekali kau jadi lebih muda menangkapnya." jawab Dirga lalu dia mencibirkan bibirnya.


"Aku rasa ada orang lain lagi yang tahu tuan muda." ucap orang suruhan Dirga, dan dia pun mengernyitkan kedua alisnya.


"Sudahlah, jangan ambil pusing." ujar Dirga.


"Kau boleh pergi, nanti kalau ada pekerjaan lagi kau akan aku hubungi ok." ucap Dirga lalu dia menepuk pundaknya beberapa kali , dan berjalan mendekati Kafa.

__ADS_1


"Apakah sudah selesai?" tanya Dirga ke bapak polisi itu, melihat wajahnya yang dirasa tidak asing baginya, pernah bertemu sebelumnya.


"Pak?,oh ya, apakah kita ini pernah bertemu sebelumnya ??" tanya Dirga sambil duduk di sebelah Kafa dan menatap lekat wajah bapak polisi itu.


"Oh, kau itu Dirga , teman anakku, aku ini ayah dari temanmu waktu di SMP, nama nya Haris ingat tidak??" tanya dari pak polisi itu, dengan wajahnya yang sumringah, menatap wajahnya Dirga saat ini.


"Oh iya pak, aku ingat...." jawab Dirga .


Saat Dirga berbincang dengan pak polisi, dan kebetulan Kafa ingin menemui seseorang dia pun berjalan untuk mengunjunginya, sekalian pas pergi ke kantor polisi ini dan dia bertemu dengan orang itu.


Setelah menunggu beberapa menit saja orang yang telah di tunggunya itu,sekarang ia duduk di depannya.Seorang wanita yang raut wajah nya sendu, terlihat sering menangis jika saat tak banyak orang melihatnya, mungkin pada malam hari dia sering menjatuhkan air mata kesedihan, tidak terasa wajahnya itu semakin terlihat sedih. Dengan memakai baju seragam tahanan dari kantor polisi dia tertunduk lemas


Dia tahu saat ini dia kedatangan tamu, Kafa itu adalah tetangganya tepat samping rumah nya, walaupun dia lebih sering memeberikan cerita sedih, dan juga keributan membuatnya sering tak bisa tidur. Tapi Kafa tidak pernah membenci wanita itu, malah merasa sangat iba, karena takdir yang di milikkinya amatlah sedih dan juga sangat menyakitkan.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Kafa dan menatap wajah Bu Khotimah dengan hangat agar dia merasa baikan, ada yang masih mau mendemgarkan keluh kesahnya.


"Baik, terimakasih yaa Kafa karena kau mau mengunjungiku." ucap Bu Khotimah, dengan lirih sekali, dia masih saja menunduk tak mau memperlihatkan wajahnya ke arah Kafa.


"Iya terimakasih banyak Kafa." jawab dari Bu Khotimah, dia pun meneteskan air matanya .


Walaupun sudah di tahannya dengan sekuat tenaga, tapi dia masih saja tak bisa menahan lagi, dia pun meneteskan air mata kesedihan dan juga kepedihan yang selama ini dia rasa kan. Teramat besar seperti luka yang seenak nya melubangi hati kecilnya, membuat wanita itu saat ini tak berdaya lagi menghadapi nasib buruk yang ia jalani dalam kehidupannya.


Kafa hanya bisa diam tidak bisa menghibur,ia hanya tertunduk diam penuh kesedihan juga.


Karena tentunya dia tak bisa membantunya banyak,ataupun memberikan solusi bagi Bu Khotimah.


🍃🍃🍃🍃🍃


Flash Back


Saat pembunuhan suami Bu Khotimah terjadi, Kafa dan Dirga belum ada di rumah Kafa.

__ADS_1


Pembunuhan itu terjadi satu jam sebelumnya, mereka berdua masih belum datang ke rumah Kafa. Saat Bu Khotimah sedang memasak di dapurnya. Anak pertama Bu Khotimah yang dari pernikahan sebelumnya.


Dia bertengkar hebat dengan bapak tirinya itu, dia dipukul dan juga di tendang olehnya maka anak itu segera membalas dengan menusuk pisau tajam ke arahnya. Namun beruntungnya pegangan dari pisau berbalut kantong plastik. Sidik jarinya tidak menempel di pisau ataupun pegangannya. Dia amat beruntung sekali.


Ibu Khotimah segera membakar plastik dan memberikan sidik jarinya ke pisau itu agar dia lah sang pelaku pembunuhan sebenarnya.


Dan Kafa sudah tahu kalau yang membunuh bukan lah Ibu Khotimah.


Namun karena ibunya tidak ingin anaknya itu menjadi seorang pembunuh. Maka statusnya kini menjadi pembunuh dan sebagai seorang narapidana, tentu di berikan padanya.


Sungguh nasib yang naas juga tragis sekali bagi seorang ibu yang sangatlah menyayangi anaknya.Demi cintanya yang besar pada sang anak dia berkorban agar ia masih mempunyai masa depan. Sekarang anak-anaknya berada di panti asuhan agar mereka bisa menjadikan dirinya lebih baik lagi. Sekolah dan di bimbing banyak orang yang baik pada mereka semua.


🍃🍃🍃🍃🍃


"Sama-sama Bu Khotimah, saya harap anda bisa menjaga kesehatan anda ya." ucap Kafa lirih dan sopan, suaranya yang anggun dan terdengar lembut.


"Janji ya ,jangan cerita siapa-siapa hanya kau yang tahu kejadian sebenarnya, biarkan saja ini menjadi rahasia." ucap Bu Khotimah saat ini memohon pada Kafa, agar bisa menjaga rahasia ini hanya mereka berdua saja.


"Iya bu saya janji." jawab Kafa dan tertunduk.


Setelah beberapa menit pun waktu kunjungan telah habis, Bu Khotimah berpamitan padanya untuk masuk kedalam sela tahanannya lagi.


Dan Kafa berjalan keluar di sambut oleh Dirga Kafa ingin menangis, karena dia amat terharu dengan tindakan seorang ibu hari ini, dia rela berkorban demi seorang anaknya.


Tidak peduli dengan cibiran orang ataupun anggapan orang lain tentangnya, maka ibu bisa memberikan sedikit harapan untuk anak nya yang sekarang berada di panti asuhan.


"Kasih ibu sepanjang masa, tulus ikhlas untuk anak-anaknya semua,seperti sinarnya mentari hangat memberi ,tapi juga tak harap kembali"


Bersambung...


"Terkadang kebohongan itu juga bisa bernilai walaupun sebenarnya menyakitkan, dan juga kehidupan tak selalu sejajar dengan keinginan kita, maka dari itu harap lebih bijaksana lagi untuk menjadi lebih baik kedepannya 😍🤗"

__ADS_1


__ADS_2