Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 120 "Putus Asa"


__ADS_3

Untuk menenangkan fikiran Kafa berbaring dan menyelimuti tubuhnya. Berharap kedua kelopak matanya bisa menutup sejenak dan menikmati tidur siangnya,yang jarang sekali terjadi. Hanya jika Kafa itu benar-benar lelah, letih, dan berlibur sekolah maka hal itu wajib ia lakukan di siang hari. Kafa mulai menutup kedua kelopak matanya berharap saat tertidur dia tidak bermimpi buruk. Bahkan siang hari dia juga sering bermimpi aneh.


Karena sangat sering bermimpi buruk, Kafa berharap bisa normal menjalani kehidupan sama seperti dengan banyak orang lainnya.


Kafa tak mau mendapat kekuatan yang amat spesial yaitu dia bisa melihat semua makhluk gaib, bahkan dia juga bisa berbicara dengan para makhluk.Jika banyak orang Kafa sedikit lalai dan keceplosan maka dia berpura-pura mendengarkan headsetnya yang tak menyala. Agar banyak orang mengira kalau ia bercakap -cakap dengan temannya di ponsel miliknya.


"Kafa, apakah yang kau fikirkan kenapa kau terlihat melamun??" tanya Dirga, suaranya itu membuat Kafa menoleh ke arah Dirga.


"Maaf, itu karena aku mempunyai mata yang bisa melihat makhluk halus." jawab Kafa yang terdengar amat lirih di telinga.


"Kau tahu?, aku sangat tersiksa Dirga, semua hal yang berhubungan denganku, amat sial." ujar gadis itu, sembari menundukkan wajah.


"Jangan bilang begitu, aku ada disini ,bisa melihat makhluk halus itu juga ada baiknya." ucap Dirga memberi semangat kepada Kafa.


"Kau jangan menghiburku, aku tak mempan." ujar Kafa dengan memasang raut wajah yang serius.


"Dengar, aku tak menghibur aku hanya bicara kenyataan." jawab Dirga mengeles.


"Aku semakin bingung Dirga, dengan semua hal yang terjadi padaku." ujar Kafa dan wajah nya terlihat kusut dan masam.


"Lagipula ada baiknya, jadi setiap ada bahaya kau selalu merasakannya ." ujar Dirga yang berusaha untuk menghibur gadis bermata biru itu.


"Aku sangat sering bermimpi buruk, sudah tak terhitung banyaknya." ujar Kafa mengeluh dia merasa kemampuannya terlalu membebani .


"Ingat, semua yang ada di dunia ini pastilah punya manfaat, jadi jangan mengeluh..." ucap Dirga dengan lemah lembut, agar Kafa lebih bersemangat lagi, menjalani hidupnya.


"Aku ingin normal saja jika boleh memilih." ujar Kafa dia terlihat lesu.

__ADS_1


"Apakah kau bosan? bagaimana kalau kita pergi ke mall?, atau perpustakaan?, atau kita pergi taman ria?" bujuk Dirga, bak seorang ayah yang membujuk putrinya agar tidak lagi merengek.


"Tak mau aku ingin lukaku cepet kering dan sembuh, aku sangat rindu orang tuaku, apa aku bisa bertemu dengannya??" tanya Kafa.


"Ssst, jangan bilang begitu, mereka berdua sudah meninggal kau masih hidup aku kan masih bersamamu." ujar Dirga dengan penuh belas kasih, dan mencoba membujuk gadis itu, agar dia mau bersemangat lagi.


"Aku lelah, dengan semua ini kau tahu aku merasa putus asa, tidak berharap hidup lebih lama lagi..." ujar Kafa dan dia menitihkan air mata, di kedua kelopak matanya itu menetes buliran bening air mata tiba-tiba membasahi kedua pipi gadis nan anggun itu.


Sesekali ia mengusapnya, namun air mata itu tetap saja menetes, dan menetes lagi. Kafa pun merasa hidupnya tidak mempunyai arti lagi, dia merasa putus asa. Dalam kehidupan yang tidak mempunyai kedua orang tua dan tak punya siapa-siapa membuatnya semakin terpuruk. Hanya ada kesedihan dan kekosong an, apakah semua yang ia jalani tidak punya makna lagi.Dirga pun memeluknya dengan perlahan dengan penuh rasa kasih sayang, ia memeluknya erat gadis bermata biru itu yang saat ini merasa putus asa dalam hidupnya.


Beberapa saat air mata Kafa membasahi baju Dirga,dia pun membiarkan gadis itu menangis sepuasnya agar dia merasa lebih baik, saat ia sudah menumpahkan semua perasaannya itu


Kafa menangis tersedu-sedu dalam ingatan beberapa bayangan kedua orang tuanya lah yang bisa memberi semangat, karena tidak cukup hanya hidup saja di dunia ini kalau tak ada orang tua yang paling menyayangi kita.


Sembari memeluk erat Dirga memberi bisikan di dekat telinganya agar menjalani hidupnya dengan lebih baik, serta lebih semangat.


"Aku mencintaimu lebih dari apapun,kau tahu jika aku bisa mengorbankan diriku, maka aku siap jadi kau jangan bersedih lagi." ujar Dirga dengan penuh perasaan, sembari memeluk erat tubuh Kafa.


Mereka berdua berpelukkan karena Kafa yang kini merasa putus asa, sangat membutuhkan suport, semangat dan dukungan dari orang yang terdekat agar dia mau bangkit, dari rasa putus asa. Menjadi seorang gadis yang lebih tangguh dari sekarang.


"Terimakasih Dirga, kau selalu memberiku dukungan, aku harap kau tak berubah hmm.." ucap Kafa lalu melepaskan pelukkan mereka, setelah itu dia melayangkan kecupan kecil, di pipi Dirga dengan lembut dan hangat.


"Cup..."


Dirga hanya tersenyum dan memegangi pipi nya yang mulai merona malu, karena sebuah kecupan telah mendarat sempurna dari Kafa. Dirga menundukkan wajahnya yang tampan dengan perasaan yang gembira. Dia merasa kalau Kafa sudah baikan dan tidak putus asa lagi. Bangkit dari perasaan yang membuatnya bersedih itu. Saat kedua bola matanya Dirga mulai menatap kedua bola mata biru milik Kafa,tiba-tiba ponsel milik gadis itu berdering.


"Drrrt..drrt..." getar ponsel milik Kafa

__ADS_1


📱"Iya Bi, ada apa?" tanya Kafa.


📱"Kau ada dimana?" tanya Bibi Kafa.


📱"Ada dirumah Dirga Bi, ini dengan Dokter Armand juga, ada apa tumben Bibi telepon??" tanya Kafa, dengan suara agak serak karena barusan selesai menangis.


📱"Kenapa suaramu seperti habis menangis?" tanya Bibi,dia pun kepo dan makin penasaran.


📱"Gak papa, cuman aku agak kurang enak badan." jawab Kafa mengeles agar bibinya tak bertanya lagi padanya.


📱"Ya udah kalau begitu, nanti kau pulang jam berapa?, ada orang yang mau melihat rumah mu, dia menawar harga yang tinggi." ujar bibi.


📱"Baiklah nanti sore aku pulang Bi, secepat nya biar cepat laku lebih baik," ujar Kafa dan dengan berusaha mengecilkan suaranya.


📱"Ya udah aku tutup ya." pamit bibi Kafa.


📱"Ya Bibi, da.." ujar Kafa dan menutup ponsel miliknya.


Dirga pun merasa bahagia karena rumahnya akan laku, setelah pindah dia juga berharap bisa tinggal di dekatnya.


"Aku rasa rumahmu akan segera laku, kau bisa menjalani hidup yang baru." ujar Dirga.


Kafa mengangguk dengan tersenyum riang, karena secepatnya bisa membeli rumah yang baru.Dengan suasana baru maka ia akan bisa menjalani hidupnya yang damai dan tenang tanpa, diiringi rasa bersalah, putus asa, dan juga kesedihan yang melanda setiap saat .


Namun di dekat pintu ada seseorang yang sudah memata-matai obrolan mereka berdua. Dia menyeringai dengan tatapan dendam dan penuh perasaan iri dan juga dengki.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2