
"Apakah tadi ada hal yang aneh dengan Ardi, sebelum dia meninggal?" telisiknya Kafa ingin tahu kalau ada hal yang terjadi sebelum Ardi meninggal secara mendadak.
"Ehmmm, coba aku ingat." ujar Dirga sambil mengingat-ingat apakah ada kejadian ganjil sebelum ia meninggal dunia .
"Cobalah mengingat, pasti ada sesuatu, aku sangat curiga kenapa kematian ini harus juga di rahasiakan?" Kafa merasa curiga dengan kejadian tadi siang, karena jika kematian itu benar-benar mendadak tidak ada keganjilan maka tidak perlu di rahasiakan.
Namun kematian salah satu team basket dari kelas Dirga,terbilang sangat naas dia adalah pria yang pendiam baik, dan tidak terlalu juga menonjol,dia adalah anak yatim piatu. Salah satu siswa yang berprestasi sama dengan hal nya Dirga, karena itu dia masih masuk di satu team dengan Dirga.
"Ardi, itu anak yang baik, pendiam, pintar, dan juga pandai." ucap Dirga, dia tetap berusaha berfikir kejadian apa yang telah terjadi saat sebelum kematiannya datang dengan begitu tiba-tiba dan juga ganjil, bahkan Dokter Ardan tak bisa mengetahui perihal akibat kematian dari Ardi.
"Ayolah, cobalah mengingat-ingat." ucap Kafa memberi semangat Dirga agar berusaha lebih keras untuk mengingat kejadian siang tadi.
"Sebentar, ckk aku juga bingung nich." gerutu Dirga sambil berusaha keras mengingat akan kejadian siang tadi.
"Clap... jeder.. jeder..." suara gemuruh guntur dan kilat petir mulai menyambar-nyambar .
Cuaca yang terang berubah seketika dengan gemuruh dan kilat yang saling bersahut-sahut an,dengan begitu udara pun dingin menggigit angin bertiup agak kencang, bebeberapa daun kering berterbangan karena mengikuti tiupan angin. Malam yang gelap membuat suasana semakin menakutkan. Kafa dan Dirga keheran nan, kenapa cuaca tidak menentu baru saja malam terang dengan cuaca yang cerah tapi segera hilang di usir oleh hujan rintik-rintik jatuh membasahi kebun yang luas itu.
"Pakailah." Dirga memberikan jaketnya pada Kafa agar dia tak kedinginan.
"Terimakasih." ucap Kafa sambil memakai jaket Dirga.
"Apa kita masuk saja?" tanya Dirga sambil menatap wajah Kafa .
"Kita membahasnya disini saja Dirga." ucap Kafa terlihat kedinginan.
"Aku lihat kau kedinginan, aku rasa tidak ada hal yang aneh siang tadi." ujar Dirga dengan santainya, lalu seketika dia pun mengingat kalau Ardi sempat pergi ke belakang gedung yang tidak terpakai itu, sebelum ia bertanding
"Ehm, Kafa apakah di gedung belakangnya sekolah ada makhluk halusnya?" tanya Dirga.
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Kafa
"Clap... jeder... jeder..."suara gemuruh dan kilat yang beberapa kali menyambar, dan bersahut sahutan.
"Ehm, oh iya tadi Ardi sebelum bertanding dia pamit,dan akan menemui seseorang padaku dia mau bertemu di gedung belakang sudah tak terpakai itu." ujar Dirga dengan wajahnya yang berubah serius sekali,dengan kedua alis yang tertekuk menatap lekat ke arah Kafa .
"Kau yakin, apakah dia itu menemui seorang wanita ?" tanya Kafa dengan serius dan kedua bola matanya yang biru bersinar.
"Aku tak tahu dia menemui siapa?, tapi aku yakin dia berjalan ke arah gedung belakang." ucap Dirga dan melihat kedua bola mata Kafa yang indah.
"Wah, kenapa kedua bola mata biru Kafa itu bersinar?" batin Dirga dengan menatapnya.
"Sebentar, aku memang pernah sekali melihat bayangan hitam di belakang gedung sekolah." ucap Kafa sambil berfikir makhluk apa yang ada di belakang gedung sekolah.
"Tuan muda, makanannya sudah siap." ucap pembantu itu kepada Dirga , membuat Kafa dan Dirga terkejut mendengar ucapan sang pembantu itu yang tiba-tiba.Badan mereka berjingkat dengan pandangan yang tajam.
Mereka berdua sempat berjingkat, dan karena di luar dingin dengan suara kilatan membuat mereka berdua agak ketakutan.Terlebih dia terbawa suasana dalam ceritanya yang mistis
Kafa dan Dirga memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan makan malam bersama.
Terlihat Dokter Armand juga Susan makan terlebih dahulu,mereka berdua mengabaikan Dirga dan Kafa. Kafa mendekati Dokter dan bertanya tentang keadaanya.
"Dokter apa anda sudah baikan?"tanya Kafa
"Agak membaik."ucap Dokter Armand dan melanjutkan makan malamnya.
Setelah selesai makan Dokter Armand pergi ke kamarnya dan juga Susan naik ke lantai dua,dia pergi ke kamarnya, tinggal Dirga dan Kafa saat ini masih membahas kematian Ardi temanya satu sekolahan.
"Kafa,apakah besok kita melihat ke belakang gedung yang tak terpakai itu kau mau??" ajak Dirga sambil memasukkan suapan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kau tidak takut?" tanya Kafa sembari melihat ekspresi Dirga .
"Sebenarnya aku takut,tapi kita kan harus tau kebenarannya Kafa,iya kan."ucap Dirga sambil melanjutkan makan malamnya.
"Baiklah, jika kau tak takut, karena pernah ada hantu sekolah bercerita,kalau di gedung yang terbengkalai itu ada..." ucap Kafa sebelum dia meneruskan ucapannya ada Susan yang saat ini berdiri di dekat Dirga sambil menatapnya dengan pandangan aneh, karena Susan tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Kalian berdua sedang serius bahas apa??" tanya Susan dan duduk di samping Kafa .
"Tidak Susan, kami hanya membahas sekolah karena akan ada ulang tahun maka sekarang ada perlombaan." ucap Kafa berbohong agar Susan tidak curiga kepada mereka berdua .
"Oh... aku kira kalian membahas apa?"ucap Susan lalu dia pun memakan camilan dan bermain ponselnya.
"Susan,kau pergi ke kamarmu tidurlah ini kan sudah malam."ucap Dirga kepada Susan agar mau pergi,karena Dirga dan Kafa masih akan membahas tentang kematian Ardi.
"Kenapa aku merasa kalau aku itu menjadi pengganggu disini?" ujar Susan agak sebal.
"Kami,hanya ingin mengobrol berdua saja!" usir Dirga dan menyolot ke arah Susan agar dia cepat-cepat pergi.
Dirga pun mendorong tubuh Susan agar dia mau pergi dari hadapannya.
"Ayo Kafa, kita ke ruang baca saja ucap Dirga sambil membawa piring dan minuman Kafa." ajak Dirga karena dia tak mau pembahasan mereka berdua di dengar oleh Susan.
"Ckkk, kenapa dengan anak itu seolah aku ini gadis pengganggu, sialaaan?!"gerutu Susan.
Malam yang di penuhi angin kencang beserta hujan yang semakin lebat saja,di luar nampak hujan mengguyur semua permukaan bumi.
Hujan dengan membawa susana bertambah dingin itu,beserta di iringi suara petir dan juga guntur yang menggelegar.Malam ini memang sangat dingin dan mencekam jika di lihat dari luar, banyak makhluk hidup itu memilih untuk berdiam diri di dalam rumah mereka masing- masing berlindung dari derasnya hujan yang membasahi semua permukaan yang ada.
Namun hanya satu manusia yang saat ini ia memakai mantel hitam itu,dan sedang sibuk menggali tanah yang basah juga berlumpur dengan susah payah.Dia itu terlihat beberapa kali kesusahan saat menggali tanah tersebut.
__ADS_1
"Aduh....!siaaalaaan!,kenapa hujannya lebat? aku jadi bertambah kesusahan menggalinya." umpat pria itu sesekali dengan melanjutkan menggali tanah di sebuah ladang jagung dan terlihat lahan luas itu di tumbuhi jagung yang siap di panen.Karena tanah yang di galinya basah dan juga berlumpur terkena air hujan.
Bersambung...