
"Astaga... ular cobra ini kenapa berada disini, dan kenapa harus sekarang?, aku masih ingin hidup." batin Dokter Armand dengan perasaan yang campur aduk.
"Ya Tuhan, berilah aku pertolongan... lihatlah betapa mengerikannya ini." batin Dokter saat ini sambil memundurkan pelan badanya.
Agar ular itu tak terkejut karena jika merasa terancam maka, satu patukan itu bisa saja membuat melayangkan nyawa dari pria yang berumur 42 tahun ini dengan sekejap mata.
Namun ular itu tetap menatap Dokter Armand dengan sangat marah, terlihat seekor ular itu mencari anaknya yang hilang.Mungkin Dokter saat ini sudah di kira kalau dia lah yang biasa memburu para hewan ular di sekitaran kebun.
Karena memang ada beberapa petani yang bagiannya membersihkan hama di sekitaran, biasa mengambil semua hewan yang sudah sering merusak beberapa tumbuhan .
Seperti ular, tikus, dan hewan lainnya, karena memang ular tidak terlalu merusak namun dia adalakanya sangat berbahaya sekali.
Jika sampai mematuk maka tak jarang orang akan meninggal, maka untuk mengantisipasi banyak sekali petani yang mencari, memburu, dan membunuh hewan ular tersebut agar tak berkembang biak membahayakan nyawa para petani yang sedang berkebun.
Akhirnya Dokter Armand pasrah dengan hidup dan matinya, ular itu semakin mendekat tidak pandang bulu lalu ular itu hendak mematuk kaki Dokter Armand beruntung Dokter dapat menghindarinya, Dokter mulai berdiri dengan cepat , namun masih tetap ketakutan dia pun berlari tunggang langgang segera meminta bantuan pada siapapun.
Berteriak sekencang-kencangnya agar suara pria berusia paruh baya itu terdengar semua orang , dan segera mendapat bantuan.
"Tolooong !!!" teriak Dokter Armand.
"Tolooong !!!" teriak Dokter Armand.
Lalu seketika teriakkannya itu terdengar oleh seorang petani, dia sedang memanen bunga di sekitaran situ. Maka dia segera mendekati Dokter Armand. Kebetulan dia itu membawa tongkat dan menjauhkan segera ular cobra yang hendak menyerang Dokter Armand.
Namun ular cobra itu tetap tak pergi masih berusaha keras mematuk Dokter Armand.
"Pak, apa yang anda lakukan?, kenapa ular ini sangatlah ganas berusaha menggigit anda?" tanya sang petani sambil melihat wajahnya Dokter Armand yang ketakutan.
"Aku tidak tahu, aku hanya sedang tidur saja, dan saat bangun sudah ada ular cobra yang berbisa ini." jawabnya Dokter Armand dengan bersembunyi di belakang tubuh sang petani.
"Aduh, kebetulan saya bukan pawang ular ya, petani yang biasa membasmi hama sedang berada di kebun bawah." ucap dari petani itu mereka berdua pun akhirnya lari menghindar dari ular cobra yang sedang mengamuk saat ini.
__ADS_1
Karena mereka berdua larinya amat kencang maka sudah berada di sekitar kebun sayur.
Beruntung ular itu tersebut tak mengejarnya. Dokter Armand beberapa kali menghela nafas merasa sangatlah lega ,karena sudah terlepas dari patukan ular cobra yang sedang marah.
Kafa dan Dirga tak menyadari hal itu, hanya santai berbincang sampai Dokter Armand mendekati mereka berdua.
"Kenapa Dokter seperti habis di kejar setan?" ujar Dirga sambil tersenyum meledek Dokter yang penuh keringat , dan juga nafasnya itu masih ngos-ngosan.
"Dirga disini banyak ularnya ya?!" ujar Dokter.
"Memang kenapa?, apa Dokter habis di kejar ular??" tanya Dirga dengan sangat penasaran.
"Iya, aku baru bangun sudah ada ular besar di depan mataku,aku rasa aku tadi hampir mati." ucap Dokter Armand dengan penuh kelegaan.
"Beruntung aku masih hidup,aku lari kencang ada orang yang menyelamatkannku tadi di bawah." ucapnya dengan nada bersyukur dia bisa terlepas dari kejaran ular cobra.
"Disini memang banyak ular, dan hewan lain, karena kan disini tempat menanam sayuran, buah dan bunga wajar Dokter." ucap Dirga dia menggaruk tengkuknya, dan mengernyitkan kedua alisnya.
"Ehm, tentu saja dulu pernah ada anak kecil meninggal karena di gigit ular disini." jawab Dirga dengan nada suara lirih.
"Dan ada juga pernah banyak petani yang di gigit ular berbisa, tidak cobra saja." Dirga pun mulai menjelaskan kalau memang tempat ini walaupun luas,dan kelihatannya aman sangat berbahaya banyak ular dan hewan liar lainnya memang sudah wajar.
"Beruntung sekali aku ini selamat dari maut, kalau begitu ayo kita kembali ke villamu saja." ucap Dokter Armand sembari mengatur nafas
Setelah mengajaknya pulang akhirnya mereka bertiga memutuskan kembali ke villa, untuk menyiapkan makanan siang juga beristirahat karena seharian sudah bermain di kebun.
Kafa membantu Dirga sedangkan Dokter saat ini berusaha menenangkan dirinya, karena dia masih membayangkan ular cobra tadi masih bersemayam di dalam fikirannya.
Membuat bulu kuduk berdiri seketika jika dia masih teringat kejadian tadi, antara pasrah, takut ,dan juga di ambang kematian.
"Ha... syukurlah hampir saja aku terkena bisa cobra itu, kenapa tadi aku bisa tertidur di atas rumput dengan nyenyak??" sambil memukul kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Dasar bodohnya aku." mengumpat kesal dan meminum banyak air putih.
"Ayo Dokter,sekarang kita masak dulu, setelah itu anda boleh beristirahat."ajak Dirga sembari memakai celemek di badanya yang tegap.
"Baiklah, dasar kau ini sudah tak menolong, sekarang malah menyuruhku seenaknya saja." protes Dokter sambil bersungut, mengernyit dan menekuk wajahnya.
Setelah makan siang mereka pun akhirnya memutuskan beristirahat sejenak.
Kafa yang sudah kekenyangan pun berkeliling di sekitar villa, karena kemarin malam belum sempat melihat semua sudut villa kayu clasic yang di wariskan secara turun temurun.
Dirga mengikuti tepat di samping menempel terus, agar bisa mengetahui semua kegiatan yang di lakukan gadis bermata biru ini.
"Ah, sangat nyaman ya memang villa ini, lho ada perpustakaan kecilnya." ucap Kafa lalu dia masuk dan duduk untuk menikmati ruang baca mini yang terletak di dekat hutan .
"Tentu saja ini adalah tempat favoritku, mulai aku kecil karena ini adalah tempat ternyaman aku bisa ketiduran di sini." ucap Dirga lalu dia mengambil beberapa buku akan ia tunjukkan pada Kafa. Setelah itu dia duduk di samping Kafa yang duduk memandagi jendela saat ini
"Lihat ini foto ku masih kecil." ucap Dirga kepada Kafa.
"Lucu sekali Dirga ,kau masih tk ini ya?!"
"Apakah mereka ini kedua orang tuamu??"
"Ya ini Mama, dan ini Papa,mereka kewalahan jika aku sedang merajuk dan marah, aku akan bersembunyi." ucap sembari terseyum amat manis mengingat masa kecilnya dulu.
Sedangkan Kafa mengamati foto album itu dengan seksama,karena album kenangan itu mengingatkan dengan kedua orang tuannya yang meninggal beberapa tahun silam, tepat karena kecelakaan tunggal.
Kafa pun merasa agak bersedih teringat akan masa lalu nya yang terasa pahit itu.
Bersambung...
__ADS_1