
Kafa tersenyum mendengar ceritanya karena suatu hiburan mengenang masa lalu dengan melihat album kenangan masih tertata rapi .
"Lihat ini fotoku saat berdarma wisata, dan aku masih SMP." ucap Dirga sambil menunjuk foto yang tertempel lekat di album kenangan.
"Wah, wajahmu berbeda sekali dengan saat ini, aku hampir tak mengenalinya." ucap Kafa membandingkan foto lamanya dengan wajah Dirga yang sekarang amat berbeda sekali .
"Benarkah?, aku dulu kurus sekali dan lihat ini teman SMP ku dia adalah pria gendut yang suka makan." ucap Dirga menempelkan jari telunjuknya di atas foto itu.
Terlihat temannya itu memang seperti kue donat, bulat gembul dan sangat suka makan.
Berbeda sekali dengan Dirga yang kurus dan nampak hitam kecoklatan, namun temannya itu kulitnya bersih putih, dengan mata sipitnya
"Dan yang ini adalah gadis yang pernah aku sukai,namun dulu aku sangat kurus sekali dan kulitku juga hitam ." ucap Dirga agak kecewa.
"Jadi dia tak melirikku sama sekali." Dirga pun kecewa dan tersenyum getir mengingat dulu dia di tolak oleh gadis yang cantik dan amat ia sukai itu.
"Siapa nama gadia ini cantik sekali??" tanya Kafa dengan polosnya.
"Menurutmu dia ini cantik??, namun aku rasa saat ini kaulah yang paling cantik menurutku."
Dirga memuji kecantikan Kafa sambil melihat paras wajahnya yang tirus dengan hidungnya yang kecil mancung, serta kedua bola mata birunya itu memanglah Kafa tergolong wanita yang cantik dan anggun.
"Jangan menggombal." Kafa sambil sedikit mencolek lengan Dirga merasa malu sekali.
"Aku tak menggombal." sanggah Dirga dia pun mengalihkan perhatiannya.
"Dia bernama Susan, dia adalah anak yang pandai, dan sekarang sekolah di luar negeri." ucap Dirga sambil menatap foto Susan yang terpampang di atas album foto.
"Ehm, aku kira mungkin dia bukan tidak suka denganmu, namun waktu itu kalian pastinya masih terlalu kecil." ucap Kafa meyakinkan Dirga agar tidak patah semangat.
__ADS_1
"Memang, tapi saat ini sayangnya aku sudah tidak menyukainya." ucap Dirga lalu menatap lekat wajah Kafa yang cantik dan tirus .
"Kenapa memandang seperti itu?, aku malu." ucap Kafa lirih dan dia tersenyum kecil lalu menundukkan wajahnya.
"Apa kau yakin kau hanya menganggap kita ini hanya teman?" tanya Dirga dengan serius.
"Hem, aku rasa lebih baik kita berteman, aku ingin serius bersekolah, maafkan aku Dirga." ucap Kafa dengan sopan serta terdengar lirih di telinga Dirga.
"Tapi kenapa aku tak menganggap demikian?, aku merasa menyukaimu karena sudah tahu kau gadis yang baik." ucap Dirga mengangkat dagu Kafa menatapnya lekat.
"Ehm, tapi aku rasa aku ingin fokus sekolah aku ingin berkuliah , dan aku rasa aku sudah mempunyai cita-cita." jawab Kafa pada Dirga dengan sopan dan juga lirih karena tidak mau menyinggung perasaannya.
"Apa cita-citamu??" tanyanya.
"Aku ingin menjadi Dokter Anak ,karena hal itu menurutku pekerjaan yang mulia." jawab Kafa
"Apa yang kau bilang, kita baru berusia 18 dan masih kecil untuk berfikiran seperti itu." jawab Kafa, kelopak matanya di gerakkan beberapa kali, karena merasa canggung dan sangatlah aneh jika membahaa tentang menikah.
"Aku kan bilang setelah lulus kuliah, berarti usia kita sudah cukup dewasa." tegas Dirga yang membuat Kafa agak tak nyaman.
"Maksudku, aku masih tidak berfikiran sampai ke sana Dirga, terlalu jauh sekali." Kafa tidak mau membahas perihal keseriusan dengan Dirga, mungkin karena Kafa itu merasa masih ingin bebas menikmati masa mudanya dan hidup melajang .
"Apa yang kau maksud kalau kau tidak mau menikah?,seperti Dokter tua itu." ucap Dirga agak kasar karena,Dokter Armand yang sudah berumur 42 tahun namun masih betah hidup melajang.
"Bukan begitu Dirga, aku hanya ingin aku ini bisa menikmati masa mudaku, tidak ingin terburu-buru saja." ucap Kafa dengan nada memelas dan sopan, karena Dirga merasa agak kesal sekarang,dengan jawabannya itu yang membuat dia kecewa.
"Kau seharusnya tak menjadikan dia panutan, aku kan sudah bilang , kalau kau bisa pindah dari rumahnya." sambil membuang muka dari pandangan wajah Kafa.
"Dengarkan Dirga, aku minta maaf tapi aku merasa tidak enak kalau aku tiba-tiba pindah dari rumah Dokter Armand." ucap Kafa amat lirih, agar Dirga melunak karena selama ini memang tinggal dan bekerja dengan Dokter amat menyenangkan, Kafa nyaman di dekat Dokter tidak ada masalah.
__ADS_1
Jika tiba-tiba pindah ke rumah Dirga maka dia tidak enak dengan Dokter.
Dirga pun memilih diam tidak menjawabnya karena merasa sebal, dia yang amat perhatian pada Kafa namun,gadis bermata biru itu tetap menolaknya. Dirga pun merebahkan tubuhnya di atas karper dan membelakangi Kafa.
Suasananya berubah menjadi hening , sepi dan tidak ada suara sama sekali Kafa lebih memilih untuk diam karena menurutnya saat ini Dirga hanya perlu ketenangan saja.
"Maafkan aku Dirga ,aku hanya ingin fokus hidup mandiri, jika aku ingin segera kuliah dengan jerih payahku ini." batin Kafa sambil membaca buku di tanganya.
Dirga pun mulai terlelap dan matanya tertutup rapat, dia meringkuk di atas karpet tebal, dan Kafa memberi selimut berbahan bulu agar tak kedinginan. Kafa tak mengantuk sama sekali.
Maka dia pun melihat semua koleksi dari buku Dirga yang tertata rapi di ruangan itu.
Beberapa kali matanya itu pun akhirnya mulai tertuju pada sebuah buku kecil, bewarna biru.
Dia pun membukanya pelan-pelan ternyata ada foto Dirga saat dia masih SD dia duduk di bangku, dan di meja ada kue ulang tahunnya dengan lilin angka 9 di atasnya.
Namun wajah Dirga tidak bahagia walaupun di foto itu tampaknya banyak temannya yang banyak berdiri berjejer, dan mengerumuninya.
Dirga tertunduk lesu dengan menatap lilin di atas kue ulang tahunnya yang ke 9 tahun itu.
Wajahnya yang polos namun cemberut, hal yang diinginkan oleh anak kecil sebenarnya hanyalah kedatangan kedua orang tuanya saja.
"Sendiri lagi, padahal ini adalah ulang tahunku yang ke 9 tahun.Mama Papa tidak datang lagi sama seperti tahun-tahun yang lalu,aku selalu menunggu hanya ingin ada di dekatku sambil meniupnya sekali saja.Tapi ternyata hari ini tidak ada bedanya hanya perayaan yang amat membosankan, dan juga hadiah mainan yang setiap tahun sama. Dengan suasana sama hampa tanpa kedatangan mereka berdua."
"Bahkan aku membenci ulang tahunku , aku hanya ingin mereka itu pulang dan bercerita, sama seperti teman-temanku selalu bertiga dengan kedua orang tua mereka, bersenda gurau dengan hangatnya, kenapa kalian tidak pulang lagi malam ini.Padahal aku menunggu sampai larut malam."
"Aku tidak ingin hadiah ,karena aku ini hanya ingin kalian berdua pulang memeluk sambil mengucapkan selamat ulang tahun anakku."
Bersambung...
__ADS_1