
"Hi...hi...hi..." tawa dari gadis kecil itu dan dia memandang lekat Kafa dengan tatapan akan membunuh.
"Kau akan mati dan ragamu akan kuserahkan pada Iblis." ujar dari gadis itu dengan berlari menuju ke arah Kafa secepat kilat dan dia pun siap menghujamkan pisaunya yang tajam .
Saat pisau akan menusuk ke dada Kafa,Dirga menggenggam erat pisau itu, agar pisau tak bisa menghujam ke arah Kafa.
Darah pun mengalir segar ke atas tanah lalu menetes beberapa kali, Dirga meringis perih kesakitan tangannya tersayat pisau.
"Prang...." suara pisau yang terjatuh di atas tanah.
Gadis kecil itu terus beranjak pergi sesekali menoleh ke arah Kafa, meninggalkan mereka masuk kedalam rumah sakit itu.
Bergumam dengan suara keras memekikkan telinga.
"Tumbal darah dan jantung perjaka... hi..hi..hi hi...hi..hi..hi."suara itu pun lalu pergi menjauh seketika, dengan di iringi kepergian gadis itu.
"Ayo kita pergi dari sini Dirga, Dokter Armand." suara Kafa membuat Dokter Armand terkejut dan dia pun tersentak, karena melihat dengan kedua matanya sendiri Dirga menepis pisau .
Di tambah lagi keganjilan dan hal mistis yang di alami malam ini membuat shock.
Dokter Armand sangat terpukul dengan hal yang berbau mistis ini,seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya barusan tadi .
Mereka bertiga belum juga mendapatkan taxi, karena malam semakin larut tak ada pilihan mereka harus tetap berjalan, karena jika tetap menunggu mungkin akan banyak hal mistis yang akan terjadi di dekat rumah sakit angker.
Mereka sudah berada jauh dari rumah sakit itu, namun masih tetap tidak mendapatkan kendaraan taxi maupun mobil lainnya.
__ADS_1
Karena mereka bertiga sudah kelelahan maka mereka beristirahat di dekat pohon, dan ada tempat duduknya saat ini.
"Apakah yang di maksud bocah tadi?" tanya Dokter Armand sambil bergidik ngeri sembari menatap wajah Kafa kebingungan.
Kafa pun membalutkan jaketnya pada tangan Dirga, agar darah di tangannya bisa berhenti .
"Entahlah Dokter, jangan terlalu banyak fikiran aku rasa kita harus cepat pulang." ujar Kafa ke Dokter Armand,Dirga pun merasa kurang enak badan terlihat badanya lemas, wajahnya agak pucat sekali.
Bibirnya terlihat membiru dan badanya agak lemas,bersamaan dengan Dirga akan jatuh pingsan ternyata ada sebuah mobil taxi yang kebetulan lewat di dekatnya, mereka bertiga pun lalu menaikki dan menuju ke arah rumah Dokter Armand.
Dalam perjalanan Dirga tak kuat lagi, ia sudah pingsan tidur tepat di pangkuan Kafa saat ini.
Dokter Armand duduk berdampingan dengan supir taxi,Dokter Armand pun juga berkeringat dingin ,gugup masih terkejut sekali dengan semua yang terjadi padanya malam hari ini .
"Oh, iya kalau boleh tahu kalian darimana?" tanya dari supir taxi itu sembari mengamati mereka, tampak wajah supir taxi itu heran menatap mereka bertiga, terlebih setelah ia melihat seragam yang di kenakkan Dokter .
"Apakah Rumah Sakit Harapan itu ya neng?" tanya supir taxi dengan wajah yang serius .
"Iya Pak kami dari situ, bapaknya sering kalau mengantar penumpang disitu?" tanya Kafa pada supir itu dengan raut wajah penasaran.
"Bapak ya sering, tapi bukankah di situ sudah tak di pakai lagi ,Rumah Sakit itu yang sudah lama terbengkalai." jawab pak supir taxi pada Kafa dengan tatapan yang tajam amat serius, seketika Dokter Armand pingsan mendengar pernyataan dari supir tersebut.
"Lho..lho... kenapa pingsan juga ini?" supir itu keheranan sambil fokus menyetir mobil taxi.
Namun Kafa masih belum mengerti kenapa dia tidak merasakan makhluk halus, di sekitar rumah sakit saat malam pertama menginap di ruangan Dokter Armand di rawat inap.
__ADS_1
Dia pun berfikir dan melihat wajah Dirga yang pucat pasih, di tambah Dokter Armand yang pingsan mendengar ucapan pak supir taxi itu.
"Memang Neng kok bisa menginap disana?" tanya supir taxi dengan keheranan pada Kafa.
"Ehm iya Pak, aku juga tidak tahu kami sudah bermalam sekitaran 2 hari di sana." jawabnya Kafa pada supir taxi sembari mengernyitkan kedua alisnya masih tetap tak percaya sama sekali dengan kejadian ganjil dan mistis ini .
"Aduh Neng, maksud bapak kok bisa tahu ada Rumah Sakit di situ,dan hanya orang jauh saja yang tertipu kalau di situ itu..."jawab Pak Supir namun tak dia meneruskan perkataanya pada Kafa. Melanjutkan menyupir taxi miliknya.
"Memang kenapa Pak?" tanya Kafa sangatlah penasaran karena belum di lanjutkan oleh si supir itu membuatnya semakin besar tanda tanya di fikirannya saat ini.
"Ehm, begini banyak orang memang tersesat di situ dan seperti di rawat di Rumah Sakit , namun..." tak di lanjutkan lagi dan terdiam .
"Ayolah Pak beritahu ." Kafa memohon sambil melihat ke arah spion kaca di taxi itu.
"Ya ada yang mengantar mereka ke sana, dia itu adalah supir taxi kayak bapak ini." ujar si supir taxi itu kepada Kafa dan melihat wajah nya di kaca spion.
"Kebetulan aku tak melihat wajah supir itu Pak dan mungkin,apa supir taxi yang mengantar?" tanya Kafa pada pak supir taxi itu sembari melihat wajahnya di spion kaca mobil itu .
"Iya benar, dia itu adikku meninggal dunia di Rumah Sakit itu, karena kecelakaan." jawab dari pak supir itu wajahnya nampak sangat sedih sekali .
"Apakah arwah adik bapak yang membawa banyak pasien ke Rumah Sakit itu...?" tanya Kafa pada pak supir dengan menatap wajah pak supir taxi melalui kaca spion.
"Iya, makanya Bapak tadi tanyak pada Neng." ujar dari supir taxi itu dengan wajah yang saat ini bersedih .
"Jangan pergi ke situ lagi neng." ujar dari pak supir taxi pada Kafa sambil menyetir taxi itu.
__ADS_1
Bersambung...