
Dan juga sisa genangan air berlumpur di luar, hawa dingin masih tetap menyeruak,meliputi malam ini.Kafa menuruni tangga rumah Dirga dengan pelan-pelan karena kebetulan malam ini semua penghuni sudah tertidur amat pulas pelan-pelan Kafa berjalan ke arah Dapur,tidak mau membangunkan semua para penghuni rumah mewah Dirga.Saat dia akan membuka kulkas itu terlihat ada sebuah bayangan mulai telihat dari pintu dapur itu.Kafa pun mengikuti bayangan dan berjalan dengan pelan-pelan.
Ternyata bayangan itu sudah hilang dengan sekejap mata,tepat hilang di sekitar ruangan kamar yang berbaris berderet-deret di lorong itu,terdengar samar-samar bunyi suara canda dan juga tawa,serta bunyi erangan magis dari sebuah kamar,entah kamar yang mana,karena ruangan kamar di rumah Dirga amat banyak seperti hotel.Kafa pun menempelkan kepala nya pada pintu ruangan itu satu-satu karena rasa penasarannya sangatlah tinggi,dengan sesuatu yang sudah hilang tadi membuatnya tak akan bisa tidur malam ini jika tak segera mengetahuinya.
"Ssssshhhhh....."
"Ssssshhhhh....."
"Ssssshhhhh....."
"Ssssshhhhh....."
Terdengar desisan seperti bunyi suara seekor ular,dengan suara jelas di telinga Kafa,dengan perlahan Kafa berjalan melangkahkan kakinya ke arah sumber suara.Namun dengan jantung berdegup kencang tidak karuan,kacau sekali,
dan berdentum-dentum seperti mau meledak.
"Hemmm, kenapa rumah ini luas sekali, apa tidak ada jalan pintas supaya aku bisa tahu dimana sumber suara ini?" batin Kafa sambil menempelkan telingan ke satu persatu pintu.
Sesekali Kafa mulai celingukkan ke kanan dan ke kiri, melihat apakah ada penghuni lain yang sudah terbangun. Akan tetapi dia tidak melihat satupun orang yang nampak batang hidungnya.Bahkan suara nyamuk sekalipun tak terdengar sama sekali.
Berjalan menyusuri tiap jalanan lorong koridor dengan harap-harap cemas. Sesampai di satu ruangan yang paling ujung dan tidak ada lagi ruangan kamar lainnya,lalu terderngar sumber bunyi tersebut lamat-lamat dan sayup-sayup pastilah dari ruangan itu.
Kafa menempelkan telingannya ke pintu itu, dan berharap dapat menemukan jawabannya.
Namun bunyi suara tak terdengar sama sekali nihil,bahkan suara desisan ular membuat kita yang mendengarnya akan bergidik ngeri.
Hilang secara tiba-tiba di telan bumi saat ini tepat dari ujung lorong, kamar paling ujung .
"Aku yakin tadi ada suara di sini, tapi kenapa sekarang tidak terdengar bunyi apa-apa lagi?" batin Kafa sambil memutar haluan, dia pun berjalan berlawanan arah sekarang, kembali ke ruang kamar tidurnya .
Namun saat ia masuk kamarnya sesak jika ia harus tidur di samping Dirga,karena badannya yang terlalu besar dan tinggi membuat kasur kecil Kafa langsung tak ada celah sedikit pun.
__ADS_1
"Hem haaa, aku tidur di sofa saja kalau begitu kenapa bayi raksasa merajuk pindah kesini?" gerutu Kafa agak sebal, karena harus merela kan kamar kecilnya itu.
🍃🍃🍃🍃🍃
Siang hari di sekolah nampak Kafa beberapa kali menguap, semalaman hanya tidur selama kurang lebih dua jam saja membuatnya masih ingin tidur,namun karena hari ini dia dan Dirga akan menyelidikki kematian Ardi mau tak mau harus membuka matanya lebar-lebar.
"Hoammm.. " menguap beberapa kali air mata keluar dari mata biru Kafa.
"Hei, apakah kau sudah siap kita akan pergi ke gedung sekolah belakang?" ajak Dirga lalu dia memberikan satu kotak susu,terlihat mata dan wajah Kafa yang agak lusuh, tergambar jelas sekali kalau dia sangat kelelahan.
"Hem, tentu ayo kita kesana sebelum acara pertandinganmu!" ajak Kafa dan tak berselera meminum susu dari Dirga.
"Kenapa kau tak meminum susu itu?, aku rasa kau lapar tadi juga tidak sarapan." ujar Dirga dia pun memasukan pucuk sedotan ke dalam mulut Kafa.
"Aku mengantuk, tadi malam hanya tidur dua jam saja, dan badanku pegal, karena kau tidur di kamarku dan aku harus tidur di sofa."gerutu Kafa menghabiskan susu kotak itu, sampai tidak tersisa.
"Benarkah?, maaf kalau begitu, gimana kalau nanti malam tidur di kamarku saja?,di sanalah tempat paling cocok untuk kita berdua." ucap Dirga dengan melirik ke arah Kafa, dia sambil menggoda gadis bermata biru itu.
"Aduh...!!" kenapa kau memukul kepalaku??" protes Dirga sembari meringis ke arah Kafa.
"Menjernihkan fikiranmu,agar kembali bersih!" jawab Kafa sambil menyeringai,dengan lirikan mautnya.
"Iya-iya,tapi sayangnya aku tidak bisa berfikir bersih jika berada di dekatmu, ataupun saat aku bersamamu." jawaban jujur dari bibirnya Dirga menohok gadis yang bernama Kafa itu, sambil tersenyum meringis.
"Maka dari itu, belajarlah mulai sekarang atau aku itu, akan memukul kepalamu lagi dengan sekuat tenagaku !!" ancam Kafa kepada Dirga sambil akan melayangkan tangannya ke arah kepala Dirga.
Dirga memeganginya dan mengelus-eluskan pada rambutnya yang tebal, dengan meringis.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Kafa dengan menarik tanganya, rasa kantuk dan letihnya pun mulai hilang terusir sifat jahil dari Dirga.
"Jika kau mengelus rambutku, itu baru benar." balas Dirga dan mengerucutkan bibirnya ke arah Kafa.
__ADS_1
"Kau ini Dirgaa ckkkk, ayo sekarang kita pergi ke gedung belakang sekolah !!" ajak Kafa dan menyeret lengannya ke arah belakang gedung
Beberapa menit kemudian mereka berdua itu sudah tepat berada di belakang gedung yang tak terpakai. Dirga merasakan kalau tengkuk belakangnya meremang karena memanglah suasana di belakang gedung bisa di katakan angker. Dengan hawa berkabut serta auranya yang keluar dari gedung yang terbengkalai ini berbeda dengan hawa di dalam sekolah.
"Hem, pantas saja tidak heran banyak anak tidak ada yang berani masuk ke area sini." gumam Dirga sembari berjalan beriringan di sebelah Kafa.
"Kau juga takut Dirga?" tanya Kafa sembari mengamati keadaan sekitar.
"Tentu saja, lihatlah gedung ini, aura magis dan juga berkabut nampak ganjil, sekarang aku mau tanya padamu?" ujar Dirga dengan celingukkan ke kanan dan ke kiri.
"Apa??" tanya Kafa balik.
"Apakah di belakangku sekarang ada makhluk halus?"tanya Dirga dengan mengelus tengkuk belakangnya untuk beberapa kali, sesekali dia mengernyitkan kedua alisnya yang tebal.
"Ehm, kenapa kau bertanya seperti itu?" ujar Kafa sembari menoleh ke arah Dirga.
Dirga tak berani sama sekali menoleh ke arah belakang tubuhnya , yang sedari tadi merasa aneh, ganjil dan juga magis ini, sejak pertama masuk ke dalam gedung yang terbengkalai.
"Aku tanya padamu Kafa?, kenapa kau balik tanya padaku?" gerutu Dirga dengan sebal merasa ketakutan saat ini.
Tiba-tiba hawa dingin mulai terasa di pori- pori kulit mereka berdua, seakan hawa dingin ini adalah sambutan hangat untuk tamu yang datang tidak di undang sama sekali di gedung belakang sekolah ini.
"Krieeeekkkk....krieeeek...." suara pintu yang rusak dan juga lapuk terkena angin yang agak kencang. Suaranya yang menggesek seperti suara rengekkan seseorang.
"Sialaaan, aku takut Kafa bagaimana kalau kita kembali saja ke dalam? " ajak Dirga yang ketakutan, karena rasa takut yang besar mulai menyergap seorang pria berbadan tegap dan juga tinggi itu seperti pohon.
"Lho, kenapa kita kembali?,kita masih belum menemukan petunjuknya, aku tak mau ." ucap Kafa, dia sambil meneruskan perjalanannya ke arah sudut lainnya.
Mencari petunjuk apa benar-benar kematian seorang siswa dari sekolah ini yang terbilang pendiam dan juga tidak terlalu mencolok itu. Berhubungan erat dengan gedung di belakang sekolah, yang sudah lama terbengkalai. Dan membuat semua siswa tak berani mendekat satu pun.Membuat pertanyaan yang besar di benak Kafa saat ini. Apa benar memang ada makhluk bernama IBLIS bersembunyi disini .
"Buaaghhhh..." sesuatu benda jatuh tiba-tiba terdengar di telinga mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung...