
Pagi pukul 05.00 wib Kafa dan Dirga berada di depan rumahnya saat ini sedangkan Dokter Armand,pulang sendirian membawa mobilnya
"Waaahhh, keren sekali ini rumahmu sangat luas,dan berada di dekat hutan!!!" Kafa sangat takjub sekali dengan semua pemandangan ini
"Kedua orang tuaku, sangat menyukai alam, dan kebetulan tanah yang di bangun banyak pohonnya." ucap Dirga dengan entengnya .
Saat masuk ke dalam rumahnya di sambut dengan banyak pembantu yang membungkuk, maka Dirga hanya memberi tanda kalau sapa an mereka di terima.
Mereka pun pergi melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
Karena rumah Dirga yang amat luas itu jadi sangat memerlukan perawatan yang baik, dan banyak sekali pembantu sedang bertugas.
Kafa hanya melihat dengan terkagum-kagum pemandangan yang tak pernah di bayangkan sebelumnya.Bahkan dalam mimpinya saja.
Mereka berdua pun sekarang berada di depan sebuah kamar sederhana bersih, dan cocok di huni untuk seorang gadis.
"Ini kamarmu ya, jika kau mau tinggal disini, daripada kau tidur di tempat yang amat kecil dengan Dokter tua ." ucap Dirga merebahkan tubuhnya yang tinggi itu di kasur empuk itu.
Terlihat kakinya yang jenjang menapak di bawah lantai, karena terlalu kecil buat pria.
Apalagi tubuh Dirga yang tinggi dan kekar itu, membutuhkan sebuah kamar tidur yang amat luas dan lebar.
"Tapi, aku tidak enak pada Dokter Armand."
"Tidak ada tapi-tapian ck, lagipula disini kau bebas boleh bekerja di kliniknya, namun aku ingin kau pindah !!" jawab Dirga tegas lalu dia pun meninggalkan Kafa.
"Aku mau mandi, habis ini kita berangkat ke sekolah, ok." Dirga pergi ke arah kamarnya yang dekat dengan kamar Kafa.
Kafa mulai melihat-lihat pemandangan yang amat menarik perhatiannya,dengan membuka jendela pelan-pelan.
"Wah, bunga sakura, kenapa bisa tumbuh di sini?,aku rasa Dirga pastilah kesepian dengan tinggal seorang diri." Kafa keluar dari ruangan kamarnya duduk di dekat kolam ikan, melihat bunga sakura pink yang tumbuh di dekatnya.
__ADS_1
Mengaggumi bunga yang menjulang tinggi itu di depan matanya. Serta bau khas tumbuhan yang menjulang tinggi di sekitar rumah Dirga.
Amat nyaman sekali, tidak jauh beda dengan villa di bukit kemarin tempat berpiknik mereka
Namun, kalau mengingat tulisan tangan Dirga sewaktu dia kecil, karena amat kesepiannya.
Dia merasa tidak menyukai ulang tahunnya,ia merasa sangatlah memuakkan karena hanya ada , beberapa teman sekolah dan pembantu yang menemani saat meniup lilinnya setiap tahun.
Dengan beberapa hadiah yang sama setiap tahunnya.Kafa pun tersenyum getir, bahkan dia hanya bisa merayakan ulang tahunnya beberapa kali saja.
Sekarang dengan kepergian orang tuanya itu, maka dia harus bisa mandiri bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
Kafa terhanyut akan suasananya rumah Dirga, membuat nyaman fikiran dan perasaannya.
Betapa sangat sunyi, hening, asri ,dan harum khas tumbuhan yang tercium. Kabut tipis di sini juga sangat indah tidak ada yang aneh terlihat disini. Maka Kafa sedikit merasakan nyaman, dan damai membuat dia berani akan menghadapi semua hambatan nya yang akan datang menerpanya.
Sesekali bermain air di kolam ikan itu, ikan- ikan kecil yang menari-nari menimbulkan buih dan gelombang riak air kecil , di permukaan kolam saat ini.
"Seharusnya dia senang rumahnya seperti ini, seperti seorang pangeran hidupmu." ucap dari Kafa tak sengaja terdengar oleh sang pemilik rumahnya.Dirga berdiri sambil membawakan handuk dan mulai menggosok rambut yang basah.
"Benarkah?,pangeran yang di tolak oleh putri cantik sepertimu." jawab Dirga meledeknya dan berjalan ke arah gadis bermata biru itu.
"Tentu saja, kau tak mandi sebentar lagi kita akan berangkat." ajak Dirga sambil mengering kan rambutnya dengan handuk.
"Sebentar lagi ya, lagipula masih terlalu pagi sekali, bagaimana kalau kita berangkat agak siang?" ajak Kafa pada Dirga dengan senyum.
"Terserah kau." jawabnya.
"Oh, aku lihat mobilmu banyak ,tapi kenapa kau selalu memakai sepeda motor hitam itu?" tanya Kafa penasaran dan menatap Dirga yang mendekat dan duduk di sampingnya.
"Ya ,karena kau tahu sendiri naik mobil itu jika macet tak bisa menyelip, lama sekali ya kan?" ucap dari Dirga menggosok rambutnya yang basah.
"Benar juga, memang ciri khas jalan setiap hari macet." jawab Kafa menyengir sambil menggosok hidungnya yang gatal.
Mereka berdua sejenak menikmati keindahan alam rumah Dirga,bahkan sang pemilik rumah tidak pernah berfikir kalau rumahnya nyaman.
Namun karena ada Kafa di sampingnya dia merasa rumahnya nyaman kali ini.
__ADS_1
Hawa dingin ini berubah menjadi hawa yang akan membawa semangat baru,jika Kafa mau tinggal di rumah Dirga.
"Gimana?, mau kan tinggal disini lagipula aku akan semangat jika kau tinggal di sini,dan kau bisa bekerja di klinik Dokter Armand."bujukkan manis, Dirga melayang agar Kafa mau tinggal bersamanya.
"Nanti Dokter Armand gimana?" ucap Kafa agak khawatir.
"Ya kan biar dia cari wanita seumuran dengan Dokter, lagipula rumahnya kan kecil, kau bisa tidur di sana?" tanya Dirga membujuknya agar Kafa mau tinggal bersamanya .
"Bukan begitu ,walau kecil tapi aku nyaman."
"Lebih baik disini, orang tuaku tidak pernah pulang, dan aku sendirian." jawab Dirga agar Kafa mau tinggal bersamanya.
"Tapi, aku fikir dahulu ya nanti kalau iya aku akan menemanimu."jawab Kafa lembut pada Dirga. Dia pun hendak berdiri namun di tarik lengannya oleh Dirga.
"Kenapa?, dengar aku serius jangan bohong, temani aku ya." ujar Dirga pada Kafa dengan penuh perasaan.
"Iya, aku mandi dulu." Kafa pun pergi ke kamar mandi, beberapa menit setelahnya itu mereka ada di depan meja makan hendak menyantap sarapan.
Namun saat mau memakan roti bakar hangat terkejut ada seorang gadis yang cantik sekali, dengan tubuh seksi dan berbalut busana mini
Dia membawa dua koper besar mendekat ke arah mereka berdua. Dia pun duduk lalu mulai mencium pipi kanan dan kiri Dirga.
"Cup, cup."
"Hai, gimana kabarmu?, dan siapa perempuan ini?" tanya gadis itu dengan jutek menatapnya dengan sebal.
"Apa yang kau bilang, kenapa seenaknya kau mencium pipiku?" tanya Dirga dengan jijik dia mengelap pipinya dengan tisu.
Kafa hanya melihat mereka beradu mulut itu heran.Dan memakan sarapannya itu dengan pelan-pelan.
"Aku Susan, kau lupa lihatlah baik-baik." ujar dari gadis yang bernama Susan itu, lalu ia pun menatap ke arah Kafa dengan heran.
"Dan kau perempuan udik, kenapa berani kau mengganggu kami?" hardik dia pada Kafa dan berbicara sembarangan.
"Maksudmu apa?, kau lah yang mengganggu kami kenapa kau kemari?"tanya Dirga melihat Susan dengan pandangan aneh.
"Baca dulu pesanku di ponsel milikmu cepat." ucap Susan dengan tersenyum miring dia pun menatap lekat Kafa yang memakan sarapan.
__ADS_1
Bersambung...