Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 117 "Gua dan Pohon Tumbang"


__ADS_3

"Apakah mau dia kenapa selalu membuatku seperti ini??" batin Kafa dan menyandarkan kepalanya di atas meja.


"Apa dia mengincar nyawaku?, apa tubuhku ?, jika itu tidak membahayakan orang banyak maka aku mengorbankan nyawaku." batinnya.


Jam menunjukkan pukul 05.00 wib dan para pelayan banyak yang bangun dan melakukan, tugasnya ada yang memasak, ada yang saat ini bersih-bersih. Mereka pun membangunkan Kafa yang tertidur di meja makan, dan kepala gadis itu di sandarkan di meja dengan posisi duduk. Dia kelelahan karena beberapa kali harus terbangun, kali ini para pelayanlah yang membangunkannya. Sambil mengerjapkan kedua bola matanya dia terbangun.


Pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, beberapa kali para pelayan berbisik -bisik terdengar para pelayan sibuk bergosip. Karena semalam Kafa tidur di kamar yang sama dengan tuan mudanya. Kafa merasa aneh dan risih para pelayan itu menggosip tapi terdengar olehnya.


"Kenapa pelayan disini lebih suka menggosip daripada bekerja??"gerutu Kafa sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Dokter Armand pagi-pagi sudah terbangun,ia melakukan olahraga pagi dengan memakai baju olahraga, yang ia tinggal sebelumnya.


Dokter Armand melakukan peregangan kecil, dan setelahnya dia berlarian di sekitar taman Dirga yang sangat luas sembari merasakan hawa sejuk pagi. Beberapa menit kemudian, Kafa yang selesai membersihkan tubuhnya, kini rapi dan fresh.Melihat ada Dokter Armand berada di depan taman berjogging Kafa pun mendekatinya.


"Kau tak mau lari pagi denganku??" ajak dari Dokter Armand, dia menatap Kafa dengan pandangan yang teduh.


"Tidak Dokter, lukaku belum sembuh benar, jadi aku tak bisa berlari pagi, maaf." tolakan Kafa yang sopan dengan alasan luka jahitan nya masih belum sembuh.


Dokter Armand mendekati Kafa karena dia baru tahu kalau Kafa mempunyai luka jahitan di tubuhnya.Duduk di sampingnya saat ini.


"Kau mempunyai luka jahitan?, kenapa aku tak tahu?, luka apa sampai di jahit Kafa??" tanya Dokter Armand, dengan sorot matanya penuh kekhawatiran yang amat terlihat jelas di matanya sekarang.


"Beberapa hari yang lalu sepulang dari klinik Dokter, aku di tusuk oleh seseorang." jawab Kafa sambil memegang ke arah luka jahit di pinggangnya.


"Kenapa aku tak tahu?, terus apakah sudah membaik sekarang??" tanya Dokter Armand.


Kafa hanya mengangguk dan tidak menjawab pertanyaan Dokter Armand.


"Berhati-hatilah Kafa, untuk tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi." ujar Dokter Armand dia menghawatirkan Kafa.


"Iya Dok,lihatlah pagi ini hawanya sejuk sekali ya, aku rasa cocok di nikmati dengan sarapan roti bakar dan segelas susu hangat." ujar Kafa

__ADS_1


"Tapi aku belum lapar." jawab Dokter Armand.


Setelah itu Kafa memutuskan untuk melihat- lihat taman Dirga yang luas,sejauh mata yang memandang hanya ada pepohonan. Berjejer rapi menjulang tinggi, dilihat dari bentuk dan juga tinggi pohon ini, terlihat usianya sudah cukup lama. Bisa di pastikan lebih dari 50 atau bahkan lebih. Pohon ini kokoh, tinggi, rimbun dan sangat luas di dekat rumah Dirga.


Dokter Armand pun terlihat sangat penasaran karena di dekat sebuah pohon pinus yang ada di paling sudut taman ada sebuah gua terlihat kecil,namun cukuplah jika di masuki oleh dua orang. Dokter mendekat ke arahnya lalu dia mengamatinya. Kafa melirik ke arah Dokter Armand. Dan memandangi dengan tatapan aneh. Dokter pun melirik Kafa dan menatap nya dengan tatapan bertanya.


"Apa kita berdua masuk?, untuk melihat-lihat Kafa??" sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Ehm, sebentar Dokter." jawab Kafa dan dia pun mendekat ke arah gua itu, sambil melihat apa ada hal yang aneh pada gua itu.


"Aku rasa jangan Dokter, siapa tahu di dalam ada ular?, atau hewan buas lainnya." ujar Kafa


"Begitu ya, sayang sekali ya aku ini sangatlah penasaran dengan gua ini." gumam Dokter .


Kemudia mereka melanjutkan berjalan ke arah lainnya, tak jadi masuk ke dalam gua.


Dokter Armand dan Kafa berhenti di sebuah batu besar dan duduk tepat di atasnya saat ini. Sambil menikmati keindahan pagi, sang mentari mulai menyembul ke permukaan.


Langit yang bersemu kemerahan seakan dia merasa malu, namun itu hanyalah pantulan dari sinar matahari pagi ini. Dokter Armand menghirup udara segar dan sejuk itu dalam- dalam. Setelah itu dia merentangkan kedua tanganya dan merasakan pagi ini indah.


"Kretek..kretek..kretek..." suara pohon yang akan jatuh.


"Suara apa itu??" gumam dari Dokter Armand


"Seperti suara kayu Dokter.." jawab Kafa dan ia menoleh ke arah belakangnya, dan benar pohon yang ada di belakang Kafa akan roboh mengenai tubuhnya.


Secepat kilat Dokter Armand menarik tubuh gadis bermata biru itu, agar tak terkena pohon yang tiba-tiba tumbang.


"Buggggghhhh..." mereka berdua jatuh di atas tanah. Bersamaan dengan jatuhnya pohon itu.


Dokter Armand pun memegang tubuh Kafa, mereka berdua jatuh di tanah, dan terlentang.

__ADS_1


"Aduhhhh...arrghhh" erang Kafa


"Kau tak apa-apa??" tanya Dokter Armand.


Kafa hanya menggelengkan kepalanya,namun ternyata luka jahitan Kafa berdarah akibat dia jatuh tadi. Darah mulai merembes di bajunya.


"Kau berdarah, ayo kita kembali jika tidak kau akan pingsan,bukankah sakit rasanya Kafa?" Dokter Armand, menghawatirkan Kafa.


"Cepat naiklah di punggungku gadis kecil,aku akan menggendongmu !"pekik Dokter Armand


"Tapi Dok, aku berjalan saja." jawab Kafa.


"Ayolah, naik aku ini pria kuat walaupun sudah tua, hi..hi..hi.." Dokter Armand tertawa kecil.


Akhirnya Kafa pun di gendong Dokter Armand untuk kembali, saat dalam perjalanan mereka berdua melihat gua yang berada dekat pohon pinus itu, tidak terlihat. Dokter Armand juga Kafa menatapnya agak lama, karena mereka ingin memastikan apakah mereka berdua tak salah lihat.Tapi memang gua yang tadi sudah mereka lihat tak ada lagi. Sudah hilang dalam sekejap mata.


Karena Kafa saat ini sangat membutuhkan perawatan, maka Dokter Armand berlari untuk membawanya masuk ke dalam rumah Dirga.


"Hoam, hem... Kenapa Kafa itu kau gendong Dokter?, apa yang terjadi padanya??" tanya Dirga ke, Dokter dengan mengusap beberapa kali kelopak matanya.


"Nanti aku ceritakan," jawab Dokter.


Dokter pun membaringkan Kafa di kamarnya, dan melihat luka di pinggangnya terbuka lagi, makanya darahnya pun merembes lagi.


Maka Dokter Armand melakukan perawatan kepada Kafa, dan memberikan lukanya obat.


Setelah itu membalutnya dengan perban agar darahnya segera berhenti,Dirga melihatnya.


"Lho, kenapa lukanya terbuka lagi??" tanya Dirga dan melotot.


"Tadi ada satu pohon jatuh di tamanmu, aneh bukan??, tak ada angin tidak ada hujan sudah tumbang begitu saja." ujar Dokter Armand.

__ADS_1


"Apa??, aku tak mengerti maksudmu Dokter." ujar Dirga, belum paham perkataan Dokter .


Bersambung...


__ADS_2