
📱"Ya udah kalau begitu, nanti kau pulang jam berapa?, ada orang yang mau melihat rumah mu, dia menawar harga yang tinggi." ujar bibi.
📱"Baiklah nanti sore aku pulang Bi, secepat nya biar cepat laku lebih baik," ujar Kafa dan dengan berusaha mengecilkan suaranya.
📱"Ya udah aku tutup ya." pamit bibi Kafa.
📱"Ya Bibi, da.." ujar Kafa dan menutup ponsel miliknya.
Dirga pun merasa bahagia karena rumahnya akan laku, setelah pindah dia juga berharap bisa tinggal di dekatnya.
"Aku rasa rumahmu akan segera laku, kau bisa menjalani hidup yang baru." ujar Dirga.
Kafa mengangguk dengan tersenyum riang, karena secepatnya bisa membeli rumah yang baru.Dengan suasana baru maka ia akan bisa menjalani hidupnya yang damai dan tenang tanpa, diiringi rasa bersalah, putus asa, dan juga kesedihan yang melanda setiap saat .
Namun di dekat pintu ada seseorang yang sudah memata-matai obrolan mereka berdua. Dia menyeringai dengan tatapan dendam dan penuh perasaan iri dan juga dengki.
🍃🍃🍃🍃🍃
Kini Dirga berpamitan kepada Dokter Armand, karena hendak mau pergi ke rumah Kafa, saat ini ada orang yang akan membeli rumah dari gadis itu. Kafa pun selesai berganti pakaian, dia masuk ke dalam mobil Dirga dan melaju.
Dalam perjalanan pulang Kafa melihat kedai mie milik dari ibu arwah anak kecil yang kini berada di rumahnya. Kafa pun berhenti dan mengajak Dirga untuk makan mie hangat itu.
__ADS_1
Mereka berdua memesan makanan dua porsi beserta minumanya juga. Mereka berdua pun duduk saling berhadapan,beberapa menit pun makanan mereka pun tersaji di atas meja itu.
"Oh, kamu nak Kafa apakah ini pacarmu??" tanya sang pemilik kedai mie , dia tersenyum ke arah Dirga.
Dan Dirga menunduk untuk menyapa sejenak, karena untuk menghormati orang yang lebih tua.Kafa hanya mengangguk tanpa menjawab Mie hangat yang kini terhidang di atas meja mereka nikmati, sembari merasakan semilir angin sepoi-sepoi dan sejuk yang pelan-pelan membelai rambut Kafa. Dirga dengan lemah lembut menyisihkan rambut panjangnya, dan perlahan mengikatnya dengan sebuah pita.
"Begini,lalu kau itu bisa menikmati mie mu, makanlah selagi hangat." ujar Dirga sambil ia mengikat rambut gadis bermata biru itu.
"Terimakasih, kau baik sekali aku jadi malu." ujar Kafa, pipinya merona karena perlakuan dari Dirga membuat hatinya berdesir walau untuk sesaat.
"Tak usah sungkan, aku juga sangat suka saat melihat dirimu itu makan makanan dengan lahapnya." ujar Dirga sembari menyeruput mie miliknya.
Kafa dan Dirga duduk santai sementara kini, menikmati keadaan yang masih santai, dan tidak ada masalah membuat fikiran mereka agak plong. Namun beberapa saat kemudian arwah anak kecil itu pun tahu kalau Kafa dan Dirga saat ini sedang makan mie di milik ibu nya, dan tergopoh-gopoh mendekatinya.
"Benarkah?, kenapa lagi ini?" gerutu Kafa dan bangkit dari tempat duduknya, lalu ia pun kini membayar semua makanannya, lalu dia pergi dengan cepat ke arah rumahnya.
Beserta Dirga juga, dengan berat hati mie yang saat tadi di nikmati belum habis, harus tercampakkan oleh keadaan yang tidak bisa di tunda lagi. Sesampainya mereka masuk ke dalam rumah Kafa saat ini memanglah benar banyak para preman menagih uang kepada bibi Kafa.
"Hei !!, apa yang kalian lakukan kenapa bibiku kau lukai seperti itu?" tanya Kafa, dia sangat terkejut karena wajah bibinya memar kebiruan karena banyak luka lebam, mungkin dari tadi para preman sudah menyiksa dan menghajar bibi Kafa secara brutal dan membabi buta.
"Heiii, dengar dia punya utang banyak pada kami, kau mau melunasinya, atau kau hanya perlu jadi simpananku saja." ujar salah satu preman dengan bertabur tatto naga di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Dia menatap Kafa dengan pandangan mesum dan memegangi bibirnya,serta mendekatinya.
Dirga yang tahu itu langsung berdiri di depan Kafa, agar preman itu menghentikan tindakan itu, karena membuat darah Dirga mendidih tak normal, dan membuatnya murka.
"Beraninya kau, mau menjadikan simpanan, pergilah ke neraka jahanam dulu dasar !!" pekik Dirga dan menyeringai ke arah preman yang berani berniat tidak baik kepada Kafa.
"Oew, ada seekor anj*ng disini rupanya, aku kira tak ada yang punya.." ucap preman itu.
"Sialan mau kuhajar kau... !!" pekik Dirga dan matanya pun merah menyala terbakar emosi.
"Anak kecil beraninya mau melawan pria yang lebih kuat darinya, ha..ha..ha.." ledeknya dia meremehkan Dirga.
"Oew...mau mencoba tendanganku ini !!" pekik Dirga dan melayangkan kaki kanannya itu ke depan wajah preman itu.
"Buaaaggghhh..." sekali tendang preman itu pun berdarah di ujung bibirnya.
Dia menatap Dirga dengan penuh kemarahan dan juga kebencian. Namun karena jumlah dari para preman banyak maka bisa di lihat, kalau Dirga kalah dari segi banyak anggota preman itu.
"Jangan main keroyok bagaimana kalau, satu lawan satu berani tidak???" tanya Dirga dan tatapannya mengintimidasi agar mereka bisa di takhlukan olehnya.
Namun salahnya Dirga mengajak orang yang salah, mereka sama sekali tidak menggubris omongannya, dan mereka semua itu berniat menhajar Dirga beramai-ramai. Maju di dalam pertandingan itu. Seolah pemain tinju mereka semua sangat antusias.
__ADS_1
Kafa pun memegang lengan Dirga dan pria itu hanya tenang, dan memberi tanda Kafa agar tidak panik, karena dia bisa mengatasinya.
Bersambung...