
Ayumi memandikan baby Siena yang sudah terbangun karena hari menjelang malam. Dia memang yang paling berpengalaman dalam mengurus anak.
" Ayo kita ke bawah, baby Siena diajak juga biar tidak bosan di dalam kamar terus." ucap Ayumi.
" Iya, Alicia dan Arata juga pasti senang bisa berkenalan dengan Siena." sahut Medina.
Ayumi memapah Sandra menuruni tangga karena takut jatuh nantinya. Medina berjalan duluan membawa baby Siena. Dia langsung duduk di samping suaminya setelah meletakkan baby Siena di pangkuan Jonathan.
" Sayang... Kenapa tidak bilang dulu kalau mau kesini?" tegur Rifky.
" Rumahnya deket, Kak. Kalau nungguin kakak pulang bisa sampai tengah malam." sahut Medina.
" Tapi tetap saja harus bilang dulu kalau mau pergi kemanapun itu."
" Iya,... Mana Bayu? Katanya kakak jemput dia sepulang dari kantor?"
" Astaghfirullah, kakak lupa. Besok ya, Dek?"
" Tidak usah sekalian!"
Medina pergi begitu saja berlari keluar rumah tanpa memperdulikan panggilan suaminya. Hans dan Jonathan yang tadinya fokus dengan anak - anak kaget karena melihat istri bossnya marah dan pergi.
" Boss, ada apa...?" tanya Hans.
" Aku lupa jemput Bayu." jawab Rifky.
" Kenapa tidak di kejar? Nanti kalau Mey kenapa - napa gimana?"
" Dia tidak akan mau bertemu denganku saat marah. Semakin aku mendekatinya, dia akan lari semakin jauh."
" Tapi istrimu tidak pernah keluar rumah sendirian, Boss."
" Ayumi, tolong kejar istriku. Dia pasti lebih mudah kau ajak bicara." ucap Rifky.
" Kalian ini baru menikah tapi ribut terus, apapun yang terjadi kau yang harus kejar Medina. Semarah apapun dia padamu, dengan cintamu yang tulus pasti bisa meluluhkan dia."
Rifky ditemani Hans dan Jonathan segera mengejar Medina yang entah lari kemana. Mereka berpencar ke setiap sudut jalan yang berbeda untuk mencari Medina yang sangat cepat menghilang.
.
.
Sementara itu di sebuah rumah yang sepertinya tidak berpenghuni itu, Medina di sekap dan diikat di kursi kayu dengan kedua tangan dan kaki juga terikat kuat. Dia tak sadarkan diri karena terpengaruh obat bius.
" Boss, wanita bukan orang asli negara ini."
" Tidak apa - apa, nilai jualnya pasti sangat tinggi. Dia cantik dan masih sangat muda."
" Apa kita bawa ke kota Incheon malam ini juga?"
__ADS_1
" Tidak, kita tunggu perintah dari Boss Besar dulu. Besok pagi baru kita bawa ke Incheon."
Setengah jam dalam pengaruh obat bius, Medina mulai tersadar dan samar - samar mendengar suara orang diluar. Medina tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena memakai bahasa Korea.
" Ya Allah, bagaimana bisa aku diculik? Tempat apa ini, kumuh sekali." gumam Medina.
Ternyata tak hanya dirinya, di sudut ruangan yang lain ada beberapa wanita yang juga bernasib sama dengannya.
" Noona, can you speak english?" tanya Medina pelan.
" Yes, I can speak english." jawab salah satu wanita yang paling dekat dengannya.
" Syukurlah. Apa kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
" Mereka adalah para mafia yang menculik wanita untuk dijual. Ada yang dibawa keluar negeri, ada juga yang tersebar di kota - kota negara ini."
" Huh... Kita harus bisa kabur dari sini!"
" Tidak bisa, mereka bisa membunuh kita kapan saja."
" Tadi samar - samar saya mendengar kata 'Incheon' apa itu?"
" Kau bukan orang Korea?"
" Bukan, saya dari Indonesia. Satu minggu ini saya datang ke Seoul untuk mengunjungi temanku."
Medina mendesah pelan. Harusnya tadi dia tak pergi dari rumah Hans. Pasti sekarang mereka sedang mencarinya. Kalung yang biasanya selalu ia pakai hilang entah dimana. Ponsel juga tertinggal di kamar Sandra.
" Apakah kita akan dibawa ke kota Incheon?"
" Mungkin,"
Medina mulai berpikir keras untuk mencari cara agar bisa keluar dari tempat penyekapan itu. Seandainya saja kalung itu tidak hilang, pasti Rifky bisa menemukannya dengan cepat.
" Kita harus cepat keluar dari sini, apa kalian tahu posisi kita sekarang dimana?" kata Medina.
" Sepertinya kita masih berada di Seoul, saya tidak mau dijual ke tempat hiburan malam."
" Tenanglah, suamiku pasti bisa menemukan kita." ucap Medina.
" Suamimu? Apakah dia sangat berpengaruh di kota ini?"
" Tidak, tapi dia pasti bisa menemukanku disini."
" Saya takut, mereka orang - orang yang kejam."
.
.
__ADS_1
Hingga pagi hari, Rifky terus mencari istrinya di semua tempat di Seoul. Bahkan ia mengacak - acak tempat hiburan malam di kota itu. Dari beberapa tempat yang ia kunjungi, para pemilik Club itu mengaku tidak menerima wanita bayaran baru. Mereka juga bersiap untuk memberi info jika Medina masuk ke dalam salah satu Club mereka.
" Boss, aku sudah mengerahkan seluruh anggota untuk mencari di seluruh kota Seoul. Mereka juga memeriksa setiap mobil yang mengarah keluar kota. Pasti Medina masih ada di kota ini." ucap Hans.
" Hans, apa mungkin Medina mencari Bayu? Dari kemarin dia ingin bertemu dengannya."
" Bayu pasti memberi kabar pada kita kalau Medina bersamanya. Dia juga semalam pamit mau ke Incheon dengan temannya."
" Tidak mungkin juga kan dia sengaja menghindar dariku?" lirih Rifky.
" Tidak mungkin, Boss. Mey tidak akan pergi begitu saja semarah apapun dia." ujar Jonathan.
" Iya, Boss. Lagian kita menemukan kalung Medina hanya beberapa rumah dari sini menuju rumahmu. Ini pasti kasus penculikan." sahut Hans.
" Hubungi Detektif Kang, kita periksa cctv di setiap halaman rumah dari sini sampai ke rumahku." perintah Rifky.
" Baik, Boss." ucap Hans.
Satu jam kemudian, Detektif Kang datang dengan dua anak buahnya. Mereka mulai menyisir jalan yang mungkin dilewati Medina.
" Tuan, bolehkah kami memeriksa cctv di tempat Anda. Kami dari kantor polisi Seoul sedang mencari seorang wanita yang hilang semalam." kata Detektif Kang meminta ijin.
Bukannya Rifky tidak mau melakukannya sendiri, namun rumah - rumah di komplek itu merupakan milik para pejabat dan juga para pengusaha kaya. Sangat sulit untuk meminta ijin tanpa bantuan polisi.
" Silahkan, mari masuk! Ruang keamanan ada di dalam." ujar pemilik rumah yang ternyata seorang anggota pemerintah.
Rifky cukup mengenal pemilik rumah karena mereka sering bertemu di acara amal atau pesta para konglomerat.
" Mr. Mahendra, saya harus segera pergi. Jika ada yang Anda butuhkan, bicara saja dengan anak buah saya. Kami siap membantu untuk mencari istri Anda."
" Terima kasih, Tuan. Dengan senang hati kami akan menerima bantuan Anda."
" Oh iya, Mr. Mahendra... Jika memang istri Anda diculik oleh sindikat penjualan wanita Seoul, cari saja di Incheon. Biasanya para wanita itu akan dijual di salah satu Club disana. Tidak mungkin mereka menjualnya di dalam kota. Mafia seperti itu jaringannya luas dan sedang jadi target kepolisian di Korea terutama Seoul. Detektif Kang pasti salah satu petugas yang menangani kasus ini."
" Bagaimana Anda tahu soal ini?" tanya Detektif Kang.
" Ini hanya antara kita saja,Detektif. Saya pernah memakai jasa seperti itu saat di Jeju. Wanita itu mengaku korban penculikan di Incheon. Jadi besar kemungkinan, sindikat ini dipimpin satu orang saja. Mereka tidak akan menempatkan korban di kota yang sama."
Di rumah pertama, Rifky hanya menemukan rekaman saat istrinya jalan dengan tenang melewati rumah itu. Begitupun dengan rumah selanjutnya hingga di perempatan jalan menuju rumahnya, Medina sudah tidak terlihat lagi. Besar kemungkinan Medina diculik saat berada di perempatan jalan yang tidak ada cctv'nya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1