
Semalaman Rifky tidak bisa tidur karena memikirkan gadis kecilnya. Rasa bersalah membuatnya tak bisa berfikir positif, hanya Medina yang ada di pikirannya sekarang.
" Rifky, kamu kenapa? Pagi - pagi kok kusut begitu seperti habis begadang." tanya tante Mita.
" Hahahaa... mama ini seperti tidak anak muda saja. Pasti dia lagi marahan sama Medina." sahut Om Jamal tertawa keras.
" Apaan sih, Om? Rifky itu lagi pusing dengan sikap Medina. Dari kemarin dia mengabaikan Rifky terus, tak satu katapun keluar dari mulutnya saat Rifky bertanya. Dia malah ngusir Rifky dari rumahnya." keluh Rifky dengan wajah sendu.
" Memangnya kalian ada masalah apa?" tanya Om Jamal.
" Sebenarnya kemarin itu Rifky sudah janji mau jemput Medina pulang sekolah, Om. Tapi karena sedang sibuk mengecek data keuangan, Rifky lupa kalau Medina pulang cepat."
" Jadi, Medina pulang sama siapa?"
" Tidak tahu, saat Rifky ke rumahnya... Dina belum sampai rumah, padahal sudah satu setengah jam. Namun tak berselang lama, Dina pulang dengan pakaian yang kotor, tangan dan kakinya terluka. Rifky merasa sangat bersalah padanya."
" Ya udah, kamu bawain sarapan buat Medina. Sebentar, tante siapkan dulu." kata tante Mita.
" Kalau dia menolak gimana, tante?"
Rifky masih ragu untuk datang ke rumah Medina. Gadis itu pasti sangat membencinya, apalagi jika dugaannya benar bahwa gadis kecilnya itu melihatnya sedang bersama wanita lain di perkebunan.
" Coba dulu, namanya juga usaha. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha." kata tante Mita.
" Iya, tante cantikku." sahut Rifky dengan senyum manisnya.
" Jangan senang dulu, siapa tahu Medina itu mendiamkanmu karena dia tahu kamu punya pacar di kota."
" Demi Allah, tante. Rifky tidak pernah punya pacar. Cuma Medina yang Rifky cintai."
" Perempuan itu butuh bukti bukan cuma bualan." cibir tante Mita.
" Sudah, Ma. Jangan membuat keponakanmu itu down." ujar Om Jamal.
" Kak, anterin Seno ke sekolah ya?" ucap Seno memohon.
" Biasanya juga diantar sopir, Sen. Kalau nggak bareng sama kak Adam saja, sekolah kalian kan searah." ujar Rifky.
" Huhh... kakak pelit!"
" Udah sana berangkat,"
" Kakak nggak ke kota?"
" Nanti siang, kenapa?"
" Tidak apa - apa."
Rifky segera ke rumah Medina setelah tante Mita selesai menyiapkan sarapan.
¤ ¤ ¤
" Assalamu'alaikum," ucap Rifky di teras rumah Medina.
" Wa'alaikumsalam." sahut pak Hasan dari dalam.
__ADS_1
Rifky langsung masuk ke dalam rumah karena pintunya terbuka lebar. Dia langsung menghampiri pak Hasan yang sedang memasak bubur di dapur untuk Medina.
" Paman, kok belum siap - siap ke sekolah?" tanya Rifky.
" Sepertinya paman tidak bisa bekerja hari ini, Medina badannya panas tidak ada yang menjaganya." jawab pak Hasan.
" Medina sakit, paman? Rifky bawa sarapan untuk paman dan Medina. Kalau begitu paman sarapan duluan terus siap - siap berangkat ke sekolah, biar Rifky yang menjaga Medina sampai paman pulang."
" Paman tidak mau merepotkan kamu, Rifky. Tidak apa - apa paman libur sehari."
" Paman, Rifky senang bisa membantu paman. Paman dan Medina bukanlah orang lain bagi Rifky."
" Terimakasih, Nak. Kalau begitu paman siap - siap dulu."
" Iya, paman. Nanti Medina biar Rifky ajak pulang ke rumah Om Jamal ya? Soalnya Rifky tidak bisa berdua saja dengan Medina disini, takut menimbulkan fitnah dari tetangga."
" Iya, itu lebih baik. Kamu suruh Medina bersiap - siap, paman mau mandi dulu."
Setelah pak Hasan masuk ke kamar mandi, Rifky menghampiri Medina di kamarnya. Gadis itu masih terlelap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
" Sayang, bangun... sarapan dulu yuk? Atau kakak antar ke klinik untuk periksa." bujuk Rifky.
" Hmm... ayah pergi saja. Medina tidak apa - apa di rumah sendiri." gumam Medina.
" Calis, ini kakak. Sarapan dulu ya? Tadi paman sudah membuat bubur untukmu."
Medina menggeliat seraya membuka matanya. Gadis itu kaget karena ternyata bukan sang ayah yang ada di hadapannya.
" Kakak ngapain disini?" ketus Medina.
" Calis, aku ini calon suamimu. Sudah kewajiban aku untuk merawatmu."
" Sebentar, kakak ambilkan buburnya dulu."
" Dina nggak suka bubur, kak!"
" Ya sudah, maunya makan apa?" tanya Rifky dengan suara lembut.
" Dina nggak mau makan!"
" Hhh... ya sudah, bersiaplah. Kita ke rumah tante Mita sekarang." ujar Rifky.
" Untuk apa?"
Medina berusaha duduk untuk bangkit dari tempat tidurnya. Rifky yang melihatnya langsung membantunya agar gadis itu tidak jatuh.
" Sayang, sebentar lagi paman berangkat kerja. Kamu mau kita berduaan saja di rumah ini? Nanti kalau ada warga yang tahu, kita bisa digerebek terus dipaksa nikah. Atau kamu memang sudah nggak sabar buat nikah sama kakak?"
" Ish... apaan sih! Siapa juga yang mau nikah sama kakak."
Selesai sarapan, pak Hasan mengantar Medina ke rumah pak Jamal supaya ada yang menjaganya disana dan juga tidak timbul fitnah karena di rumah itu banyak penghuninya.
" Sayang, kamu tidur aja di kamar kakak diatas. Biar kakak nggak naik turun buat jagain kamu." kata Rifky.
" Apa tidak ada kamar lain?" tanya Medina.
__ADS_1
" Hmm... kalau itu cuma modus aja, Din." sahut tante Mita sambil tersenyum.
" Ish... tante ngelantur ngomongnya." kesal Rifky.
" Oh iya, Rif. Tante tadi bikin kue bolu, kamu ambil sana buat cemilan Medina di kamar biar tante yang antar dia ke kamarmu."
" Iya, tante."
¤ ¤ ¤
Medina sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur milik Rifky sambil melihat pria itu berkutat dengan laptopnya. Tanpa ia sadari, Rifky juga menatapnya dengan tersenyum.
" Ada apa, Calis sayang. Apa hari ini kakak terlihat semakin tampan?" goda Rifky sambil melangkah mendekati Medina.
" Cihh... kepedean sekali." decih Medina.
" Sayang, maafin kakak soal kemarin ya? Kakak tahu kamu marah karena wanita di perkebunan itu. Dia hanyalah anak dari teman papa, sayang. Kakak juga tidak tahu kalau wanita itu bisa datang kesini. Tapi sungguh, kakak tidak punya hubungan apapun dengan dia. Kakak hanya sayang sama kamu, hanya kamu."
" Dina nggak peduli dia siapa, tidak ada pengaruhnya juga dia punya hubungan atau tidak dengan kakak."
" Hei... apa gadis kecilku ini sedang cemburu?"
Rifky meraih tubuh Medina ke dalam dekapannya. Diusapnya dengan lembut punggung gadis itu agar merasa nyaman bersamanya.
" Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Kakak tidak akan pernah berpaling pada wanita lain walaupun kamu belum bisa mencintai kakak sampai saat ini. Kakak akan selalu menunggu hatimu terbuka untuk kakak."
" Terserah, kakak."
" Begini saja, untuk menebus kesalahan kakak... bagaimana kalau nanti hari minggu kita liburan?" bujuk Rifky.
" Apa kakak tampan sedang merayuku?" Medina menatap Rifky dengan tajam.
" Terserah apa sebutannya, tapi kakak tampan milikmu ini akan selalu membahagiakan gadis kecilnya."
Medina menggelitik pinggang Rifky hingga mereka tertawa bersama. Rifky memeluk semakin erat tubuh gadis kecilnya karena tak tahan dengan jemari nakal yang tak berhenti bermain di pinggangnya.
" Sayang, hentikan... kakak sudah tidak tahan lagi."
" Rayuan kakak tampan tidak akan membuat Dina luluh begitu saja."
" Ya udah, sayangku boleh minta apapun juga untuk menebus kesalahan kakak."
" Ok, Dina mau sesuatu yang harus kakak penuhi."
" Apa yang kau inginkan, sayangku?"
Rifky merebahkan tubuh Medina diatas tempat tidur lalu memeluknya dengan sangat erat agar tangannya berhenti menjahilinya.
" Apa harus dicium dulu biar tangannya berhenti mengacau?"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.