
Sampai di kediaman Rifky, Jonathan serta istri dan anaknya langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan istirahat.
" Sayang... Nanti kakak kembali ke kantor ya?" ujar Rifky saat mereka di dalam kamar.
" Suruh Bayu kesini, Kak. Titipan dari orangtuanya belum aku berikan."
" Iya, nanti sepulang dari kantor kakak jemput dia kesini."
" Bayu sekarang kegiatannya apa, Kak?"
" Dia sedang kursus bahasa Inggris dan Korea biar bisa cepat berbaur dengan orang di sekitarnya."
" Dina juga pengen kursus bahasa, Kak."
" Kalau kamu kursusnya sama kakak saja, gratis."
Medina merebahkan tubuhnya yang lelah di pangkuan suaminya. Rasanya ia ingin cepat tidur dan bermimpi indah.
" Sayang, Kakak harus kembali ke kantor. Kamu tidurnya yang bener dong."
" Sebentar, Kak. Jangan pergi sebelum Dina tidur."
" Iya, tidurnya yang bener biar kakak peluk."
Rifky mengangkat tubuh istrinya untuk mencari posisi yang nyaman saat tidur. Dipeluknya dengan hangat selama beberapa saat lalu dikecupnya kening sang istri setelah tertidur.
Rifky segera beranjak dari tempat tidur secara perlahan agar sang istri tidak terbangun. Pekerjaan Rifky memang sangat banyak hari ini, jadi dia terpaksa harus kembali ke kantor.
Saat Rifky hendak masuk ke dalam mobilnya, Jonathan datang mendekatinya. Setelah menyapa sebentar, Jonathan kembali keluar dengan pakaian rapi.
" Kau yakin mau ikut ke kantor, Jo...?"
" Iya, Boss. Masih banyak berkas yang harus aku kerjakan sebenarnya, tapi Ayumi memaksa ingin menjenguk Sandra sekalian bertemu Medina."
" Kau benar, Medina bahkan meminta sebelum Sandra melahirkan."
" Sepertinya istrimu sangat menyukai anak - anak. Kalian jangan menunda untuk punya anak. Mumpung masih muda, kalian bisa punya kesempatan memiliki anak lebih banyak."
Rifky menghela nafas panjang seraya fokus menatap jalanan yang sedikit padat di siang hari. Sudah hampir tiga minggu menikah, namun sifat kekanakan istrinya belum bisa menghilang. Kadang sangat manja dan gampang marah, namun jika berhadapan dengan orang yang tidak disukainya dia bisa bersifat bar - bar.
" Apa mungkin, Jo? Sifat Medina masih labil, mengurus anak tidak segampang yang dibayangkan."
" Itulah yang tidak kau tahu, Boss. Seorang wanita bisa berubah saat memiliki anak. Contohnya Ayumi, dulu dia adalah atlet karate. Tidak ada yang berani melawan dia bahkan banyak para gangster yang menawarinya untuk bergabung."
" Kau benar, Jo. Istrimu lebih bar - bar daripada istriku. Hanya saja Ayumi itu terlatih dengan aturan yang berlaku, bukan seperti Medina yang belajar lebih banyak otodidak sehingga dia sulit untuk mengendalikan emosi saat menghadapi musuh."
" Masing - masing orang memiliki sifat dan kepribadian berbeda, Boss. Medina sudah menjadi istrimu, terima apapun yang ada dalam dirinya baik itu sifat baik maupun sifat buruknya. Cinta itu dari hati, tidak bersyarat."
Tak lama, Rifky dan Jonathan sampai di kantor. Karyawan yang sudah lama bekerja disana sudah tentu mengenal mereka, terutama Rifky yang merupakan Boss utama perusahaan.
__ADS_1
" Hans beneran cuti lama, Boss?"
" Ya, kasihan istrinya. Orangtua mereka tidak jadi datang, siapa yang akan mengurus Sandra dan Siena."
" Nasib Nicko gimana? Setiap hari dia merecoki pekerjaanku dengan menanyakan apakah berkas itu sudah benar atau belum. Hhh... Dia itu pintar, tapi kurang percaya diri."
" Lain kali akan kuberikan tanggung jawab yang lebih besar lagi untuknya."
" Suruh dia menikah bia punya tanggung jawab."
" Mau menikah dengan siapa? Kekasih saja dia tidak punya."
" Susah juga kalau begitu."
Rifky kembali berkutat dengan laptopnya. Sama halnya dengan Jonathan yang juga membawa laptop sendiri dari rumah. Pekerjaan memang sangat penting bagi mereka, namun keluarga jauh lebih penting.
.
.
Medina yang baru bangun langsung turun ke bawah karena ingat bahwa ada si kecil Slicia dan Arata disana. Dia berharap dua bocah itu sudah bangun agar ia bisa bermain dengan mereka.
" Alicia, Arata...!" sapa Medina sambil tersenyum.
" Aunty Mey, selamat sore." balas Ayumi.
" Kak, kak Jonathan kemana?" tanya Medina.
" Masa' bisa begitu, Kak. Kak Jonathan kayaknya yang paling terlihat dewasa dari yang lainnya."
" Tapi selama ini yang kulihat Rifky lebih pendiam dan tidak pernah gegabah dalam mengambil suatu keputusan."
" Kapan ke rumah kak Sandra? Hari ini Dina belum bertemu baby Siena."
" Sekarang saja, Mey. Nungguin suami kita pulang bisa sampai tengah malam."
" Ya udah, kita mau jalan kaki atau naik mobil?"
" Jalan saja sekalian menikmati waktu sore dengan menghirup udara segar."
Akhirnya Medina dan Ayumi berjalan kaki menuju rumah Hans yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah Rifky. Mungkin hanya butuh waktu sepuluh menit mereka jalan kaki. Medina menggendong Arata sedangkan Alicia lebih suka jalan sendiri.
" Kak, apa punya anak itu merepotkan?" tanya Medina.
" Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu, Mey?"
" Jujur aku sebenarnya belum siap untuk menjadi seorang ibu, Kak. Aku takut tidak bisa merawat dan mendidik anakku dengan baik."
" Mey... Semua wanita juga berfikir begitu di saat mereka baru menikah. Tapi kamu akan berubah cara pandang saat ada kehidupan baru yang bersemayam di rahimmu. Suami kamu juga akan lebih peka dan perhatian padamu."
__ADS_1
" Tapi banyak kasus seorang suami meninggalkan istrinya saat sedang hamil besar. Apakah aku kuat jika itu terjadi padaku?"
" Mey... Buang pikiran burukmu itu! Rifky orang yang setia dari semua pria yang pernah kukenal. Kau tahu, dia menunggumu bertahun - tahun bahkan sejak kamu masih kecil. Apa yang membuatmu ragu dengan cinta Rifky?"
Medina bukannya meragukan cinta Rifky, tapi dia merasa tidak pantas mendampingi pria yang ternyata diam - diam digilai banyak wanita cantik.
" Tidak ada, Kak. Aku hanya takut nantinya mengecewakan kak Rifky."
" Berfikirlah positif, Rifky sangat mencintaimu. Dia pasti bisa menerima kelebihan dan kekuranganmu."
" Iya, Kak."
Tak lama, mereka sampai di depan rumah Hans. Medina langsung masuk saat seorang pelayan membukakan pintu.
" Bibi, Siena ada diatas?"
" Iya, Nyonya. Silahkan langsung ke atas saja."
Medina mengajak Ayumi untuk segera naik ke lantai atas menuju kamar Sandra. Beberapa kali mengetuk pintu akhirnya Hans membuka pintu kamarnya.
" Mey, Ayumi...!" seru Hans senang.
" Mana Sandra dan Siena...?" tanya Ayumi.
" Ada di dalam, kau tidak menanyakan kabarku? Mana suamimu? Apa dia tidak ikut kesini?" cecar Hans.
" Di kantor sama Boss."
" Ya sudah, kalian masuk saja. Alicia dan Arata biar ikut aku ke bawah."
" Thanks, Uncle Hans."
Setelah Hans membawa dua bocah keturunan Kim itu, Medina dan Ayumi menemui Sandra. Mereka bertiga terlihat sangat akrab.
" Hey, baby girl... Cantik sekali kamu, sayang." ucap Ayumi.
" Thansn Aunty Ayumi." jawab Sandra.
" Ayumi, sejak kapan kamu ke Korea?"
" Baru saja tadi siang. Selamat ya, putrimu sangat cantik."
Akhirnya ketiga wanita itu berbincang sambil bergantian menimang baby Siena yang cantik dan lucu itu. Mereka sampai lupa waktu hingga hampir waktu maghrib dan Rifky serta Jonathan sudah berbincang di ruang tamu bersama Hans.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.