Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Demi istri


__ADS_3

" Dina, itu mobil siapa...?" tanya pak Hasan.


" Seperti mobil kak Rifky, Yah." jawab Medina yakin.


" Dia datang selarut ini? Bukankah Rifky tadi bilang mau jemput kamu besok sore?"


" Nanti tanya sama kak Rifky langsung saja, Yah."


Medina masuk ke teras dan mendapati suaminya sedang tidur di bangku panjang yang terbuat dari bambu.


" Ayah buka pintu dulu, kamu bangunin Rifky suruh pindah ke kamar." ujar pak Hasan.


" Iya, Yah." jawab Medina pelan.


Setelah pak Hasan masuk ke dalam rumah, Medina mendekati Rifky yang tidur lelap. Pasti suaminya itu kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh.


" Kak... Kak Rifky! Bangun, pindah ke dalam." lirih Medina.


Rifky menggeliat pelan lalu membuka matanya. Wajah yang pertama kali ia lihat adalah paras cantik sang istri yang sedang tersenyum.


" Sayang, kamu baru pulang...?" tanya Rifky sembari bangkit dari posisi tidurnya.


" Iya, kakak kok pulang kesini? Katanya besok sore?"


" Demi istriku yang cantik ini apapun akan kakak lakukan. Kamu buka pintunya dulu, kakak mau ambil barang di bagasi."


" Udah dibuka sama Ayah."


" Bantu kakak masukin barang ke rumah."


Rifky bangkit menuju mobilnya lalu membuka bagasi untuk mengambil barang - barang belanjaannya.


" Kakak belanja banyak banget."


" Buat stok satu minggu ke depan. Kamu pasti belum sempat belanja, kan?"


" Iya sih, kakak tahu aja kalau Dina belum belanja."


" Tahulah, kamu belum ambil kartu ATM di dompetku, kan? Memangnya mau belanja pakai apa?"


Medina nyengir saja dengan kebodohannya yang sering lupa. Padahal sudah dari beberapa hari yang lalu Rifky mengatakannya, namun Medina selalu lupa.


Rifky menata semua bahan makanan mentah di kulkas sementara bahan - bahan kering disimpan di lemari. Keduanya kompak tanpa harus di komando.


" Sayang, rebus air buat mandi, ya? Kakak gerah pengen mandi air hangat." pinta Rifky.


" Iya, Kak."


" Ayah mana?"


" Di kamar mungkin."


Tak lama pak Hasan keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian. Dia tersenyum melihat anak dan menantunya yang terlihat bahagia.


" Ayah, kok belum tidur?" tanya Medina.


" Mau ambil minum dulu." jawab Ayah singkat.


" Ayah dari mana tadi?" kini Rifky yang bertanya.


" Cuma jalan - jalan sama Dina tapi sampai lupa waktu." jawab pak Hasan sambil tertawa.


Mereka berbincang sambil menunggu Medina merebus air untuk mandi Rifky. Berbeda dengan di kota yang tidak perlu repot merebus air untuk mandi, cukup menyalakan kran saja.


" Kak, airnya udah mendidih. Dina bawa ke kamar mandi dulu, ya?" seru Medina dari dapur.


" Biarkan saja disitu, sayang. Nanti kakak saja yang membawanya sekalian mandi." sahut Rifky.

__ADS_1


" Kau mandi dulu terus istirahat, Ayah mau tidur dulu." pamit pak Hasan.


" Iya, Yah." ucap Rifky.


Rifky masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk. Medina mengikutinya masuk ke kamar untuk berganti pakaian dengan piyama.


" Sayang, kakak ninggalin baju disini nggak?" tanya Rifky.


" Sepertinya nggak ada, Kak. Di rumah om Jamal banyak."


" Huft... udah hampir tengah malam masa' mau kesana?"


" Sebentar aku lihat Seno tidur atau belum."


Medina mengaktifkan ponselnya lalu melihat kapan terakhir ponsel Seno aktif. Dia tersenyum saat melihat aktifnya baru lima menit yang lalu. Dia segera mengirim pesan pada Seno untuk mengambilkan baju ganti di kamar Rifky.


" Kak, Dina ambil baju ganti kakak dulu di depan."


" Nggak ikut mandi, sayang?"


" Apaan sih! Cepat mandi sana."


Rifky mendekap erat tubuh istrinya dari belakang. Belum genap sehari mereka berpisah, namun rasa rindu itu sudah terlalu dalam.


" Aku merindukanmu, sayang." lirih Rifky.


" Mandi dulu terus istirahat, Kak. Ini udah hampir tengah malam." ucap Medina pelan.


" Hhh... baiklah." Rifky segera melepas pelukannya dan mengambil handuk lemari.


" Kak_..."


" Hmm..."


" Kau belum menciumku semenjak pulang tadi." sungut Medina.


" Kak_..."


Medina hampir berteriak kencang jika saja Rifky tidak dengan cepat membungkam mulutnya dengan ciuman.


" Jangan berteriak, Ayah sedang istirahat." tegur Rifky pelan.


Rifky membelai rambut istrinya dengan lembut lalu mencium seluruh wajahnya dan berakhir di bibir mungil yang selalu jadi candu baginya.


" Kakak mandi dulu baru nanti dilanjutkan." bisik Rifky.


.


.


Medina bangun saat adzan shubuh berkumandang. Rifky masih terlelap memeluk dirinya sangat erat seakan tak mau ditinggalkan.


" Kak... bangun, udah pagi." ucap Medina pelan.


" Sebentar lagi, sayang. Kamu hangat sekali dipeluk." gumam Rifky.


" Jangan modus! Cepat ke Masjid sana!"


" Sholat di rumah saja, capek banget mau jalan ke Masjid."


" Bilang aja males!"


Bukannya Rifky tidak mau ke Masjid, tapi ia tidak punya baju ganti. Semalam Seno hanya mengambilkan baju santai untuk tidur.


" Sayang, habis sholat Mas ke rumah Om Jamal sebentar mau ambil baju." ujar Rifky.


" Kakak mau sarapan disana?"

__ADS_1


" Tidak, aku lebih suka masakan istriku yang cantik ini."


" Mau dimasakin apa?"


" Buatin sup ayam aja, semalam kayaknya kakak beli bahan - bahannya."


" Yaudah, pulangnya jangan lebih dari jam enam. Soalnya Ayah setengah tujuh udah berangkat ke sekolah."


" Iya, sayangku."


Usai sholat shubuh Rifky bergegas ke rumah Om Jamal untuk mengambil pakaian kerjanya sekalian mandi disana.


" Assalamu'alaikum, Tante." sapa Rifky menghampiri tante Mita di dapur.


" Wa'alaikumsalam, Rifky... kapan kamu datang?" balas tante Mita kaget.


" Sudah dari semalam, Tante. Ini cuma mau ambil baju ganti saja."


" Sekalian sarapan disini, ya?"


" Maaf, Tante. Nggak enak sama Ayah kalau Rifky sarapan disini. Lain kali saja, ya? Soalnya Dina juga udah masak tadi."


" Ya sudah kalau begitu, kamu memang harusnya jaga perasaan istri dan mertuamu. Tapi temui Om kamu dulu di kamar, nanti dia marah - marah kamu datang tapi tidak menemuinya."


" Iya, Tante. Tapi nggak bisa lama, soalnya mau bantuin Dina beres - beres rumah sebentar sebelum kembali ke kota."


" Baru semalam kalian datang kok udah balik lagi?"


" Dina biar disini dulu, Tante. Rifky nanti malam juga pulang kesini seperti biasa."


" Terserah kamu, tapi tetap jaga kesehatan. Jarak dari sini ke kota itu jauh, jangan terlalu dipaksakan."


Setelah berbincang dengan tante Mita, Rifky masuk ke kamar Om Jamal sekedar untuk menyapa. Mereka hanya berbincang sebentar lalu Rifky ke kamarnya di lantai atas untuk mengambil beberapa baju ganti untuk di taruh di rumah Medina.


" Ayah, kenapa harus bersih - bersih? Sebaiknya Ayah bersiap untuk kerja. Biar nanti Rifky yang menyelesaikannya." ucap Rifky saat masuk pekarangan rumah pak Hasan dengan setumpuk pakaian dalam dekapannya.


" Kamu habis diusir sama Jamal?" sahut pak Hasan sambil tertawa.


" Bukan, Yah. Rifky semalam dari kantor langsung pulang kesini, tidak sempat bawa baju ganti."


" Pakaianmu sudah rapi, berangkat kapan?"


" Nanti jam sembilan, Yah. Bantuin Dina beres - beres dulu baru berangkat. Ini juga mau ganti kaos dulu kok."


" Kalian tidak menginap lagi malam ini?"


Ucapan Pak Hasan menyiratkan kesedihan yang tersembunyi rapat di balik senyumannya. Rifky tidak mungkin tega melihat mertuanya itu sedih.


" Lihat jadwal Rifky di kantor dulu, Yah. Kalau bisa pulang cepat, Rifky pulang kesini. Dina tetap disini untuk beberapa waktu biar bisa menemani Ayah."


" Tidak perlu seperti itu, kerjaan kamu pasti banyak. Kamu bisa sakit kalau setiap hari harus pulang kesini. Ajak saja Dina ke kota."


" Sebenarnya Rifky sedang mempersiapkan kejutan untuk putri Ayah, jadi sementara waktu ini biarlah Medina tetap disini."


" Terserah kamu saja gimana baiknya."


Saat sedang asyik berbincang dengan ayah mertuanya, sang istri sudah berkacak pinggang di depan pintu.


" Ayah... Kakak...! Sarapan, jangan ghibah...!"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2