Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Mama marah


__ADS_3

Rifky segera pulang setelah mendapatkan solusi untuk ngidam istrinya. Kali ini Rifky harus membujuk istrinya agar bersabar sebentar sampai pesanan datang.


Sampai di rumah, dia langsung di hadang pelayan yang tadi menemani istrinya di kamar. Wanita yang diperkirakan berusia hampir setengah abad itu terlihat cemas.


" Tuan, Nyonya tidak mau makan sedikitpun. Saya takut kesehatan Nyonya semakin memburuk."


" Saya yang akan membujuknya, siapkan makanan yang baru. Jangan pakai kuah, Bibi."


" Baik, Tuan."


Lima menit kemudian, makanan sudah siap dan Rifky segera membawanya ke lantai atas dimana sang istri berada saat ini.


" Assalamu'alaikum, Bunda." sapa Rifky dengan senyum manisnya.


" Wa'alaikumsalam." jawab Medina pelan.


" Sayang, makan dulu. Dari tadi kamu belum makan, kasihan anak kita kalau kamu ngambek nggak mau makan seperti ini."


" Mana telur asinnya?"


" Besok pagi, sayang. Sekarang makan nasi sama ayam crispy kesukaan kamu."


" Tapi Dina bosen di tempat tidur terus, Kak."


" Mau makan di balkon?"


" Iya, tapi digendong."


" Pasti, sayangku. Kamu belum boleh jalan untuk saat inj. Jadi Kakak akan menggendongmu kemanapun kamu mau."


" Dina pasti sangat merepotkan Kakak. Seharusnya kita sudah kembali ke Indonesia."


Rifky mengecup dengan lembut bibir istrinya yang masih tampak pucat. Setelah itu, ia gendong istrinya menuju balkon.


" Kakak ambilkan makanannya dulu, sayang."


Rifky menyuapi istrinya dengan telaten walaupun harus sedikit memaksa. Kondisi tubuhnya masih sangat lemah sehingga makannya juga sangat sulit.


.


.


Keesokan harinya, Mama Kamila langsung masuk ke dalam kamar anak dan menantunya setelah semalam dijemput Bayu. Tadinya Rifky sendiri yang ingin menjemputnya, namun Medina tidak mau ditinggalkan.


" Rifky...!" teriak Mama Kamila.


Rifky yang masih tidur sambil memeluk istrinya langsung mencari kearah sumber suara. Sementara Medina hanya tersenyum kepada Mama mertuanya itu karena tidak bisa bangun dari tempat tidur.


" Mama...? Pagi - pagi udah kayak di pasar teriak - teriak." gerutu Rifky.


" Kenapa Bayu yang jemput Mama? Bangun...! Kau tidak bekerja?" seru Mama Kamila marah.


" Kak... Lepasin dulu pelukannya!" lirih Medina.


" Mama kapan datang...?" tanya Medina yang berusaha bangkit dari tempat tidur.


" Jangan bangun! Berapa kali kakak harus ingatkan padamu." tegur Rifky.

__ADS_1


" Tidak usah bangun, sayang. Kamu istirahat saja, Mama mau bicara sebentar sama Rifky." ucap Mama Kamila lembut.


Rifky yang melihat tatapan sang ibu tajam kepadanya hanya bisa mendesah pelan. Dia tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi.


" Do'akan biar kakak masih diberi keselamatan setelah keluar dari kamar ini, sayang." ucap Rifky sambil melirik ke arah sang ibu yang melotot.


" Kakaakkk...!" tegur Medina.


Tanpa merasa malu sedikitpun, Rifky mencium bibir sang istri di depan ibunya yang membuat Medina sangat malu.


" Love you more, honey..." bisik Rifky.


" Pergilah, Mama udah nungguin dari tadi." tegur Medina.


Rifky beranjak dari tempat tidur setelah mengusap perut istrinya dengan lembut. Ibunya berjalan terlebih dulu ke lantai bawah menuju ruang keluarga.


" Ada apa sih, Ma? Rifky belum mandiin Dina." ucap Rifky.


" Kenapa kamu tidak bilang kalau kondisi Dina separah itu? Dina diculik mafia kau tak memberitahu Mama juga!" ucap mama Kamila murka.


" Ma, Rifky bisa jelaskan."


" Kalau kamu tidak bisa menjaga Medina, biar Mama bawa pulang ke Indonesia."


" Ma... Dengarkan penjelasan Rifky dulu."


Jika sudah menyangkut soal Medina, Mama Kamila tidak mungkin bisa tenang melihat menantunya terbaring lemah di tempat tidur. Mama Kamila menyayangi Medina seperti putri kandungnya sendiri, apalagi gadis itu pernah menyelamatkan nyawanya.


Rifky tahu ibunya sangat sedih bercampur marah. Dia segera berlutut di hadapan sang ibu yang sedang duduk di sofa seraya menggenggam kedua tangannya.


" Mama hanya khawatir dengan keadaannya, Rifky. Apalagi sekarang istrimu sedang hamil, pasti sangat berat untuk dilaluinya." lirih Mama Kamila.


" Rifky akan selalu menemani Dina di masa tersulitnya seperti saat ini, Ma. Hanya Dina dan janin dalam kandungannya yang jadi prioritas utama Rifky."


Seandainya saja semalam Bayu tidak cerita, mungkin Mama Kamila tidak akan tahu seburuk apa kondisi Medina saat ini. Wanita yang biasanya terlihat kuat itu sekarang lemah tak berdaya.


" Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada cucu dan menantuku, kau yang harus menanggung akibatnya!" geram Mama Kamila.


.


.


Rifky yang habis dimarahi ibunya langsung kembali ke kamar dengan wajah yang murung. Dia langsung berbaring di samping sang istri seraya memeluknya dengan erat.


" Kakak kenapa?" tanya Medina heran.


" Tidak apa - apa, sayang. Mau mandi dulu atau sarapan?" Rifky balik bertanya.


" Mandi, Kak. Gerah nih berbaring terus."


" Ya udah, Kakak siapin airnya dulu."


" Terima kasih, Ayah..."


" Sama - sama, Bunda."


Rifky dengan cekatan memandikan istrinya, memakaikan baju dan menyisir rambutnya hingga terlihat sangat cantik.

__ADS_1


" Istriku semakin hari semakin cantik," gumam Rifky.


" Kan dirawat sama suamiku yang sangat tampan ini." sahut Medina lalu mengecup bibir suaminya.


" Jangan menggodaku, ini sudah hampir mati untuk menahannya." sungut Rifky.


" Biasanya sampai tiga bulan ya, Kak?" goda Medina.


" Nanti aku tanyakan sama dokter, jangan - jangan dia cuma ngerjain doang."


Medina tersenyum seraya mengusap lembut pipi suaminya karena gemas. Bagaimana dia bisa berpikir dokter berbohong tentang kesehatan pasien?


" Dokter tidak bohong, Kak. Baca artikelnya ada kok, malu nanya begitu sama dokter."


" Baiklah, demi bunda dan calon anak kita aku rela puasa tiga bulan." ucap Rifky pasrah.


Rifky beranjak untuk mengambil sarapan di dapur namun dicegah oleh sang istri. Medina ingin sarapan bersama ibu mertuanya di meja makan.


" Kak, sarapan bareng Mama di bawah." rengek Medina.


" Tapi, sayang_..."


" Please...?"


Rifky mendesah pelan lalu menggendong tubuh istrinya keluar kamar. Bukannya Rifky tidak mau, tapi di bawah nanti pasti dapat omelan lagi dari wanita cantik yang telah melahirkannya ke dunia.


Sampai di meja makan, Rifky sudah mendapat tatapan tajam dari sang ibu. Sudah pasti sebentar lagi omelan akan masuk ke grndang telinganya.


" Rifky...! Dina itu harus bedrest, kenapa diajak kesini?" bentak sang ibu.


" Dina yang minta, Ma. Jangan marah sama kak Rifky, ya?" pinta Medina.


" Kamu tidak boleh banyak gerak dulu, sayang." ucap mama Kamila lembut.


" Marahin aja terus, memang dari dulu Mama tidak pernah sayang padaku." gerutu Rifky.


Medina mengusap pelan lengan suaminya yang tiba - tiba merajuk. Wajah yang biasanya terlihat berwibawa dan kharismatik kini menjadi terlihat lucu dan menggemaskan.


" Ish... Gitu aja ngambek, mana telur asinnya?"


" Tanya aja sama Mama kamu!" kesal Rifky.


" Jangan cemberut, kalau nanti gantian yang ngidam kamu bisa repot." ledek mama Kamila.


" Mamaaa...!" kesal Rifky.


Rifky lebih memilih ke dapur untuk mengambil telur asin untuk istrinya daripada menanggapi ibunya yang sedari pagi sudah marah - marah kini malah meledeknya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2