
Rifky menjemput Medina dengan motor karena bahunya sudah tidak sakit lagi. Dia menunggu di bawah pohon depan gerbang sekolah.
" Kak Rifky...!" teriak Bayu.
Rifky hanya melambaikan tangan sembari duduk diatas motornya. Bayu dan ketiga temannya langsung menghampirinya.
" Hai... Oppa Rifky..." sapa Ririn.
" Hmm... Assalamu'alaikum, Ririn cantik." sahut Rifky dengan tersenyum.
" Hehehee... wa'alaikumsalam." jawab Ririn malu.
" Medina dimana? Kok nggak bareng kalian?" tanya Rifky.
" Tadi keluar kelas bareng, kok nggak ada ya?" ucap Johan.
" Sepertinya tadi masih di belakang sama Dani." kata Adam datar.
" Kok bisa sih Medina akrab banget sama tuh orang? Aku ragu kalau dia beneran tobat." kesal Bayu.
" Jangan su'udzon, Bay... mungkin saja Dani memang sudah berubah. Medina tidak mungkin salah menilai seseorang." kata Ririn.
Rifky menyimak pembicaraan teman - teman Medina. Dia tidak tahu siapa yang mereka bicarakan. Tak lama Medina datang sambil tersenyum kearah Rifky.
" Kukira kakak lupa lagi jemput aku." sindir Medina.
" Jangan diungkit lagi, ayo pulang." sahut Rifky.
Medina naik ke motor Rifky dan mereka pulang bareng teman - temannya yang lain. Sebenarnya Medina ingin bicara soal Dani, namun sepertinya waktunya tidak tepat. Hingga sampai di rumah, Medina belum mengungkapkan masalah Dani.
" Kamu kenapa sih dari tadi diam terus?" tanya Rifky.
Kini mereka berdua duduk di teras untuk melepas lelah. Rifky menatap Medina dengan intens.
" Kak, Dina mau bicara soal gadis itu." ucap Medina.
" Gadis yang mana? Kamu nggak berfikir kakak punya pacar yang lain, kan?"
" Hhh... ini soal gadis yang depresi karena masalah waktu itu."
" Oh itu, memangnya kenapa?"
" Pelakunya ingin bertanggung jawab,"
" Tanggung jawab apa?"
" Dia ingin bertemu dengan gadis itu dan bertanggung jawab atas kehidupannya."
Rifky menghela nafas pelan lalu memejamkan matanya sejenak. Dia tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Kemarin ia baru mendapat informasi dari dokter yang menangani gadis itu. Belum ada perkembangan yang signifikan untuk kesehatannya.
" Tidak bisa, sayang. Gadis itu masih depresi, dia sedang di tangani oleh dokter. Kakak takut gadis itu semakin histeris saat bertemu dengan pelaku."
" Dani itu serius, kak. Bahkan dia juga mau menikahi gadis itu sebagai bentuk tanggung jawabnya."
" Kau jangan percaya begitu saja sama dia, sayang. Sepertinya kamu sangat dekat dengan dia?"
" Kakak kok nuduh Dina sih? Jangan - jangan malah kakak yang tidak rela kalau gadis itu lepas dari kakak!" ketus Medina.
" Ya Allah, sayang. Maksud kamu apa? Jangan berpikir yang aneh - aneh."
" Kakak yang aneh! Jangan - jangan gadis itu tinggal sama kakak di kota. Dina sungguh menyesal terlalu percaya dengan kakak, selama ini kau hanya menipuku."
" Dina...! Jaga ucapanmu." sentak Rifky.
__ADS_1
" Kakak keterlaluan!" pekik Dina sambil berlari masuk ke dalam rumah.
" Dina, tunggu...!" seru Rifky.
" Astaghfirullah... jangan sampai dia salah paham dan marah lagi." gumam Rifky.
Dina mengunci pintunya dari dalam sehingga Rifky tidak bisa masuk. Rifky heran melihat kekasihnya yang tiba - tiba cemburu dan marah.
" Ini kenapa lagi sih? Tumben banget dia sangat sensitif." gumam Rifky.
Karena Medina tak mau buka pintu, akhirnya Rifky pulang. Dia akan membujuk kekasihnya di pasar nanti.
¤ ¤ ¤
Setelah sholat Ashar, Adam menghampiri Medina untuk segera berangkat ke pasar. Bayu juga sudah tiduran di teras rumah Medina.
" Bay... Mey belum keluar?" tanya Adam.
" Sebentar lagi katanya, lagi masak buat buka puasa." jawab Bayu.
" Aku mau bantuin dulu di dalam biar cepet." kata Adam.
Adam masuk ke dalam rumah menuju dapur. Dilihatnya Medina sedang berada di depan kompor.
" Mey, kenapa masak sih? Bukannya udah dapet jatah dari catering ya?"
" Lagi pengen aja, Dam."
" Lemes banget, laper ya?"
" Apaan sih, biasa aja."
" Kak Rifky tumben belum kesini, apa udah balik ke kota?"
" Kalian ribut?"
" Tidak."
Adam membantu Medina memasak agar cepat selesai karena hari semakin sore. Setelah selesai, mereka berangkat agar anak - anak tidak lama menunggu.
Medina diam saja selama perjalanan menuju ke pasar. Dia merasa bersalah juga sudah marah pada Rifky. Hingga sampai di pasar, dia kaget karena anak - anak sedang ramai bermain membentuk lingkaran di tempat yang biasanya buat parkir.
" Bang Jefri, anak - anak sedang apa disana?" tanya Medina.
" Itu, Neng... lagi main sambil belajar sama Tuan Boss." jawab Jefri.
Medina mendekat ke arah kerumunan anak - anak dan ternyata ada Rifky di tengah - tengah mereka.
" Ayo, siapa yang bisa menjawab pertanyaan kakak dapat hadiah lima ribu rupiah." kata Rifky.
" Horeee...!" teriak anak - anak senang.
" Pertanyaan pertama... Siapa Tuhan kita...?"
Semua anak berebut untuk menjawab pertanyaan dari Rifky. Suara riuh membuat Rifky kuwalahan menghadapi anak yang jumlahnya lebih dari lima puluh orang.
" Mmm... kamu yang baju biru." tunjuk Rifky.
" Allah Subhanahu wa ta'ala, kak." jawab anak itu.
" Betul... ini hadiah buat kamu. Sekarang kamu boleh duduk disana." kata Rifky.
" Sekarang pertanyaan kedua... Berapa rakaat kita sholat wajib dalam sehari?"
__ADS_1
Rifky mengamati anak - anak yang tunjuk tangan paling cepat lalu menyuruhnya menjawab.
" Kamu yang pakai kerudung putih."
" Tujuh belas rakaat, kak." jawab gadis kecil itu.
Rifky segera memberikan hadiahnya dan menyuruhnya duduk bersama temannya.
" Pertanyaan berikutnya_..." kata Rifky.
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh Rifky sambil sesekali bercanda hingga membuat suasana semakin ramai oleh canda tawa anak - anak.
" Pertanyaan terakhir... Siapa yang paling kakak cintai? Siapa yang tahu kakak kasih dua puluh ribu."
Pertanyaan yang sangat aneh menurut anak - anak. Mereka saling pandang satu sama lain sambil menggelengkan kepala. Medina juga kaget saat tiba - tiba Rifky menatapnya intens entah apa yang ia pikirkan saat ini.
" Oppa pertanyaannya aneh deh, mana ada anak yang tahu tentang kisah cintanya." bisik Ririn.
" Kayaknya lagi stress dia, pertanyaannya ngelantur." celetuk Johan.
Bayu dan Adam saling berpandangan lalu menatap Medina yang diam seraya menatap Rifky.
" Apa saya boleh jawab, kak." seru Bayu.
" Boleh, siapa saja boleh jawab." jawab Rifky.
Bayu sebenarnya ragu untuk menjawab apalagi di depan anak - anak. Dia menatap Medina yang mengalihkan pandangannya ke jalanan.
" Jawabannya adalah... Medina Amalia." jawab Bayu.
Anak - anak tertawa sambil menatap Medina yang wajahnya memerah menahan malu. Bagaimana bisa Bayu mengatakan itu di depan semua orang.
Rifky hanya tersenyum dengan jawaban Bayu. Bagaimana Bayu bisa menjawab seperti itu padahal dia ingin mengajarkan ilmu agama kepada anak - anak.
Rifky menatap Medina yang menundukkan wajahnya sambil memainkan ujung kerudungnya. Mungkin gadis itu merasa malu menjadi bahan tertawaan anak - anak.
" Sudah, semuanya tenang dulu. Kak Rifky akan memberitahukan siapa yang paling kakak cintai tapi yang pasti bukan kak Medina." kata Rifky tegas.
Kelima remaja itu terkejut dengan ucapan tegas Rifky terutama Medina. Medina tidak menyangka Rifky akan mengatakan seperti itu di depan orang banyak.
Rifky menarik tangan Medina dan membawanya ke tengah - tengah lingkaran anak - anak itu. Gadis itu sungguh tak punya tenaga untuk menolak Rifky karena hatinya yang terasa sakit.
" Maaf, kamu bukan yang pertama dan tidak akan menjadi yang utama untukku walaupun aku sangat mencintaimu." ucap Rifky sambil tersenyum.
" Apa maksud kak Rifky bicara seperti itu pada Medina?" kesal Adam.
" Memang seperti itulah kenyataannya, aku tidak mungkin berbohong kepada gadis yang aku cintai." kata Rifky.
" Cukup, kak. Dina juga tidak berharap cinta dari kakak!" ucap Medina pelan namun tegas.
" Kakak akan memberitahukan pada kalian semua siapa yang paling utama di hati kakak."
Rifky menarik nafas panjang sebelum mengungkapkan isi hatinya di depan umum. Diliriknya gadis yang sedari tadi mengalihkan pandangan darinya walaupun Rifky menggenggam erat tangannya.
" Yang paling saya cintai adalah_..."
.
.
TBC
.
__ADS_1
.