Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Restu orangtua


__ADS_3

Selesai sarapan, Medina memaksa Rifky untuk menemui ibunya. Dia hanya tidak ingin dianggap melarang Rifky dekat dengan ibunya secara tidak langsung jika Rifky tetap bersamanya.


" Kak, temuilah tante Kamila dulu. Kakak ini anak satu - satunya, jangan bersikap acuh pada orangtua. Jangan sampai kakak menyesal suatu hari nanti." ucap Medina.


" Baiklah, demi calon istriku yang cantik ini... kakak akan pergi menemui mama." sahut Rifky.


" Kakak kenapa sih bicara begitu? Dulu kakak yang selalu menasehati Dina supaya berdamai dengan ayah. Apa kakak sudah lupa semua itu?"


" Iya, sayang. Maafin kakak ya? Kakak akan temui mama sekarang."


" Hati - hati di jalan, kakak tampanku."


" Hmm... kakak akan segera kembali sayang, kamu kalau butuh apa - apa bangunin Nicko aja."


" Iya, cepat pergi sana!"


" Assalamu'alaikum, sayangku."


" Wa'alaikumsalam."


Rifky mengusap puncak kepala calon istrinya dengan lembut sebelum keluar dari ruang perawatan. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan gadisnya yang tengah sakit itu, namun paksaan gadis itu membuatnya terpaksa pergi.


¤ ¤ ¤


" Rifky, bagaimana keadaan Medina?" tanya mama Kamila.


" Dina baik - baik saja, Ma. Mama sendiri gimana?" ucap Rifky.


" Mama tidak apa - apa, hanya sedikit shock saja. Mama tidak menyangka Devi bisa melakukan kejahatan seperti itu."


Rifky duduk diantara kedua orangtuanya. Walaupun begitu, pikirannya masih saja tertuju untuk kekasihnya. Benarkah gadis itu sangat kuat? Ataukah ia berpura - pura kuat agar semua orang tidak mencemaskannya?


" Ada apa, Rif?" tanya papa Surya.


" Mmm... tidak apa - apa, Pa." jawab Rifky singkat.


" Kamu pasti memikirkan Medina, ya?" tebak mama Kamila.


" Tidak, Ma."


" Mama ingin menjenguk Dina, Rif. Antarkan mama kesana sebelum kembali ke kota ya?"


" Mama beneran mau ketemu Dina?"


" Iya, mama sudah berhutang nyawa padanya. Mama tidak menyangka gadis itu sangat baik."


Rifky begitu senang ibunya memuji kekasihnya. Dia berharap hubungannya dengan sang kekasih segera mendapatkan restu sesuai keinginan gadis kecilnya.


" Ma, Rifky sangat mencintai Medina. Bisakah mama dan papa merestui hubungan kami?" ucap Rifky serius.


" Papa sih terserah saja, Nak. Asalkan kamu bahagia, papa pasti dukung semua keputusanmu." kata papa Surya.


" Mama...?" Rifky menatap sendu mamanya.


" Mmm... Mama akan selalu mendukung siapapun pilihan kamu, Nak. Mama yakin pilihanmu adalah gadis yang terbaik." ucap mama Kamila.


Rifky sangat bahagia sehingga tanpa sadar memeluk mamanya dengan erat. Entah karena bahagia ataukah luapan rasa rindu yang selama ini terpendam, Rifky terisak dalam pelukan sang ibu. Apalagi saat papanya ikut memeluk dirinya, hati Rifky seakan menghangat.


" Maafkan kami yang tak pernah memberikan banyak kasih sayang padamu, Nak. Kami sangat egois, hanya memikirkan materi saja." isak mama Kamila.

__ADS_1


" Cukup dengan restui hubungan Rifky dan Medina saja, Rifky sudah sangat bahagia." lirih Rifky.


" Kamu tidak berniat menikahi gadis itu sekarang, kan?" gurau papa Surya.


Mereka saling melepaskan pelukannya lalu duduk berjajar di tepi ranjang. Rifky menatap kedua orangtuanya secara bergantian lalu tersenyum.


" Memangnya papa tidak ingin cepat punya cucu?" sahut Rifky sambil tersenyum.


" Ish... dia itu masih sekolah, jangan macam - macam." kata mama Kamila.


" Rifky hanya tidak mau berpisah lagi dengan Dina, Ma."


" Paling tidak tunggu sampai dia lulus sekolah."


" Iya, Ma. Terimakasih, papa dan mama sudah merestui hubunganku dengan Medina."


" Ya udah, kita jenguk Medina sekarang. Sudah tidak sabar pengen ketemu calon menantu." ujar papa Surya.


" Hmm... papa bersemangat sekali mau ketemu calon mantu." ledek mama Kamila.


" Bukan papa yang bersemangat, Ma. Tapi calon suaminya tuh yang nggak sabaran." sahut papa Surya.


Rifky hanya tersenyum dan mengabaikan ledekan kedua orangtuanya.


¤ ¤ ¤


" Assalamu'alaikum," ucap Rifky diikuti kedua orangtuanya.


" Wa'alaikumsalam." jawab Medina.


Sudah dua jam Rifky pergi, namun Nicko masih saja terlelap di sofa. Sepertinya dia benar - benar sangat lelah.


" Dina udah sembuh, kak. Lagian juga sama dokter udah boleh pulang."


" Rifky, kenapa kamu marahin calon menantu mama! Minggir sana, mama pengen duduk disitu."


Mama Kamila menarik lengan Rifky agar beranjak dari samping Medina. Dengan senyuman manisnya, mama Kamila duduk di samping Medina.


" Dina, apa lukamu masih sakit?" tanya mama Kamila dengan lembut sambil mengusap pelan rambut gadis itu.


" Tidak, tante. Dina sudah sembuh kok, pengen cepet - cepet pulang." ucap Medina.


" Maafin tante, ya? Karena menolong tante, kamu jadi terluka seperti ini."


" Tante... Dina ikhlas menolong tante, jangan merasa bersalah."


" Dina, Om antar kamu pulang ya? Ini adalah wujud terimakasih kami karena kamu sudah menyelamatkan istri saya."


" Tidak usah, Pa. Nanti Rifky yang antar Medina." kata Rifky.


" Kau pasti lelah, pulanglah ke kota bersama mama dan Nicko." ujar papa Surya.


" Dina hanya boleh pulang dengan Rifky." kekeh Rifky.


Medina heran dengan sikap kedua orangtua Rifky yang sangat perhatian padanya. Ada rasa hangat di hatinya saat ibunya Rifky menggenggam erat tangannya dengan senyuman yang tulus.


" Sayang, kamu pulang sama kakak ya?" rengek Rifky duduk di samping Medina berseberangan dengan ibunya.


" Mmm... Dina bisa naik Bus, kakak pulang saja ke kota sama om dan tante." ucap Medina tak ingin menghalangi kebersamaan keluarga kekasihnya.

__ADS_1


" Apaaa...? Apa kau sedang menolakku? Baiklah, pergi sana dan tak perlu kembali lagi padaku!" kesal Rifky.


" Kak_..."


" Kau hanya mempermainkan perasaanku, Medina!"


Rifky keluar dari ruang rawat Medina dengan marah. Walaupun Medina terus memanggilnya, namun Rifky tetap meninggalkannya.


" Tante, saya susul kak Rifky dulu ya?" ucap Medina.


" Tidak usah, Dina. Seperti itulah sifat Rifky jika marah. Dia hanya ingin menenangkan diri. Kamu juga masih terpasang infus, gimana mau mengejar Rifky?"


" Dina hanya tidak mau kak Rifky pergi dalam keadaan marah, tante. Ijinkan Dina pergi, ya?"


" Baiklah, biar ditemani Nicko."


" Tidak usah, tante. Kak Rifky pasti belum jauh dari kamar ini."


Medina langsung menarik selang infus yang terpasang di tangannya. Walaupun sedikit sakit, namun ia tak terlalu pikirkan yang penting bisa mengejar Rifky.


¤ ¤ ¤


" Apa Dina menyakiti hati kakak?"


Medina yang melihat Rifky duduk di taman rumah sakit langsung duduk bersimpuh di hadapan kekasihnya itu.


" Kamu ngapain disini? Pulang sana sendiri! Kamu sudah nggak butuh aku kan?" ketus Rifky.


" Maaf, Dina hanya tidak mau merepotkan kakak."


" Hhh... lalu untuk apa datang kesini? Kalau kamu merasa merepotkan, pergi saja tidak usah menemuiku!"


Medina berusaha untuk tidak menangis di depan Rifky. Dia harus kuat, tidak boleh memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan sang kekasih.


" Rifky...! Apa yang kau lakukan pada Medina?" pekik mama Kamila.


Nicko mengulurkan tangannya untuk membantu Medina berdiri, namun gadis itu tetap diam seraya menundukkan wajahnya.


" Hhh... sejak kapan mama membelanya?" sahut Rifky.


" Rifky...! Jaga bicaramu pada orangtuamu!" hardik papa Surya.


" Om, tante... jangan bertengkar disini, Dina akan pergi supaya tidak menimbulkan keributan disini. Kak Rifky, Dina hanya ingin minta maaf. Tolong jangan pergi dalam keadaan marah." ucap Medina.


Medina mencoba untuk menahan sakit di lengannya bekas kena tembakan yang kini mengalir darah yang membasahi bajunya karena saat mengejar Rifky tadi dia menabrak seseorang hingga lengannya bergesekan cukup keras dengan orang itu.


Dina berjalan mundur untuk menjauh dari mereka dengan mata berkaca - kaca. Rasanya sakit melihat Rifky yang tak menatapnya sama sekali.


" Dina, tunggu...!"


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2