
" Hentikan...!" teriak seseorang dari luar pagar.
Para preman itu menghentikan aksinya setelah mendengar perintah dari bossnya yang baru datang. Pria paruh baya itu berjalan lebih dekat lagi ke arah Rifky dan Medina.
" Sayang, kamu tidak apa - apa?" bisik Rifky.
" Iya, kak. Dina baik - baik saja." lirih Medina.
Rifky menyunggingkan senyumnya sambil menatap Medina yang tidak mempermasalahkan panggilan sayangnya.
" Maaf, pak. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa mereka menyerang tempat ini?" tanya Rifky dengan sopan.
" Panti ini memiliki hutang kepada saya dan sudah jatuh tempo." kata pria yang ternyata seorang rentenir.
Pengurus panti itu mendekat di samping Rifky dengan kepala yang tertunduk.
" Maaf, juragan. Beri saya waktu untuk mencicil hutang itu. Saya akan segera melunasinya." kata pengurus panti itu memohon.
" Bisa saja, tapi serahkan gadis itu padaku!" tunjuk rentenir itu ke arah Medina.
" Jangan, juragan. Mereka ini hanya tamu di panti ini."
" Saya tidak peduli! Bayar sekarang atau serahkan dia padaku!"
Rifky menatap tajam pada rentenir itu. Sepertinya ada yang ia rencanakan untuk pria paruh baya yang sudah berani mengusik ketenangannya.
" Ampun, juragan_..."
" Berapa hutang panti ini kepadamu?" kata Rifky datar.
" Kak_..." lirih Medina.
" Tidak apa - apa, jangan takut." Rifky menggenggam erat tangan Medina.
" Dia berhutang seratus juta padaku."
" Tidak, juragan. Saya hanya meminjam dua puluh juta." kata pengurus panti itu.
" Kau harusnya tahu aturan jika berhutang padaku! Bunganya 100% tiap bulannya." seringai rentenir itu.
" Saya bayar sekarang juga. Tapi ingat! Jangan pernah mengganggu panti ini." tegas Rifky.
Medina merasakan raut wajah Rifky yang sangat berbeda dari biasanya. Kini Rifky terlihat dingin dan menakutkan dengan tatapan tajamnya.
" Kau yakin akan membayarnya anak muda?"
" Tentu saja, berikan nomor rekeningmu. Saya transfer sekarang juga."
Rentenir itu memberikan nomor rekeningnya kepada Rifky. Tak ada satu menit, bukti transfer itu sudah masuk dalam notifikasi rentenir itu.
" Sudah saya transfer, pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi kesini!" kata Rifky.
" Baiklah, urusan kita selesai sampai disini."
Rentenir itu mengajak seluruh anak buahnya untuk meninggalkan panti tersebut. Rifky tersenyum seraya menatap rentenir itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Kak, apa kakak terluka?" lirih Medina cemas.
" Tidak, hanya luka sedikit. Jangan khawatir, Calis." bisik Rifky.
" Kalian tidak apa - apa?" Ririn menghampiri Rifky dan Medina diikuti tiga teman lainnya.
" Tidak apa - apa, Rin." jawab Medina.
" Tapi tangan Oppa berdarah?"
Medina langsung meraih tangan Rifky dan memang terdapat bekas sayatan pisau disana.
" Kak, kok nggak bilang kena pisau!" omel Medina.
__ADS_1
" I'm fine, Dina. Sudah jangan khawatir ya? Nanti kakak obati, di mobil ada kotak p3k."
" Ya sudah, kita ke mobil kakak sekarang." Medina menarik lengan Rifky dengan cemas.
" Ciee... Ciieee... yang lain ngontrak nih kayaknya?" ledek Bayu.
" Diam kau bayam!" sungut Medina.
Adam, Johan dan Ririn tertawa cekikikan melihat Medina yang sangat kesal karena diledekin Bayu.
Rifky sangat senang Medina mencemaskannya. Ada rasa bahagia di dalam hatinya saat gadis itu menunjukkan perhatiannya. Sampai di mobil, Medina mengambil kotak obatnya lalu mengajak Rifky duduk di saung yang tak jauh dari mobil.
" Are you oke, Dina?" tanya Rifky yang melihat Medina hanya diam sambil mengobati lukanya.
" Hmm..." jawab Medina singkat.
" Really...?"
" Iya, kak Rifky...! Udah jangan banyak tanya."
" OK, kuharap kamu baik - baik saja."
Medina sudah selesai mengobati Rifky dan berdiri untuk menyimpan obatnya lagi di dalam mobil.
" Hei... Ada apa?"
" Nothing... I'm fine."
" Dina, kau bisa cerita apa saja padaku. Seperti waktu kecil dulu kau selalu mengadu padaku jika ada yang membuatmu menangis."
" Kakak kan tahu, dari kecil yang sering menjahiliku cuma Bayu."
" Tapi sekarang dia kalah sama kamu,"
" Ibu selalu mengajarkan aku untuk kuat dan tidak takut pada siapapun. Apapun resikonya, aku harus bisa menolong orang yang lemah. Tak peduli siapa lawannya, aku tidak akan mundur sedikitpun."
" Termasuk tawuran kemarin?"
" Oppa, soal tawuran kemarin bukan salah kami." kata Ririn.
" Bukan masalah salah siapa, tapi apa yang kalian lakukan itu juga tidak benar."
" Apa salahnya? Kami hanya menolong orang yang tertindas." kata Adam.
" Tapi usahakan untuk tidak menggunakan kekerasan." ujar Rifky.
" Kalau mereka menyerang duluan apa kita harus diam saja dipukuli," kata Johan.
" Tapi kalian kenapa bisa sampai kena hukuman dari sekolah?" tanya Rifky.
" Karena salah satu dari mereka adalah keponakan dari kepala sekolah." jawab Medina.
" Ya sudah, lain kali kalian harus hati - hati. Jangan gampang terpancing emosi."
" Iya, kak." jawab mereka.
" Ayo pulang, nanti sore kalian harus mengerjakan tugas."
" Kak, kami lelah. Besok aja ya?" rengek Bayu.
Rifky menatap Medina yang menganggukkan kepalanya dengan senyuman manisnya.
" Baiklah, sekarang kalian pulang ikut mobil yang tadi bawa barang. Saya ada keperluan sebentar di tempat lain dengan Medina." ujar Rifky.
" Dina ikut kakak?" tanya Medina.
" Iya, cuma sebentar kok."
Setelah berpamitan kepada pengurus panti, mereka segera pulang. Rifky mengajak Medina ke suatu tempat dimana Rifky merasa nyaman di tempat itu.
__ADS_1
" Kak, ngapain kita disini?" tanya Medina.
Kini mereka berdua berada di tepi danau yang airnya sangat jernih. Banyaknya pepohonan disana membuat tempat itu sejuk dan nyaman.
" Apa kau menyukainya?" kata Rifky.
" Iya, tempatnya sangat indah." sahut Medina.
" Mau naik perahu itu?"
" Tidak, kak. Dina takut jatuh, nggak bisa renang."
" Tidak akan jatuh, Calis. Percaya sama kakak, ya?"
" Tidak mau! Kalau kakak masih maksa, Dina pulang aja sendiri!"
" Iya - iya, kita nggak naik perahu itu. Kita duduk aja disini, tapi jangan ngambek ya?"
" Tau ah! Kakak nyebelin!"
Rifky tersenyum lalu merangkul bahu Medina agar bersandar padanya. Dia tahu bahwa Medina tidak akan menolaknya karena sebenarnya gadis itu sangat membutuhkan sandaran dihatinya bukan sebuah pelampiasan.
" Din, sebentar lagi kamu lulus SMA. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Rifky lembut.
" Tidak tahu, Dina hanya ingin menjalaninya saja tidak ingin berharap apapun." jawab Medina.
" Bukankah sebuah harapan itu adalah suatu motivasi agar kita bisa mencapai tujuan?"
" Aku tidak punya tujuan dan tidak mau berharap sesuatu yang mungkin tidak bisa kudapatkan."
" Hei... kenapa jadi pesimis? Dalam hidup itu harus selalu optimis agar lebih bersemangat menjalaninya."
" Tidak tahu, semenjak ibu tiada aku tak punya semangat hidup lagi."
" Pikirkan ayahmu, Dina. Hanya kamu satu - satunya orang yang beliau miliki saat ini."
" Tapi dia tidak sayang pada ibuku,"
" Siapa yang bilang? Tidak ada seorang suami yang tidak mencintai istrinya. Aku mengenal ayahmu itu seperti apa, sayang sekali padamu dan juga ibumu."
" Tapi kenapa ayah ingin menikah lagi jika mencintai ibu?"
" Din, dengarkan kakak. Ayahmu melakukan itu setelah ibumu tidak ada. Beliau hanya ingin kamu itu tidak kehilangan sosok ibu. Tidak ingin kamu terabaikan saat beliau sibuk bekerja, ada yang mengurus semua kebutuhanmu."
" Aku tidak memerlukan itu, aku bisa mengurus diriku sendiri."
" Kakak percaya kamu bisa. Tapi jika suatu saat kamu punya suami dan tinggal jauh dari ayahmu yang sudah tua, siapa yang akan menjaga dan mengurus beliau? Kamu pasti tidak akan punya waktu untuk melakukan itu."
" Aku tidak berpikir sejauh itu."
Rifky semakin mempererat dekapannya, gadis kecilnya itu tidak bisa diajak bicara keras. Rifky harus berusaha selembut mungkin membuat Medina mengerti dengan ucapannya.
" Sayang, dengarkan kakak baik - baik."
Rifky mengurai pelukannya dan duduk berhadapan dengan Medina. Menatap dengan lembut gadis kecilnya yang kini menundukkan wajahnya.
" Lihat kakak! Seandainya nanti kita menikah dan kakak dipanggil oleh Sang Pencipta terlebih dahulu, apa yang kamu rasakan padahal kita punya anak yang masih kecil yang butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya?" kata Rifky tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Medina.
" Aku tidak mau kakak pergi duluan, lebih baik Dina duluan yang pergi. Dina tidak mau kehilangan kakak." ucap Dina tanpa sadar.
" Jadi kamu mencintai kakak?" senyum Rifky terkembang sempurna.
" Mmm_..."
.
.
TBC
__ADS_1
.
.