
Usia kandungan Medina sudah menginjak dua bulan. Kesehatannya juga semakin membaik, namun tetap tidak boleh melakukan aktifitas terlalu sering. Dia juga belum boleh untuk melakukan perjalanan jauh.
" Sayang, mau dibantuin mandi?" tanya Rifky.
" Dina udah bisa jalan sendiri, Kak." jawab Medina sambil tersenyum.
" Hhh... Padahal kakak senang bantuin kamu mandi."
" Kakak mandi duluan sana, nanti terlambat ke kantor."
" Mandi bareng, ya?" rengek Rifky.
" Huft... Kenapa sekarang suamiku jadi manja banget sih?" Medina menarik hidung Rifky gemas.
" Boleh, ya?"
" Iya, tapi ada syaratnya."
" Syarat...?"
" Hmm... Dina pengen ikut ke kantor,"
Rifky menatap wajah istrinya yang terlihat sendu. Bukannya Rifky tidak mau mengajak Medina, tapi melihat kondisinya yang belum benar - benar pulih membuatnya tak ingin mengambil resiko.
" Sayang, Kakak_..."
" Kenapa...? Mau sampai kapan aku dikurung disini! Kakak tidak pernah mengerti perasaanku!"
" Bukan begitu, sayang. Kakak hanya tidak mau kamu drop lagi."
Rifky menangkup wajah sang istri dengan lembut. Sungguh ia tak sanggup melihat istrinya merasa tidak bahagia seperti ini.
" Baiklah, tapi kamu menuruti semua perintah Kakak. Tidak boleh membantah sedikitpun." ucap Rifky pelan namun tegas.
Medina menganggukkan kepalanya lalu memeluk sang suami dengan erat. Entah mengapa ia sangat senang berada dalam dekapan sang suami.
" Ayo mandi!" titah Rifky.
Mereka mandi bersama di bawah guyuran shower yang mengalir sedang. Rifky membantu sang istri memakai sabun di seluruh tubuhnya.
" Sayang, nanti kalau sudah boleh... Kita coba di bathup ya?" rengek Rifky.
" Nggak ah, Kak. Mending di tempat tidur, lebih luas dan nyaman. Kasihan anak kita kalau dipaksain di tempat yang tidak nyaman."
" Huft... Kalau nunggu anak kita lahir, bisa setahun lagi kira coba disini."
" Tunggu beberapa bulan lagi, kalau anak kita di dalam sini kuat, kita coba disini." ucap Medina.
Rifky yang senang langsung memeluk tubuh istrinya lalu menciumi seluruh wajahnya sampai merasa puas karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Rifky tidak ingin menyakiti anak dalam kandungan istrinya jika memaksakan diri menuruti hawa nafsunya.
" Makin sayang sama Bunda."
" Bunda juga sayang sama Ayah."
Selesai dengan mandi yang hanya memakan waktu 15 menit, Rifky kembali menggendong istrinya keluar dari kamar mandi.
.
.
Rifky dan Medina berangkat ke kantor dijemput oleh Hans. Rifky sudah beberapa hari ini malas menyetir mobil sendiri. Tubuhnya sering sekali lemas dan tidak bernafsu makan jika tidak bersama istrinya, itupun harus sepiring berdua.
" Mey... Kau ikut juga?" tanya Hans.
__ADS_1
" Iya, pengen ketemu Bayu. Sebenarnya pengen ketemu Adam dan Johan juga, tetapi mereka berdua jauh." jawab Medina.
Rifky langsung rebahan di pangkuan Medina begitu mereka masuk ke dalam mobil. Hans sampai heran dengan tingkah Rifky yang sangat manja.
" Mey, si Boss sakit atau apa?" tanya Hans.
" Tidak tahu, Kak. Beberapa hari ini terlihat sangat manja." jawab Medina.
" Jangan - jangan ngidamnya pindah ya?"
" Memangnya bisa, begitu?"
" Mungkin saja, Rifky susah sekali makan kalau di kantor."
Medina mengusap pelan kepala suaminya yang kini sudah tertidur pulas padahal mobil baru berjalan sekitar lima menit meninggalkan rumah.
" Tapi kalau di rumah makannya biasa, Kak. Hanya saja dia tidak mau pakai piring sendiri, kadang minta disuapi."
" Sepertinya memang suamimu yang ngidam, Mey."
Butuh waktu 30 menit untuk sampai di kantor. Hans membantu Medina untuk membangunkan Rifky karena pria itu semakin lelap saat mendengar suara istrinya.
" Boss, mau sampai kapan kau tidur! Tidak kasihan kaki istrimu sampai kram tertindih kepalamu." seru Hans.
Rifky yang sebenarnya enggan membuka mata langsung mengingat bahwa ia tidur dalam pangkuan istrinya.
" Sayang... maafin kakak, ya? Kamu pasti sakit ya di pahanya?" Rifky mengusap paha Medina yang terbalut celana kulot polos panjang.
" Tidak apa - apa, Kak. Dina baik - baik saja, ayo turun." ucap Medina lembut.
" Kakak gendong kamu sampai keruanganku, ya?"
" Malu, Kak." tolak Medina.
" Tapi malu kalau dilihat banyak karyawan disini, Kak."
" Kakak tidak peduli...!"
Medina hanya bisa pasrah saat Rifky menggendongnya melewati lobby sehingga menjadi pusat perhatian semua karyawan kantor.
" Kak_..."
" Jangan sampai Kakak menciummu disini saat ini juga." lirih Rifky.
Sampai di ruangan Presdir, Rifky langsung meletakkan tubuh istrinya di kamar pribadinya. Dia tidak mau istrinya sampai kelelahan nantinya.
" Sayang, kakak keluar dulu untuk kerja, soalnya mau ngerjain kamu belum boleh." lirih Rifky.
" Do'akan saja sebulan lagi boleh, suamiku."
" Kamu tahu nggak, sayang. Setiap malam Kakak itu susah tidur kalau belum merasakan kehangatan tubuhnya walau hanya sekedar pelukan."
" Sabar ya, suamiku sayang. Akan ada waktunya kita berdua bisa menikmati kebahagiaan itu."
Rifky mengecup bibir istrinya sekilas lalu keluar dari kamar untuk bekerja. Semangatnya kembali bangkit saat berada dekat dengan sang istri. Dia bekerja dengan cepat hingga tanpa sadar setumpuk berkas sudah ia selesaikan.
" Boss, ini beneran sudah selesai semua berkasnya?" tanya Hans tak percaya.
" Kau lihat sendiri kalau tidak percaya!" jawab Rifky datar.
" Wowww... Benar - benar ajaib, coba aja Medina ikut ke kantor setiap hari." celetuk Hans.
" Hhh... Kalau dia tidak memaksa, tidak akan aku ijinkan dia ikut." keluh Rifky.
__ADS_1
" Sudah siang, ajak istrimu makan." ucap Hans.
" Bisakah kau belikan saja, aku malas keluar."
" Ok, mau makan apa?"
" Ramen tapi jangan terlalu pedas. Untuk Medina sup daging sama jus jeruk."
Saat Hans hendak keluar untuk membeli makanan, Medina keluar dari kamar dengan langkah gontai lalu duduk di pangkuan suaminya.
" Kak Hans, tolong belikan chicken katsu juga." pinta Medina.
" Siap, Nyonya."
" Hans, belikan buah apel hijau." kata Rifky tiba - tiba.
" Apalagi...? Biar sekalian jalan!" Hans mulai jengah dengan tingkah dua orang di hadapannya.
" Sudah, pergilah!"
.
.
Setengah jam menunggu, akhirnya Hans datang dengan membawa beberapa paper bag berisi makanan. Rifky terlihat sangat antusias melihat banyak makanan di meja.
Bayu yang baru pulang dari kampus juga langsung masuk ke ruangan Rifky untuk bertemu Medina. Dia membawa paper bag kecil entah apa isinya.
" Meoonnngggg...! Lihat apa yang aku bawa?" seru Bayu.
" Bawa apaan, Bay?" tanya Medina.
" Sebentar aku taruh di piring dulu."
Setelah bayu meletakkannya di piring dan ditaruh di meja, Rifky dengan cepat menyambarnya membuat Medina kaget.
" Tahu saja saya sedang memikirkan makanan ini, Bay." seru Rifky seraya tersenyum lebar.
" Tapi, Kak... Itu buat Medina." sahut Bayu heran.
" Sama saja, ini juga porsinya banyak."
Bayu menghela nafas pelan melihat tingkah bossnya. Sejak kapan Rifky menyukai rujak yang buahnya asam semua. Bayu memang sengaja membuat rujak itu sendiri saat Medina tadi pagi bilang akan datang ke kantor. Bayu mampir dulu ke pasar tradisional untuk membeli buah - buahan segar lalu membuat sambalnya di Apartemen sebelum datang ke kantor.
" Kamu beli dimana, Bay?" tanya Rifky yang sangat antusias memakan rujak itu.
" Saya buat sendiri, Kak. Tadi pulang dari kampus mampir dulu ke pasar membeli buahnya." jawab Bayu.
" Kakak makan dulu ini, rujaknya nanti biar nggak sakit perut." tegur Medina.
" Itu nanti saja, sayang. Kamu mau rujaknya?"
" Kakak habisin saja, besok Dina bisa buat lagi sama Bayu."
Hans yang melihat cara Rifky makan buah itu membuat giginya ngilu sendiri karena melihat buah - buahan yang rasanya asam semua.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.