
" Ayah... Dina pulang...!" pekik Medina.
Medina mengetuk pintu berkali - kali dan tak ada sahutan. Lampu juga semua belum ada yang dinyalakan.
" Mey...!" panggil Adam yang baru keluar dari rumahnya setelah melihat Medina pulang.
" Adam... Ayah dimana? Kenapa semua lampu dimatikan."
Adam menatap Rifky yang menggelengkan kepalanya pertanda jangan memberitahu gadis itu terlebih dahulu.
" Pak guru sedang pergi sekarang, kunci rumah aku yang bawa."
" Pergi kemana? Apa ayah sedang ada urusan penting?"
" Istirahatlah dulu, besok pagi aku kasih tahu."
" Dam...! Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
" Sayang... sekarang kamu masuk dan istirahat, kakak yang akan bicara dengan Adam." bujuk Rifky.
" Tidak ada, Mey. Kamu cepat masuk sana!" titah Adam tegas.
" Tapi_ ..."
" Mey...! Kau dengar yang kukatakan!" bentak Adam.
Dari dulu, Medina memang selalu menurut dengan Adam. Mereka bersahabat dari kecil dan Adam sudah seperti kakak yang selalu menjaga Medina.
Rifky cukup terkejut saat melihat Medina menuruti perintah Adam dan langsung masuk ke dalam rumah. Dirinta saja yang notabene kekasihnya tsk pernah membentak seperti itu. Rifky bahkan terkesan mengalah pada Medina asalkan gadis itu bahagia.
" Kita bicara di rumahku saja, Kak." kata Adam pelan.
" Baiklah! Nick, kau disini saja." titah Rifky.
" Siap, Boss!"
Kini, Rifky dan Adam duduk berhadapan di teras rumah Adam. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan.
" Maaf, Kak. Ini mengenai kondisi pak Hasan, sekarang masih koma dan kondisi tubuhnya semakin melemah." kata Adam.
" Kau tahu siapa pelakunya...?" tanya Nicko.
" Tidak. Tapi dari penampilan dan mobil yang dipakai, mereka jelas orang - orang bayaran konglomerat. Polisi sedang menangani kasus ini, tapi_..."
" Tapi apa...?"
" Sepertinya ini perbuatan orang yang berpengaruh di kota ini. Dan mereka tidak berani mengusutnya secara tuntas. Ini sudah dua hari dan mereka tak menemukan bukti apapun dan tidak menjelaskan senjata jenis apa yang dipakai untuk menembak pak Hasan."
" Ya sudah, kita akan bongkar kebusukan mereka termasuk oknum kepolisian yang ada di belakang kasus ini." geram Rifky.
" Saya setuju, kemarin saya dapatkan ini di TKP."
__ADS_1
Adam menyodorkan hasil temuannya yang ia simpan di dalam plastik kecil. Sebuah peluru bekas yang ia temukan di bawah pohon besar. Saat itu, Adam yang kebetulan lewat di perkebunan melihat orang - orang berpakaian hitam mengejar pak Jamal dan pak Hasan. Tak lama, datang pula para pekerja di perkebunan setelah mendengar suara tembakan. Para penjahat itu langsung kabur saat sudah banyak warga yang mengejarnya.
" Saya juga dapat plat nomor mobil salah satu dari mereka." kata Adam lagi seraya membuka galeri ponselnya.
" Kau sudah laporkan hasil temuanmu pada polisi?"
" Tidak, Kak. Saya tidak percaya dengan mereka, makanya saya menunggu kalian pulang. Saya tidak punya akses untuk masuk dalam jaringan rahasia."
" Kurasa kau sangat berbakat untuk menjadi detektif?" kata Nicko.
" Hah... tapi ibu lebih suka saya jadi dokter." desah Adam.
" Kau bisa jadi dokter sekaligus detektif." ujar Rifky.
" Maksudnya...?" tanya Adam tak mengerti.
" Setelah masalah ini selesai, kau berangkat ke Jepang. Kau bisa kuliah kedokteran dan belajar menjadi detektif. Disana ada organisasi legal yang bisa mengajarimu." kata Rifky.
" Tapi, Kak. Kuliah disana sangat mahal, ibu tidak mungkin bisa membayar biayanya."
" Jangan pikirkan soal biaya, semua saya yang tanggung. Kamu hanya perlu belajar dan bekerja untukku."
" Dengan senang hati saya akan menerimanya, Kak. Tapi harus dengan ijin ibu dulu."
" Tidak masalah, ijin orangtua itu yang paling utama." sahut Nicko sambil melirik Rifky.
" Saya juga butuh IT dan orang yang pandai menyamar. Apa kau bisa mencarinya, Dam?" tanya Rifky.
" Baiklah! Besok kau tanya mereka. Jika bersedia, saya langsung daftarkan kalian di Universitas ternama di Jepang."
Malam semakin larut, Rifky dan Nicko pulang ke rumah pak Jamal untuk beristirahat. Nicko akan kembali ke kota pagi - pagi sekali untuk meneliti penemuan Adam pada ahli yang sudah dipercaya keluarga Mahendra.
.
.
" Assalamu'alaikum, Mey..." teriak Adam di depan teras rumah Medina.
Sudah jam tujuh pagi, namun gadis itu belum ada tanda - tanda keluar dari rumahnya. Adam takut terjadi sesuatu dengan gadis itu.
" Mey... kau ada di dalam?" teriak Adam lagi.
" Dam, ada apa? Memangnya Medina sudah pulang?" tanya Bayu yang kebetulan lewat.
" Bay, bantu aku panggil Medina. Dia sudah pulang dari semalam tapi jam segini belum keluar dari rumah."
" Dia sudah tahu soal_..."
" Ssttt... jangan keras - keras, aku belum kasih tahu dia." bisik Adam.
Bayu berkali - kali mengetuk sambil berteriak, namun tetap tak ada sahutan dari dalam. Mereka jadi cemas, takut gadis itu sudah tahu kabar ayahnya dari orang lain.
__ADS_1
" Hhh... kalian berisik sekali! Ada apa sih?" pekik Medina dengan muka cemberut.
" Ya Allah, Mey... kau baru bangun jam segini?" seru Bayu.
" Lebay...! Aku capek tahu nggak, kalian ngapain kesini pagi - pagi."
" Aku bawa sarapan buat kamu, cepat mandi sana!" titah Adam.
" Ayah pergi kemana sih, Dam? Kok ponselnya juga tak bisa dihubungi?"
" Nanti setelah kamu sarapan, kita pergi cari ayahmu."
" Ya udah, aku mandi dulu. Kalian tunggu disini sebentar, jangan pergi."
" Iya, Mey."
Satu jam kemudian,
Medina, Rifky, Adam dan Bayu sudah sampai di depan rumah sakit. Sejak keluar dari mobil, Rifky tak melepaskan genggaman tangannya pada gadis yang sedari tadi bingung.
" Kak, kenapa kita ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Medina.
" Masuk dulu ya, sayang." lirih Rifky.
Sampai di depan ruang ICU, mereka sudah disambut orangtuanya Rifky. Medina semakin heran saat mama Kamila memeluknya sambil menangis.
" Mama... Ada apa?" lirih Medina.
Mama Kamila membawa Medina ke depan pintu ruang ICU. Medina melihat dari balik kaca untuk melihat siapa pasien yang dirawat di dalam ruangan itu.
" Astaghfirullah... Ayah!" pekik Medina.
Medina menatap lekat ayahnya yang terbaring tak berdaya. Tubuhnya seketika luruh ke lantai sambil terisak. Entah apa yang sudah terjadi, namun dirinya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga ayahnya.
" Adam...! Katakan padaku apa yang terjadi? Kau sudah berjanji akan menjaga ayah, kan? Mana... kau lihat sekarang seperti apa keadaan ayah!" teriak Medina.
" Maafkan aku, Mey... Aku tidak tahu semua ini bakalan terjadi pada ayahmu." Adam bersimpuh di depan Medina dengan rasa bersalahnya.
Berkali - kali gadis itu memukul dada Adam dan semua yang melihat membiarkannya termasuk Rifky. Medina sedang meluapkan kekesalannya sambil menangis histeris. Setelah pukulannya semakin melemah, Rifky segera memeluknya dari belakang agar gadis itu tak jatuh ke lantai.
" Sudah, sayang... kamu yang sabar ya? Kami semua akan selalu ada untukmu." lirih Rifky.
Kini Medina membenamkan wajahnya dalam dekapan Rifky dengan tangisan yang semakin histeris hingga akhirnya tubuhnya semakin lemah dan tak sadarkan diri.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.