
" Sial...!" pekik Medina.
Saat Medina hendak berdiri, suara langkah beberapa orang yang berlari mendekatinya dengan lampu senter yang menyorot ke arahnya.
" Mey...!" seru salah satu dari mereka.
Medina yang mendengar suaranya dipanggil langsung mendongak. Seorang pria yang sangat ia kenal mendekatinya.
" Bayu...!" pekik Medina.
Bayu membantu Medina untuk berdiri karena kakinya terluka akibat jatuh tadi. Untungnya jatuhnya tidak terlalu dalam dan tidak ada batu yang membenturnya.
" Kau tidak apa - apa, Mey?"
" Ya, aku baik - baik saja. Hanya kaki yang sepertinya kena ranting waktu jatuh tadi."
" Ya sudah kita turun sekarang. Lukamu harus diobati."
" Bay, apa kau kesini untuk mencariku?"
" Tidak. Aku lagi cari kelinci buat bikin sate."
" Bayu...!"
Bayu tersenyum melihat sahabatnya yang cemberut. Belum ada sebulan mereka berpisah namun mereka sudah saling merindukan.
" Iya - iya, aku mencarimu dari pagi." ungkap Bayu.
" Bagaimana kau tahu aku disini?"
" Insting. Aku hanya menuruti kata hati saja saat mencarimu."
" Kau tahu dari mana aku diculik?"
" Kak Rifky, kak Hans dan kak Jonathan juga ada disini. Kami semua mencarimu, kebetulan tadi malam aku ke kota ini untuk suatu urusan."
" Aku pasti hanya merepotkan ya, Bay?"
" Diam, ayo turun sekarang."
" Tapi masih ada lima perempuan yang disekap diatas sana, Bay. Aku sudah berjanji akan menolong mereka."
" Iya, biarkan kami yang bergerak ke atas sana. Kau akan kuantar ke bawah."
" Tapi aku ikut ke atas, Bay."
" Dengarkan aku, Mey! Kau jalan saja susah, jangan keras kepala!"
Untung saja mereka berbicara dengan bahasa Indonesia sehingga orang - orang yang bersamanya tidak tahu perdebatan mereka.
" Kalian hubungi kak Hans, katakan istri Boss besar sudah ketemu. Lanjutkan perjalanan mencari para wanita yang di sekap di atas sana." kata Bayu pada temannya.
" Baik, kami akan lanjutkan perjalanan. Apa kau butuh pengawalan?" sahut teman Bayu.
" Tidak usah, pastikan saja mereka tidak mengejar kami."
" Mey, ayo turun! Naiklah ke punggungku, kau tidak akan bisa berjalan ke bawah sana." ujar Bayu.
__ADS_1
" Kau tidak akan kuat menggendongku sampai ke bawah, Bay."
" Belum di coba mana kita tahu, Mey...?"
Medina naik ke punggung Bayu. Mereka menuruni bukit dalam kegelapan karena tak ingin para penjahat mengejarnya.
.
.
Sementara itu, Rifky merasa lega setelah salah satu anak buahnya yang dipimpin Bayu melaporkan jika Medina sudah ditemukan dan dibawa Bayu ke desa karena terluka dan harus segera diobati.
" Detektif Kang, masih ada lima wanita yang di sekap di sebuah rumah di atas bukit. Kita sudah setengah jalan, walaupun orang yang kami cari berhasil kabur tapi kami akan tetap membantu Anda untuk menangkap mereka sampai ke akarnya." kata Hans.
" Terima kasih, Hans. Kau sudah sering membantu pekerjaanku." ucap Detektif Kang.
" Boss, kau turun saja untuk melihat kondisi istrimu. Biar kami yang meneruskan misi ini." ucap Hans.
" Tidak, Hans. Kau sudah terlalu lama meninggalkan anak istrimu. Biar aku dan Jonathan saja yang membantu Detektif Kang. Kau ajak Medina dan Bayu kembali ke Seoul."
" Baiklah, kalian hati - hati."
Rifky bersama yang lain melanjutkan perjalanan naik ke atas bukit untuk memberantas sindikat penjualan wanita.
Butuh waktu hampir 30 menit untuk sampai keatas bukit. Mereka segera mengepung rumah yang tidak terlalu besar itu namun dua lantai.
" Boss, aku akan menyelamatkan para wanita yang di sekap itu dari belakang." kata Jonathan.
" Bawalah beberapa orang bersamamu. Aku dan Detektif Kang akan menyerang dari depan." lirih Rifky.
" Apa saja kerja kalian! Menjaga wanita saja tidak bisa, kalau dia sampai ke kantor polisi kita semua pasti mendekam di penjara." teriak pria paruh baya dengan geram.
" Boss, kami akan segera mendapatkan wanita itu kembali. Dia pasti belum jauh dari sini karena medannya sangat sulit untuk dilewati."
" Benar, Boss. Diluar sangat gelap, wanita itu pasti tidak akan bisa turun ke bawah dengan mudah."
Saat mereka sudah bersiap untuk mencari keberadaan Medina, tiba - tiba terdengar suara gaduh diluar rumah. Pintu juga di dobrak dari luar hingga roboh.
" Siapa yang berani mengusikku!" teriak pimpinan penjahat itu.
" Tuan Jung...? Jadi kau pimpinan para tikus ini."
" Detektif Kang...! Kau_..."
" Kenapa kaget? Kita berteman sudah lama, tapi saya tidak mengenal Anda sama sekali. Sungguh saya ini teman yang buruk."
" Saya tidak pernah mengusikmu Detektif, jadi jangan campuri urusanku!"
Detektif Kang duduk di kursi yang berseberangan dengan Tuan Jung. Tatapan tajamnya membuat siapapun akan takut padanya.
" Dengan menculik dan menjual para gadis, kau pikir itu tidak mengusikku? Kau menambah pekerjaanku, sialan...!" Detektif Kang menggebrak meja dengan keras.
" Tidak semudah itu kau bisa keluar dari sini, Kang. Anak buahku banyak, takkan ada yang menolongmu sekarang."
" Kau benar, saya hanya membawa sedikit anggotaku kesini. Tapi lihatlah keluar! Anak buahmu sudah tertangkap semua. Kau tahu kenapa? Karena kau salah menculik wanita."
" Apa maksudmu?"
__ADS_1
" Wanita yang kau culik kemarin, salah satunya adalah istri dari Presdir salah satu perusahaan terbesar di Seoul."
" Apaaa...? Istri Presdir...? Tidak mungkin! Kau pasti berbohong!"
" Kau pasti mengenal pria yang berdiri di depan pintu itu. Beliau sering masuk media cetak maupun elektronik."
Rifky berdiri di depan pintu sambil memutar - mutar pistol di tangannya. Wajah yang selalu terlihat penuh wibawa di layar kaca. Tidak mungkin ada orang yang tidak mengenali wajah tampan Rifky Mahendra terutama warga Seoul. Perusahaan besar yang mempekerjakan ribuan warga Seoul itu kini berkembang semakin cepat.
" Tuan Mahendra...!" ucap pimpinan penjahat itu.
" Saya tidak mau membuang banyak waktu, katakan siapa Boss utama kalian!" Rifky bertanya dengan tatapan dinginnya.
" Saya tidak bisa mengatakannya, Tuan."
Rifky mendekati Tuan Jung lalu menarik kerah bajunya dengan kasar. Pistol di tangannya sudah mengarah tepat di kepala penjahat itu.
" Jangan sampai mayatmu membusuk di atas bukit ini digerogoti ulat sedikit demi sedikit!" ancam Rifky.
" Ampuni saya, Tuan."
Rifky menghempaskan tubuh pria paruh baya itu saat Ayumi menghubunginya untuk menanyakan kabar terbaru tentang Medina. Semua urusan ia serahkan kepada Detektif Kang walaupun Rifky dan anak buahnya akan tetap membantu mengejar Boss utamanya.
.
.
Sementara di tempat lain, Bayu dengan terengah - engah menggendong Medina yang terlihat semakin lemah. Tinggal sedikit lagi mereka akan sampai di desa. Mereka akan beristirahat di rumah yang di sewa siang tadi.
" Maaf ya, Bay... Kamu pasti lelah gendong aku dari atas bukit."
" Jangan ajak aku bicara dulu, Mey. Aku bisa kehabisan nafas nanti."
" Iya, maaf..."
" Tuh, rumah yang di depan itu bisa kita pakai untuk beristirahat sembari menunggu kak Rifky turun."
" Syukurlah tempatnya sudah dekat. Tubuhku kok lemes banget ya, Bay."
" Sabar, sebentar lagi sampai. Eh, tunggu... Kamu kok basah Mey?"
" Basah apanya?"
Saat sampai di rumah persinggahan, Bayu menurunkan Medina dari gendongannya di bantu beberapa temannya yang berjaga di rumah itu.
" Bayu... Baju kamu basah dengan darah...?" tanya salah satu rekan Bayu.
" Darah...?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1