Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Kerjasama dalam tim


__ADS_3

Rifky dan yang lainnya langsung bergabung bersama dengan Adam dan Johan. Sepertinya memang masalahnya sangat serius.


" Perlu bantuan saya juga?" ucap Devan"


" Apa yang bisa kau lakukan?" kata Rifky.


" Mmm... Saya pernah belajar jadi hacker juga walaupun masih amatir."


" Ya sudah, kau bantu Adam menghadang hacker itu. Saya akan bantu Johan membuat aplikasi baru."


Walaupun sedang liburan, mereka tidak pernah lupa untuk membawa laptop karena sering sekali ada pekerjaan mendadak.


Rifky, Johan dan Bayu sedang merancang aplikasi baru di laptop masing - masing untuk nantinya digabungkan menjadi satu. Pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan pikiran.


Sementara Adam, Devan dan Nicko menghadang setiap hacker itu akan mencuri data. Devan memang sudah terlatih sejak masih sekolah di SMP untuk urusan seperti ini.


" Bisa kalian ambil satu laptop lagi? Kalian cegah dia, biar saya cari identitas hacker itu." ucap Devan.


Karena Devan juga tidak menyangka kejadiannya seperti ini, Devan juga tidak membawa laptop sendiri dari rumah.


Saking sibuknya, mereka sampai lupa makan dan minum. Hampir dua jam mereka berkutat dengan laptopnya, namun perang dengan hacker belum juga usai. Medina, Clarissa dan Ririn ingin membantu, tapi bukan bidang mereka.


" Rin, bagaimana kalau kita suapi saja mereka makan, sepertinya mereka akan melewatkan makan siang kalau seperti ini terus." ujar Medina.


" Ok, karena ada enam orang jadi kita suapi dua orang." sahut Ririn.


" Tapi aku gimana? Kalau Devan tidak apa - apa, kalau yang lain aku baru kenal." ucap Clarissa.


" Tidak apa - apa, situasinya darurat sekarang."


" Aunty, ada apa?" tiba - tiba Alicia datang.


" Kenapa tidak tidur siang, sayang. Aunty mau suapi para Uncle yang sedang bekerja disana." tunjuk Medina ke ruang tamu.


" Alicia mau suapi Uncle Adam, boleh?" pinta Alicia.


" Kamu bisa?"


" Tentu saja, saya sudah terbiasa makan bersama Uncle Adam."


Clarissa bernafas lega karena tidak harus menyuapi Adam. Harus melakukan itu pada Devan saja dia merasa sangat gugup apalagi Adam yang baru dikenalnya. Adam juga terkesan pendiam dan datar pada orang asing.


" Ayah, kerjanya sambil makan. Bunda suapi biar bisa sambil kerja." ucap Medina.


" Terima kasih, Bunda." balas Rifky sembari mengecup pipi istrinya sekilas.


" Mey, aku gimana?" protes Bayu.


" Sabar, gantian sama Kak Rifky. Kamu mau disuapi pakai kaki!" sahut Medina.


" Yang, nggak sopan!" tegur Rifky.


Medina nyengir lalu menyuapi suaminya dengan pelan dan telaten. Setelah itu, ia gantian menyuapi Bayu.

__ADS_1


Sementara di kursi lain, Ririn juga menyuapi Nicko. Walaupun keduanya masih canggung, namun harus terlihat biasa saja dalam keadaan genting seperti saat ini.


" Sebentar, Rin. Jadi buyar ini kerjaan aku." lirih Nicko.


" Diam dan cepat makan! Johan juga belum makan." tegur Ririn.


" Udah, kenyang. Nanti saja kalau ini sudah selesai bisa makan lagi." tolak Nicko.


Kini Ririn beralih membawa piring baru untuk menyuapi Johan. Sementara itu, tangan kecil Alicia menyuapi Adam dengan hati - hati.


" Terima kasih, sayang." ucap Adam.


" Makan yang banyak, Uncle." celoteh Alicia.


Setelah semua selesai dengan makannya, mereka kembali fokus dengan laptop masing - masing. Medina kembali ke kamar bersama Alicia untuk menemani Shaka yang tidur. Ririn dan Clarissa juga masuk ke kamar menemani Arata dan Siena.


.


.


Semua akhirnya bernafas lega setelah Johan dapat menyelesaikan aplikasi baru untuk menyimpan data perusahaan. Tubuh mereka seakan remuk padahal hanya duduk saja sambil berkutat dengan laptop.


" Kak, saya sudah menemukan posisi hacker itu sekarang. Adakah orang kepercayaanmu disana?" tanya Devan.


" Biar diurus orangnya Kim. Nick... Hubungi Kim sekarang, suruh dia kembali ke Jepang untuk mengurus masalah ini. Anak buahnya harus menangkap hacker itu sekarang juga." perintah Rifky.


" Baik, Boss." jawab Nicko.


Medina menghampiri mereka yang tengah rebahan di sofa, ada pula yang tergeletak di lantai. Sepertinya mereka benar - benar lelah. Kerjasama tim yang hebat telah mereka buktikan dengan cepatnya mereka menyelamatkan data perusahaan.


" Sayang, Shaka udah bangun?"


" Sudah, anak - anak sudah rapi semua. Jadi pulang hari ini?"


" Iya, sayang. Besok Ayah dan Nicko ada pekerjaan penting di kantor."


" Ya udah, mandi sana. Kita siap - siap untuk pulang."


Dengan langkah gontai, semua beranjak ke kamar masing - masing untuk mandi dan membereskan barang - barang mereka.


Setelah maghrib dan makan malam, mereka segera meninggalkan Villa. Mereka akan akan menginap di rumah Rifky kecuali Devan dan Clarissa.


" Ayah capek, ya?" lirih Medina.


" Nggak, sayang. Masih kuat tiga ronde," bisik Rifky tersenyum jahil.


" Apa sih!" Medina mencubit lengan suaminya kesal.


Rifky rebahan di pangkuan Medina sementara Shaka berada di pangkuan Ririn yang duduk di depan bersama Nicko. Devan dan Clarissa dengan mobil yang berbeda. Begitu pula dengan Adam, Bayu dan Johan, mereka dengan mobil sendiri bersama anak - anak Jonathan dan Hans.


" Nanti malam bantuin bikin tugas kuliah, ya?" mohon Medina.


" Sudah berapa kali Ayah bilang, untuk urusan kuliah semua Bunda sendiri yang urus. Ayah cuma bagian administrasinya saja." tolak Rifky.

__ADS_1


" Pelit...!" sungut Medina.


" Bukannya pelit, tapi belajar mandiri dan tanggung jawab." ujar Rifky.


" Duduk sendiri sana!" Medina menggoyangkan tubuh Rifky supaya beranjak dari pangkuannya.


" Gitu aja ngambek, iya nanti Ayah bantu."


Perjalanan yang tidak terlalu jauh namun sangat melelahkan. Mereka akhirnya bisa bernafas lega setelah memasuki halaman rumah keluarga Mahendra.


Rifky langsung keluar dari mobil dan mengambil alih putranya dari gendongan Ririn. Shaka yang tertidur pulas membuat Rifky harus cepat ke kamar agar putranya nyaman tidurnya.


" Yang, kamu tunjukkan kamar untuk teman - temanmu. Ayah mau ke kamar dulu."


" Iya, Ayah. Tapi Ririn dan Kak Nicko langsung pulang?"


" Nicko hanya antar Ririn ke Apartemen, nanti balik lagi."


" Sekarang sudah malam, Yah. Kenapa kak Nicko harus balik lagi?"


" Ada pekerjaan penting yang harus selesai malam ini, Bunda."


" Apa tidak bisa diselesaikan besok?"


" Besok pagi sudah harus dipakai untuk presentasi."


Rifky jalan duluan ke kamar, sementara Medina mengantar tiga sahabatnya ke kamar tamu yang berada di lantai satu.


" Kalian bisa pilih kamar sendiri. Ada lima kamar tamu disini yang kosong, asal jangan masuk ke kamar itu." Medina menunjuk ke salah satu kamar.


" Kenapa tidak boleh, Mey?" tanya Bayu.


" Itu kamar mertuaku." jawab Medina nyengir.


Setelah semua masuk ke dalam kamar, Medina bergegas menuju kamarnya sendiri untuk menyusul suami dan anaknya.


" Udah, sayang?" tanya Rifky.


" Hmm... untung tadi udah makan disana, jadi bisa langsung tidur." jawab Medina.


" Mandi dulu, yuk?" ajak Rifky.


" Ayah duluan aja,"


" Tidak! Ayah tahu Bunda pasti langsung tidur kalau tidak mandi bareng."


Medina yang tidak mau berdebat langsung duduk di pangkuan sang suami pertanda ia minta di gendong sampai ke kamar mandi.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2