
" Yang paling saya cintai adalah_..." ucap Rifky sambil tersenyum.
" Kak, lepaskan tanganku..." lirih Medina.
Rifky hanya tersenyum pada Medina lalu menatap semua orang disana sebelum melanjutkan ucapannya.
" Yang paling saya cintai adalah Allah dan RosulNya. Allah SWT adalah yang pertama dan utama, setelahnya adalah kekasih Allah... Rosulullah Muhammad SAW. Setelah itu... kalian tahu sendiri siapa yang saya cintai." Rifky menatap lembut Medina dengan seulas senyum.
" Kakak... kau mengerjaiku!" sungut Medina.
Anak - anak bertepuk tangan dengan jawaban Rifky yang begitu menyentuh hati. Teman - teman Medina menghela nafas panjang seraya tersenyum.
" Karena hari semakin sore, sebaiknya kita mulai mengaji. Lain kali kita bisa bermain lagi, kalian harus belajar lebih rajin lagi." kata Rifky.
Rifky menyerahkan sejumlah uang kepada Bayu untuk dibagikan kepada anak - anak yang tadi tidak menjawab pertanyaan darinya. Setelah itu, Rifky mengajak Medina untuk duduk di tempat yang sedikit jauh dari teman - temannya.
" Sayang, maafin aku ya? Mungkin tadi siang aku sudah membuatmu marah." ucap Rifky serius.
" Sudahlah, aku mau mengajar anak - anak dulu." kata Medina datar.
" Kenapa? Kamu memang bukan yang utama namun aku akan selalu ada untukmu selamanya. Aku mencintaimu karena Allah, semoga kita ditakdirkan berjodoh."
" Apa yang kakak suka dariku? Aku merasa tidak pantas berada di sisi kak Rifky."
" Dari sudut pandang mana kamu bilang tidak pantas? Untuk urusan hati, jangan kamu pandang karena harta dan kasta. Semua itu tidak akan dibawa mati, karena hanya cinta dan kasih sayang yang tak akan pernah sirna."
" Maafin Dina, kak. Harusnya Dina percaya dengan kakak."
" Tidak apa - apa, cemburu itu adalah tanda dari ungkapan cinta yang tak bisa kamu ucapkan dengan kata - kata." Rifky tersenyum seraya memberikan sejumlah uang kepada Medina.
" Uang apa ini, kak?"
" Buat kamu, besok kakak mau ke Jepang selama beberapa hari. Ini buat kebutuhan kamu selama kakak tidak ada. Anggap saja ini nafkah dari calon suami."
" Astaghfirullah... Dina sampai lupa." pekik Medina.
" Lupa apa, Calis sayang?"
" Soal nafkah... tadi Dani menitipkan sejumlah uang untuk gadis itu. Katanya buat nafkah walaupun mereka belum menikah."
" Dia serius mau menikahi gadis itu?"
" Katanya begitu, tapi sepertinya orangtuanya tidak setuju."
" Kalau dia memang serius, sebagai laki - laki pasti bisa membuat keputusan sendiri."
" Seandainya orangtua kak Rifky tidak bisa menerima Dina gimana?"
Rifky menatap lekat kekasihnya. Memang ada rasa takut dari sorot mata gadis itu saat mengucapkan kalimat itu.
" Sayang, apapun yang terjadi... Kakak tidak akan melepaskanmu. Tidak akan ada orang yang bisa menghalangi cinta kita."
" Tidak, kak. Dina tidak mau menjalin hubungan tanpa restu orangtua."
" Sudah, tidak usah pikirkan itu dulu. Lagian kita nggak buru - buru nikah juga. Nanti kakak akan berusaha untuk mendapatkan restu dari mama. Atau... jangan - jangan kamu sudah nggak sabar ya pengen kakak halalin?" goda Rifky.
" Ish... siapa juga yang mau nikah sama cowok nyebelin kayak kak Rifky!"
Medina mengacak - acak rambut Rifky hingga terlihat sangat berantakan. Pria itu hanya bisa pasrah daripada nanti tidak boleh bertemu lagi.
" Hmmm... puasa nih, inget." sindir Dani yang baru saja datang.
" Eh... Dan, kok baru datang jam segini?" sahut Medina.
__ADS_1
" Tadi ada urusan sebentar, kok kamu masih diluar? Malah pacaran lagi."
" Apaan sih, ayo masuk."
" Pacarnya nggak diajak masuk?"
" Biarin aja dia jaga parkiran."
" Kak, tolong jagain motor saya ya?" ucap Dani sambil nyengir.
" Enak aja, bisa bayar berapa minta dijagain motornya!" ketus Rifky.
" Bayarannya itu cinta Medina yang tiada habisnya."
" Dani...! Awas kau, jangan menyesal kalau kubuat kau masuk IGD lagi." teriak Medina.
¤ ¤ ¤
" Sayang, udah selesai ngajinya?" tanya Rifky yang baru datang entah dari mana.
" Udah, kak. Tinggal bagi makanan untuk buka nanti." jawab Medina.
" Mmm... nanti buka bersama di rumah om Jamal ya?"
" Tapi, kak... Ayah nanti sendirian di rumah."
" Nanti ayah juga diajak, sayang."
" Tadi Dina udah terlanjur masak sebelum kesini,"
" Ya sudah, ayo pulang sekarang."
Dalam perjalanan pulang, Rifky lebih memilih diam daripada memicu keributan lagi. Rasanya sangat lelah setiap kali bertemu pasti ada saja masalah yang muncul.
" Sayang, kakak langsung pulang ya?" pamit Rifky di depan rumah Medina.
" Tidak apa - apa, lain kali semoga saja bisa."
" Kak_..." ucap Medina ragu.
" Ya...? Kenapa?"
" Nanti malam kakak kesini, kan?"
Rifky tersenyum bahagia. Kekasihnya itu terlihat sangat menggemaskan. Tidak sabar rasanya ingin menghalalkannya.
" Memangnya untuk apa kesini?" tanya Rifky.
" Mmm... tidak apa - apa, Dina masuk dulu."
" Eh... sebentar, gitu aja ngambek. Nanti ke mushola bareng, tungguin kakak."
" Hmm..."
" Udah, biasa aja mukanya. Nanti setelah tarawih kakak kesini."
" Mmm... nanti_..."
" Masuk, sholat maghrib sana. Kakak pulang dulu, assalamu'alaikum..."
" Wa'alaikumsalam."
¤ ¤ ¤
__ADS_1
Setelah sholat tarawih di Mushola, Medina pulang duluan bersama ibunya Adam. Pak Hasan dan yang lainnya masih mengobrol di teras Mushola.
" Bu, pasti capek ya membuat pesanan catering setiap hari?" tanya Medina.
" Inikan sudah pekerjaan ibu, Din. Ibu malah bersyukur dapat orderan ini, jadi pendapatan bulan ini bisa buat bayar kelulusan Adam nanti." jawab ibunya Adam.
" Dina salut dengan kerja keras ibu. Adam pasti bangga memiliki ibu yang sangat hebat."
" Kau ini bisa aja, Din. Ya udah, ayo mampir ke rumah ibu."
" Lain kali ya, Bu. Dina pulang saja, belum sempat beresin dapur tadi."
" Ya sudah, ibu masuk dulu."
" Iya, bu."
Medina masuk ke dalam rumah dan segera membersihkan dapur setelah meletakkan sajadah dan mukenah di kamarnya. Walaupun tubuhnya lelah, tapi dia tetap bersemangat melakukannya.
" Assalamu'alaikum, calon istri..." Rifky berdiri tepat di belakang Medina.
" Astaghfirullah... Wa'alaikumsalam. Kakak ngagetin aku sih,"
" Maaf, sayang. Kakak tidak bermaksud membuatmu kaget."
" Ayah mana?"
" Masih di Mushola, kakak pulang duluan tadi sama Adam."
" Lama banget pulangnya!"
" Ada apa sih? Kamu kelihatan gelisah sekali."
" Kak, Dina pengen jalan - jalan keluar."
" Malam - malam begini? Kamu tidak merencanakan hal - hal yang aneh, kan?"
" Jangan su'udzon, Dina cuma mau jalan - jalan saja."
" Ya sudah, tapi kalau paman mengijinkan."
" Kakak yang minta ijin sama ayah, ya?" rengek Medina.
" Kau berniat mau menjadikan aku umpan? Gadis brutalku kembali berulah rupanya."
Medina mencebikkan bibirnya lalu membasuh kedua tangannya setelah mencuci piring. Sebenarnya dia ingin mengecek sendiri keadaan para pedagang di pinggir jalan. Bagaimanapun juga dia sudah masuk dalam komunitas yang ia bangun itu. Walaupun semua pekerjaan ia serahkan kepada Jefri, namun Medina juga ikut tanggung jawab jika suatu saat terjadi sesuatu di jalanan maupun pasar.
" Kak, Dina sudah lama tidak mengecek jalanan. Mumpung kakak ada disini, jadi temenin Dina."
" Hhh... kau selalu memanfaatkan kelemahanku, sayang."
" Itulah gunanya calon suami, harus selalu ada saat calon istri membutuhkan." bisik Medina.
" Sebuah ungkapan cinta yang manis."
Tanpa Medina sadari, Rifky mencuri ciuman di keningnya lalu berlari keluar rumah sebelum gadis kesayangannya itu mengeluarkan sumpah serapahnya.
" Kak Rifkyyy...!"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.