Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Kaulah hidupku


__ADS_3

" Sayang_..." ucap Rifky lirih.


" Aku lagi nggak mood berdebat dengan kakak." sahut Medina datar.


" Ikut kakak! Ada yang harus kita bicarakan." ujar Rifky sembari menarik lengan kekasihnya.


Saat melewati pak Hasan, Rifky langsung meminta ijin untuk mengajak Medina. Meskipun Medina sempat meronta namun Rifky malah melingkarkan tangannya di bahu gadisnya.


" Masuklah!" titah Rifky.


" Mau kemana sih, kak?" sungut Medina.


" Ikut saja! Jangan bertanya apapun sebelum sampai di tujuan."


Rifky mendorong pelan tubuh kekasihnya agar segera masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan gadis itu duduk dengan nyaman, Rifky segera masuk ke kursi kemudi.


" Kak_..."


" Ssttt...!"


" Kakaakkk...!"


" Ada apa, Calis...?"


" Kita mau kemana...?"


" Hhh... terserah kamu aja, sayang."


Medina mengerucutkan bibirnya sambil menatap tajam pada pria di sampingnya yang kini tengah melajukan mobilnya dengan pelan.


" Dina mau pulang," rengek Medina.


" Jangan seperti anak kecil, kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu katakan saja." ujar Rifky.


Rifky mempercepat laju mobilnya hingga tak berselang lama sampailah di kota kecamatan. Disana ada sebuah taman yang sering dijadikan tempat berkumpul para remaja.


" Ayo turun," titah Rifky.


Medina melangkah sambil merangkul lengan Rifky karena ini pertama kalinya dia di tempat seperti ini. Rasa tak nyaman dan juga dingin yang menusuk hingga ke tulangnya membuatnya semakin mengeratkan pelukannya.


" Sayang, kita duduk disana saja. Kamu duluan saja, kakak mau cari minuman hangat untuk kita."


" Kak Rifky mau ninggalin aku sendirian disini?"


" Cuma sebentar sayangku, tidak usah takut."


" Dina nggak mau sendirian disini,"


" Ish... sejak kapan gadis brutal sepertimu punya rasa takut? Kalau ada yang mengganggumu, langsung hajar saja."


" Kakaakkk...!"


Rifky hanya tersenyum lalu mengacak pelan rambut kekasihnya dengan gemas. Ditautkan kedua tangannya di sela - sela jemari kekasihnya.


" Kaulah hidupku, selamanya kita akan selalu bersama. Meskipun saat ini kita masih terpisah oleh jarak, tapi semua itu tidak akan merubah cintaku padamu." ucap Rifky lembut.

__ADS_1


" Kakak tidak bohong, kan?"


" Iya, sayangku. Secepatnya kakak akan menikahimu."


" Apa itu tidak terlalu cepat, kak? Dina masih pengen kuliah,"


" Tidak masalah kok kuliah setelah menikah, banyak yang seperti itu. Kakak tidak mau menunggu hingga kamu lulus kuliah. Aku tidak sekuat itu, sayangku."


" Dina itu pengen kuliah di Universitas negeri pakai jalur beasiswa, kak. Memangnya bisa kalau statusnya udah nikah?"


Rifky tersenyum sambil menatap lekat gadisnya yang terlihat sangat polos. Dia berusaha untuk tak mencium dan memeluk kekasihnya di tempat umum.


" Duduklah!" titah Rifky.


Rifky menarik tangan gadisnya menuju sebuah kursi di sudut taman. Setelah itu ia merapatkan posisi duduknya merangkul bahu Medina.


" Semakin hari kamu semakin cantik dan manis. Tak sabar rasanya menunggu hari pernikahan kita." bisik Rifky.


" Tapi, kak_..."


" Masalah kuliah? Nanti kakak akan carikan Universitas terbaik di kota."


" Tapi biayanya pasti mahal, kak?"


" Huft... apa kamu meragukan kakak? Jangankan cuma universitas di kota, sampai luar negeri saja kakak sanggup menanggung semua biayanya."


" Dina tidak mau merepotkan kakak,"


" He... kamu ini kekasihku, calon ibu dari anak - anakku kelak. Apapun yang kamu butuhkan, semuanya akan menjadi tanggung jawabku untuk memenuhinya."


Rifky membenamkan gadisnya ke dalam dadanya dengan sangat erat. Matanya terpejam merasakan kenyaman dalam hati dan jiwanya.


" Ikutlah ke kota, besok udah nggak sekolah kan?" ujar Rifky.


" Ayah tidak akan mengijinkan aku pergi, kak." sahut Medina.


" Yang penting kamu mau, kakak yang akan bilang sama paman."


¤ ¤ ¤


Seperti yang telah mereka sepakati semalam, pagi ini Medina bersiap mengemasi beberapa bajunya ke dalam tas ransel setelah Rifky berhasil memperoleh ijin dari pak Hasan.


" Sayang, udah belum? Keburu siang nih, kakak ada sedikit pekerjaan di kantor siang ini."


" Jadi kakak nggak ada liburnya?"


" Lusa kakak libur, sayang."


" Terus ngapain Dina ikut kalau nanti cuma di tinggal kerja?"


" Hei... disana nanti ada mama, sayangku. Setelah pekerjaan di kantor selesai, kakak pasti langsung pulang."


Medina tak lagi protes terhadap Rifky karena tak ingin berdebat lagi. Gadis itu segera berpamitan pada ayahnya dengan memeluknya sangat erat.


" Ayah, Dina tidak akan lama perginya. Ayah jaga diri baik - baik, kalau butuh bantuan apapun bilang saja sama Adam atau Bayu." ucap Medina.

__ADS_1


' Hmm... tidak usah khawatir soal ayah, semuanya akan baik - baik saja. Kamu yang harus jaga diri disana, jangan membuat malu ayah. Bersikaplah yang sopan disana, kamu itu seorang gadis." pesan pak Hasan.


" Dina janji akan melakukan pesan dari ayah."


Setelah selesai berpamitan, Medina segera masuk ke dalam mobil bersama Rifky. Ada rasa tidak tega meninggalkan ayahnya sendiri di rumah walau cuma beberapa hari. Perlahan Rifky melajukan mobilnya meninggalkan desa.


" Sayang... kamu kenapa diem aja sih dari tadi?" tanya Rifky heran.


" Tidak apa - apa, kak." jawab Medina datar.


" Kita istirahat dulu di depan sana," ucap Rifky.


Belum ada setengah perjalanan, Rifky memarkirkan mobilnya di rest area. Mereka masuk ke sebuah cafe untuk beristirahat sejenak.


" Mau minum apa, sayang?" tanya Rifky setelah mereka duduk di sudut ruangan yang tidak terlalu ramai.


" Jus mangga aja, kak." jawab Medina.


" Mau makan juga?"


" Tidak, kan tadi udah sarapan di rumah."


" Ya udah, kakak pesenin dulu."


Rifky memanggil pelayan yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Ia memesan jus mangga dan ice cappucino.


" Kak, kenapa sih Dina harus ikut ke rumah kakak?"


" Hhh... begini sayang... Mama ingin bertemu denganmu. Nanti kamu pasti tahu sendiri saat sudah ketemu."


" Jangan bikin aku penasaran, kak. Aku bukan orang yang bisa sabar."


" Hmm... sebentar lagi kita sampai calon istriku yang cantik,"


Setelah pesanan datang, mereka berdua menikmati minuman mereka masing - masing. Medina fokus pada minumannya sehingga tidak sadar jika sedari tadi Rifky terus menatapnya.


Setelah cukup beristirahat, Rifky dan Medina kembali melanjutkan perjalanan menuju kota. Medina memejamkan matanya karena merasa sangat mengantuk.


" Kak... Dina boleh tidur ya? Ngantuk banget, masih lama lagi perjalanannya."


" Iya, sayang... nanti kalau sudah sampai kakak bangunin."


Rifky membiarkan Medina tidur. Mungkin kekasihnya itu belum terbiasa melakukan perjalanan jarak jauh. Melihat wajah polos gadisnya, Rifky tersenyum bahagia. Kecantikan alami pada gadis itu membuat Rifky semakin terpesona. Sepanjang perjalanan, Rifky selalu menyempatkan waktu untuk melirik sekilas wajah cantik kekasihnya.


" Kaulah hidupku, sayang... tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Tanpamu aku rapuh, kau adalah semangat hidupku. Kuharap kamu bisa menerima cintaku dengan ikhlas." batin Rifky.


Rifky mengembangkan senyumnya mengingat sebentar lagi keinginannya akan tercapai. Dia sudah tak sabar menanti hari itu tiba. Semoga kekasihnya tak akan menolak dengan semua rencana yang telah dipersiapkan oleh orangtua masing - masing.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2