
Nicko memapah Rifky dari ruang pribadinya menuju ruang kerja. Disana sang istri sedang menonton film di ponsel sambil tersenyum - senyum sendiri.
" Istrimu kalau marah serem banget, Boss?" bisik Nicko seraya membantu Rifky duduk di kursi kerjanya.
" Tahu ah! Jangan bahas itu lagi. Kamu kenapa suruh aku ke kantor?" sahut Rifky.
" Maaf, Boss. Sebenarnya klien kita dari Singapore ada di Bali sekarang. Beliau meminta bertemu langsung denganmu di Bali malam ini."
" Malam ini? Di Bali...?"
" Mau ke Bali, Kak? Dina ikut ya...?" seru Medina tiba - tiba membuat Rifky dan Nicko kaget.
Medina sedikit berlari lalu duduk di pangkuan suaminya. Dia tidak peduli ada Nicko di hadapannya. Sifatnya yang manja membuat Rifky mempererat pelukannya.
" Di Bali kakak harus kerja, sayang."
" Pokoknya Dina ikut kemanapun kakak pergi." rengek Medina.
" Kapan perginya, Nick?"
" Sore ini juga, Boss. Aku pesankan tiket sekarang ya?"
" Jam berapa?"
" Jam lima, Boss. Pertemuannya di restoran hotel pukul delapan malam."
" Dina ikut, ya?"
" Pesankan dua tiket," perintah Rifky pada Nicko.
" Sekalian tiket pulang, Boss?"
" Tidak, aku akan kembali jika ada pekerjaan yang sangat penting."
" Kita nggak ada waktu buat packing, Kak."
" Nanti beli saja disana saat keluar dari Bandara,sayang."
" Ya sudah, Boss. Tiketnya sudah dapat, kita berangkat sekarang juga. Berkasnya sudah aku siapkan."
Mereka bertiga bergegas ke Bandara agar tidak ketinggalan pesawat. Waktunya sangat mepet sehingga mereka tidak membawa barang apapun.
Sampai di Bandara, Rifky menarik tangan Medina agar lebih cepat karena lima menit lagi pesawat lepas landas.
.
.
Rifky dan Medina sampai di Bandara Ngurah Rai, Bali satu jam kemudian. Rifky menyewa taksi untuk mengantar ke hotel tempat acara meeting diadakan karena tak ingin ribet ganti kendaraan jika berbeda hotel. Pertama, ia akan mencari pakaian ganti untuk dia dan istrinya, kemudian menuju hotel tempat mereka akan menginap.
" Sayang... kamu istirahat saja di kamar, nanti kakak belikan makan malam setelah meeting." ujar Rifky.
" Iya, tapi jangan lama - lama ya?" rengek Medina.
" Hmm... kakak tidak akan lama. Jangan keluar kamar sendirian dan tidak boleh ada orang lain yang masuk ke kamar meskipun itu pelayan hotel."
" Siap, suamiku...!"
Rifky mengecup bibir istrinya sekilas lalu keluar dari kamar karena waktunya sudah hampir terlambat untuk bertemu klien penting.
Medina yang bosan sendirian membuka pintu balkon untuk menghirup udara segar di malam hari. Dia terkejut saat melihat pemandangan di hadapannya.
" Subhanallah... hotel ini di pinggir pantai...!" seru Medina berdecak kagum.
__ADS_1
Istri dari Rifky Mahendra itu kembali bersemangat hingga sesekali berteriak kagum. Ingin rasanya ia segera lari ke pantai jika tidak ingat dengan pesan sang suami yang tidak mengijinkan ia keluar dari kamar sendirian.
" Kak Rifky mau nggak ya diajak ke pantai setelah meeting?" gumam Medina pelan.
Sambil menunggu suaminya datang, Medina duduk di kursi panjang balkon menatap deburan ombak pantai yang seakan melambai kepadanya untuk segera mendekat. Entah sejak kapan ia melamun hingga pelukan seseorang mengagetkannya.
" Astaghfirullah...!" pekik Medina.
Medina yang hendak menyerang itu langsung dipeluk semakin erat sehingga ia sulit untuk bergerak. Namun saat ia mencium bau parfum itu, Medina bisa bernafas lega.
" Kakak, ihh...! Ngagetin Dina aja deh." sungut Medina.
" Sorry, honey... Aku udah manggil kamu dari tadi tapi tak ada sahutan. Aku pikir kamu tidur, loh?"
" Dina pengen ke pantai, Kak."
" Besok pagi, sayang."
" Dina pengen sekarang, please...?"
" Makan dulu, ya?"
" Tapi janji ke pantai...?"
" Besok pagi kita lihat sunrise, ya? Malam ini kita istirahat dulu, sayang."
Medina menatap sendu kearah pantai lalu menghempaskan tangan sang suami yang melingkar di perutnya. Medina masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
" Sayang... makan dulu!" tegur Rifky.
" Makan aja sendiri." sahut Medina sambil menutupi seluruh tubuhnya.
" Jangan ngambek gitu, cepat makan."
" Makan sendiri atau kakak paksa!"
Medina beranjak dari tempat tidur dan segera berlari keluar kamar tidak memperdulikan teriakan suaminya. Medina bergegas masuk ke dalam lift untuk turun ke bawah.
" Hhh... kenapa dia keras kepala banget sih." keluh Rifky.
Rifky menghubungi pihak hotel untuk menyuruh salah satu pegawai keamanan mengikuti istrinya. Jika Rifky langsung menghampiri Medina, pasti istrinya itu akan lebih marah lagi dari sekarang.
Bukannya Rifky tidak mau menuruti keinginan istrinya, namun pekerjaannya yang sangat banyak itu membuat fisik Rifky sedikit melemah dan butuh istirahat yang cukup. Bahkan sebelum acara pernikahan, Rifky harus menyelesaikan pekerjaannya yang di Indonesia, Jepang dan Korea secara bersamaan.
" Sayang... tak bisakah kau menurut sebentar saja pada suamimu ini?" lirih Rifky.
Rifky turun ke bawah untuk menemui Manajer Hotel. Dia tidak boleh kehilangan jejak istrinya karena memang ini pertama kalinya sang istri ke pulau Bali.
" Dimana istriku...?"
" Ada di pantai, Tuan. Orang saya memantaunya dari jarak yang sedikit jauh agar istri Anda tidak merasa terganggu."
" Saya akan menyusulnya sekarang. Ini sudah terlalu malam untuknya bermain - main."
Rifky berjalan menuju pantai sesuai arahan sang Manajer. Namun saat ia semakin dekat kearah istrinya, terjadi keributan disana. Perkelahian yang tak seimbang membuat Rifky segera berlari takut istrinya terlibat disana.
" Tuan, tolong Nona itu." keamanan hotel itu jalan terseok ke arah Rifky.
" Kau yang bertugas menjaga istriku?"
" Saya menjaga istri Tuan Mahendra."
" Dimana istriku?"
__ADS_1
" Dia yang berkelahi disana, Tuan."
Rifky segera berlari menghampiri istrinya yang sedang berkelahi dengan lima preman. Rifky segera memecah pertarungan dengan menarik dua preman menjauh dari istrinya.
" Beraninya kalian mengeroyok perempuan...!"
Rifky menghajar mereka hingga babak belur lalu membantu Medina yang masih berkelahi dengan tiga preman lainnya.
" Sayang, are you okey...?" tanya Rifky khawatir.
" Apa pedulimu...!" ketus Medina seraya menghantam keras dada salah satu preman hingga tersungkur ke pasir.
" Cepat kalian pergi sebelum istriku menembak kepala kalian semua!" bentak Rifky tak ingin masalah semakin panjang.
" Hei... aku belum selesai bermain - main dengan mereka." protes Medina.
Rifky menarik Medina ke dalam pelukannya dan memberi kode kepada para preman untuk segera meninggalkan pantai.
" Sudah, ayo ikut kakak!"
Rifky menggendong tubuh istrinya menuju batu karang yang tidak terlalu besar. Rifky mendudukkan sang istri dengan pelan lalu dia duduk di belakangnya seraya mendekap erat tubuh Medina.
" Maaf... Kakak harusnya tidak membiarkanmu pergi sendirian." lirih Rifky.
Nafas Medina masih tersengal setelah berkelahi dengan preman tadi. Tubuhnya sedikit lemah karena kelelahan. Medina menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.
" Tidak apa - apa, Dina tahu kakak lelah. Makanya Dina tidak mau merepotkan kakak, Dina pengen melakukan semuanya sendiri."
" Kamu itu istriku, tidak boleh seperti itu. Kamu tanggung jawabku, sayang. Jangan pernah melakukan apapun tanpa kakak."
" Baiklah, Dina tidak akan melakukan apapun lagi. Dina akan menuruti semua perintah kak Rifky."
" Kau suka Bali?"
" Hmm..."
" Kita akan liburan disini sampai beberapa hari ke depan. Anggap saja kita sedang honeymoon."
" Benarkah...? Setiap pagi kita menyambut mentari di pantai?"
" Apapun yang kau inginkan, sayangku."
Medina menegakkan tubuhnya lalu mencium pipi Rifky dengan lembut. Rifky tersenyum lalu membalas ciuman sang istri tepat di bibirnya. Malam yang semakin dingin membuat pelukan mereka semakin erat.
" Ayo balik ke hotel, Kak."
" Sudah puas disini?"
" Belum, masih ada kesempatan di lain waktu."
" Ok, buat anggota baru ya di kamar?" bisik Rifky.
" Boleh, tapi gendong dari sini sampai kamar." sahut Medina seraya mencium leher suaminya.
Tak butuh waktu lama, Rifky menggendong sang istri sambil sedikit berlari. Semangatnya berkobar bak tentara perang yang rela mati demi bangsa dan negara tercinta.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.