Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Diam


__ADS_3

" Assalamu'alaikum," ucap Medina datar.


" Wa'alaikumsalam." jawab pak Hasan dan Rifky tanpa menoleh.


Pak Hasan mencoba mencari kunci di dalam tasnya untuk membuka pintu. Sedangkan Rifky yang baru menyadari gadis di belakangnya langsung berlari menghampiri.


" Medina! Kamu kenapa seperti ini?" pekik Rifky.


Pak Hasan yang kaget langsung menjatuhkan kunci di tangannya tanpa sadar lalu mendekati putrinya dengan perasaan khawatir.


" Dina, apa yang terjadi denganmu? Apa ada orang yang menyakitimu?" tanya pak Hasan cemas.


Medina hanya diam saja menatap ke depan tanpa ekspresi. Gadis itu hanya diam walaupun Rifky mengguncang tubuhnya cukup keras.


" Sayang, kamu kenapa? Bicara sama kakak, jangan diam begini." lirih Rifky.


Pak Hasan segera membuka pintu dan mengajak putrinya masuk ke dalam rumah. Medina langsung masuk ke dalam kamar mengabaikan Rifky dan ayahnya yang menatapnya cemas.


" Rifky, apa yang terjadi dengan putriku?" ucap pak Hasan parau.


" Maafkan Rifky, paman. Seandainya tadi Rifky tidak terlambat menjemput Medina, mungkin dia tidak akan seperti ini." kata Rifky merasa sangat bersalah.


Tak lama pintu kamar Medina terbuka dan gadis itu keluar tanpa sepatah katapun dari mulutnya. Dia langsung masuk ke kamar mandi yang ada di dapur.


" Dina, kakak ingin bicara sebentar." ucap Rifky dari luar kamar mandi.


Tak ada sahutan dari dalam, Rifky menunggu diluar sampai gadis itu selesai membersihkan diri. Rifky sadar dirinya bersalah karena tak menepati janjinya sehingga gadis itu terluka, entah apa yang terjadi dengannya.


Selesai mandi, Medina keluar tanpa menatap Rifky sedikitpun. Gadis itu seakan tak melihat keberadaan Rifky di depannya.


" Sayang, tunggu. Katakan sesuatu pada kakak, apa yang terjadi denganmu?" Rifky menghadang langkah Medina.


Pak Hasan yang melihat putrinya hanya diam, segera menghampiri Rifky dan mengajaknya menjauh. Sebagai seorang ayah, pak Hasan tahu seperti apa sifat putrinya.


" Rifky, kita bicara diluar." kata pak Hasan.


" Tapi, paman_..." ucap Rifky berusaha menolak.


" Sudahlah, biarkan putriku istirahat dulu." tegas pak Hasan.


Rifky mengikuti langkah pak Hasan menuju teras. Sebenarnya ia enggan untuk meninggalkan Medina sebelum gadis itu mau bicara dengannya.


" Paman, sekali lagi Rifky minta maaf atas kejadian yang menimpa Medina."


" Sudahlah, ini bukan salahmu. Mungkin saja Medina berkelahi di luar sana."


" Tapi sepertinya Dina sangat marah padaku, paman. Rifky tidak bisa melihat Medina seperti ini. Rifky harus bicara dengan Medina sekarang juga."


" Tidak, Nak. Biarkan Dina tenang dulu, dia butuh waktu untuk sendiri. Biar nanti paman yang bicara dengannya jika dia sudah tenang. Sekarang kamu pulang saja duluan."


" Baiklah, paman. Kalau begitu Rifky pulang dulu, nanti Rifky datang lagi kesini."


Rifky segera berpamitan untuk pulang walaupun rasanya sangat berat meninggalkan gadisnya yang sedang tak baik - baik saja keadaannya.


Saat sedang berjalan menuju motornya, tiba - tiba Adam datang menghampirinya.

__ADS_1


" Kak Rifky baru pulang? Tadi jadi jemput Medina, kan?" tanya Adam.


" Tidak, tadi saat kakak ke sekolah... Medina sudah tidak ada."


" Tapi dia sudah sampai di rumah, kan?"


" Dia baru saja sampai, tapi_..."


" Tapi apa, kak?"


" Dia pulang dalam keadaan berantakan. Pakaiannya penuh dengan tanah, tangan dan kakinya juga terluka."


" Bagaimana mungkin? Meskipun berkelahi, Medina tidak pernah sampai seperti itu." ucap Adam tidak percaya.


" Saya juga tidak tahu, di jalan kami tidak berpapasan. Medina juga tidak mau bicara padaku."


" Jam berapa kakak jemput dia?"


" Setengah jam yang lalu. Saya baru pulang dari perkebunan karena banyak sekali pekerjaan."


" Apa Medina menyusul kakak ke perkebunan?"


" Tidak mungkin, saya pergi dari perkebunan saat adzan dhuhur. Medina tidak mungkin datang kesana, tadi dia pulang berjalan kaki." ucap Rifky.


Rifky berpikir sejenak. Tanah merah yang menempel di pakaian Medina sama seperti tanah perkebunan. Jika hanya berjalan di jalan raya, tidak mungkin Medina sekotor itu.


" Apa Medina tahu saya di perkebunan?"


" Iya, kak. Saya yang memberitahunya kalau kakak masih di perkebunan. Saat saya ingin menjemputnya, dia menolak dan mungkin masih menunggu kakak."


" Ya sudah, saya pulang dulu." kata Rifky.


Selepas sholat isya', Rifky berniat untuk menemui Medina lagi. Usai makan malam dengan pak Jamal dan istrinya serta anaknya yang masih sekolah di bangku SMP.


" Om, tante... Rifky mau ke rumah Medina dulu." pamit Rifky.


" Kenapa lesu begitu mukanya? Apa ada masalah dengan Medina? Terus, gadis yang tadi siang mencarimu siapa, Ky?" tanya tante Mita.


" Dia hanya teman, tante."


" Tapi dia bilang sama tante kalau dia itu calon istri kamu. Sebenarnya kamu itu suka sama Medina atau perempuan itu?"


" Rifky lebih sayang sama tante." seloroh Rifky.


" Hahahaa... kakak ngasal kalau ngomong." timpal Seno, putra pak Jamal.


" Anak kecil jangan ikut campur!"


" Apa kakak tahu, kak Medina tadi terlihat sedih di jendela kamarnya."


" Kapan kau melihatnya?"


" Tadi sebelum maghrib, saat aku tanya katanya dia benci pada seseorang."


" Benci? Aku tidak bisa membiarkan ini!"

__ADS_1


Rifky langsung berlari keluar rumah menuju rumah Medina. Dia harus bisa menjelaskan semua ini pada gadis kecilnya. Rifky takut Medina melihat saat Devi memeluknya tadi siang.


" Assalamu'alaikum." Rifky mengetuk pintu rumah Medina.


" Wa'alaikumsalam." sahut pak Hasan dari dalam.


Rifky masuk ke dalam rumah setelah pak Hasan membukakan pintu. Pak Hasan kembali duduk di samping Medina melanjutkan mengobati luka di siku dan lutut putrinya.


" Harusnya dari siang langsung diobati biar cepat sembuh." ujar pak Hasan.


" Auwww... sakit, Yah." rintih Medina.


" Biar Rifky saja yang mengobati luka Medina, paman." ucap Rifky.


" Dina tidak mau sama dia, Yah!" ketus Medina.


" Jangan begitu, Din. Biar lebih cepat, ayah mau buatkan bubur buat kamu. Tubuh kamu juga panas, kamu harus makan lalu minum obat biar tidak demam." kata pak Hasan.


" Dina, kamu sakit?" Rifky langsung mendekat kearah Medina walaupun gadis itu tak menghiraukannya.


" Sini, biar kakak yang obati lukanya."


Dengan telaten Rifky mengobati luka pada tangan dan kaki Medina. Walaupun gadis itu tetap acuh padanya, tidak diusir saja dia sudah bersyukur.


" Maafin kakak ya soal tadi siang. Kakak harus mengurus perkebunan hingga lupa untuk menjemput kamu." ucap Rifky.


Tak ada tanggapan dari gadis kecilnya, Rifky melanjutkan ucapannya yang terjeda.


" Apa tadi kamu datang ke perkebunan? Kakak minta maaf untuk hari ini. Jika ada yang bisa kakak lakukan untukmu sebagai hukuman atas kesalahanku? katakan saja."


Medina menatap sekilas pada Rifky lalu mengalihkan pandangannya ke layar televisi di depannya.


" Tolong, jauhi aku." ucap Medina pelan.


" Sayang, itu hal yang tidak mungkin. Bertahun - tahun kakak menunggu untuk bisa bertemu denganmu, bagaimana kakak bisa menjauhimu?"


" Dina lelah, mau istirahat di kamar."


" Ya udah, ijinkan kakak antar kamu ke kamar."


Medina tak menolak saat Rifky memapahnya karena tubuhnya memang sangat lemah. Dia berbaring di tempat tidurnya sedangkan Rifky duduk disampingnya sambil menatap wajah pucat gadis kecilnya.


" Calis, apa tak ada maaf untukku?" lirih Rifky.


" Pergilah, aku tidak mau dekat dengan kakak!" sinis Medina.


" Baiklah, jika kamu sudah tenang kita akan bicara lagi. Kakak pulang dulu, besok kita harus selesaikan kesalahpahaman ini."


Rifky keluar dari kamar Medina dengan langkah berat. Dia berpamitan dengan pak Hasan yang baru selesai membuat bubur untuk anaknya. Rifky menghela nafas panjang sebelum benar - benar meninggalkan rumah Medina dengan perasaan bersalah.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2