Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Ujian akhir


__ADS_3

Sudah dua minggu semenjak lebaran, Rifky tidak pulang ke desa. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan, apalagi dua perusahaan di Jepang dan Korea Selatan sedang membutuhkan kehadirannya untuk proyek penting.


Rifky sungguh merasa sangat lelah, terlebih dirinya jarang sekali bisa menghubungi kekasihnya yang berada jauh darinya.


' Sayang, kakak sangat merindukanmu.' batin Rifky sembari menatap foto di wallpaper ponselnya.


" Boss, semalam aja baru balik dari Korea, sekarang udah di kantor aja? Memangnya tidak lelah bolak - balik keluar negeri?" tanya Nicko.


" Mau bagaimana lagi, ini semua sudah menjadi tanggung jawabku." jawab Rifky.


" Tidak mampir ke tempat Medina?"


" Nanti saja setelah dia selesai ujian. Takut mengganggu konsentrasi belajarnya. Kau tahu sendiri dia kalau ditinggal pasti pakai acara ngambek. Udah gitu, pasti dia cari pelampiasan di jalanan."


" Padahal dia itu imut banget lho? Tidak ada yang tahu jika sifatnya ternyata brutal."


Rifky memeriksa beberapa berkas yang sudah menumpuk di mejanya. Dia tak menghiraukan lagi ocehan Nicko yang tidak bermanfaat itu.


¤ ¤ ¤


Sementara di tempat lain, Medina duduk di bawah pohon sendirian. Teman - temannya masih berkumpul di kantin sebelum pulang. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk sekedar berbincang dengan teman yang lainnya karena besok sudah mulai libur setelah ujian.


Medina memutar - mutar ponselnya diatas batu sembari melamun. Entah apa yang dipikirkan gadis itu di tengah teriknya mentari yang begitu menyengat.


" Hei... sendirian aja?" sapa seseorang mengagetkan Medina yang sedang melamun.


" Eh... Dani, ada apa?" sahut Medina acuh.


" Mey... tolong aku..."


" Tolong apa...?"


" Aku mau ketemu gadis itu,"


" Hhh... nanti aku tanyakan kak Rifky dulu ya?"


" Bener ya?"


" Nggak janji deh, soalnya kak Rifky jarang sekali hubungi aku."


" Kalian sedang ada masalah?"


Medina berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Dani, mungkin saja dirinya berbuat sesuatu yang membuat Rifky marah tanpa ia sadari.


" Tidak tahu, kami memang jarang berkomunikasi."


" Mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya, Mey. Seperti itulah dunia kerja orang dewasa, mereka bisa lupa dengan apapun saat sedang fokus bekerja."


" Sok tahu...!"


" Hahahaaa... ayok pulang, aku antar."


" Tidak usah, nanti bareng sama Adam saja."

__ADS_1


" Jangan menolak, ijinkan aku untuk belajar menjadi teman yang baik untukmu." ujar Dani lembut.


" Baiklah, aku juga lagi nggak mood buat berkumpul dengan teman - teman."


Akhirnya Dani mengantar Medina pulang karena sudah tidak ada lagi kegiatan di sekolah. Sampai di depan rumah Medina, Dani langsung pamit tanpa berniat untuk singgah terlebih dahulu.


" Assalamu'alaikum, Yah." ucap Medina.


" Wa'alaikumsalam, pulang sama siapa tadi? Kok langsung pulang, tidak mampir dulu?" sahut pak Hasan.


" Itu temen Dina, namanya Dani. Dia sedang terburu - buru jadi tidak sempat mampir, Yah."


" Adam sama Bayu kemana?"


" Tadi masih kumpul sama teman yang lain di kantin sekolah. Dina lagi malas kumpul jadi pulang duluan sama Dani."


Sore harinya, Medina sedang memasak untuk makan malam. Ayahnya sudah pergi ke Mushola lebih awal karena ada keperluan dengan takmir masjid.


" Assalamu'alaikum, sayang..."


Sebuah suara dari belakang membuat Medina kaget. Untung saja dia tidak melemparkan sendok sayur yang sedang ia pegang.


" Astaghfirullah... kakak!" pekik Medina.


" Sayang, kenapa kaget begitu sih? Kakak ngucap salam malah nggak di jawab." senyum lembut terukir di bibir Rifky.


" Eh... mmm... wa'alaikumsalam. Kapan kakak datang?"


" Kakak baru saja sampai, ini aja langsung kesini."


" Kakak tunggu aja di depan atau pulang dulu ke rumah Om Jamal."


" Kenapa? Kakak kangen sama kamu." Rifky berjalan semakin mendekat kearah Medina.


" Kak... Dina di rumah sendirian, tidak enak kalau ada tetangga yang melihat."


" Hhh... baiklah, tapi nanti malam kita jalan ya?" ucap Rifky memohon.


" Mmm... lihat nanti aja ya kak, belum tentu ayah mengijinkan."


" Kok gitu sih, sayang. Kau tidak merindukan kakak?" nampak gurat kecewa di wajah Rifky.


Medina mematikan kompor setelah makanan yang dia masak itu matang. Setelah itu, ia menatap intens lelaki yang ada di sampingnya itu.


" Dina hanya berusaha untuk terbiasa sendiri tanpa kakak."


" Kenapa? Apa kamu berniat untuk meninggalkanku?"


" Jangan memutar balikkan fakta, kakak yang punya niatan ninggalin aku."


Rifky menatap lekat wajah kekasihnya dengan penuh tanda tanya dalam hatinya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dikatakan Medina barusan.


" Sayang... kamu bicara apa sih? Kamu tahu dari mana aku mau ninggalin kamu?"

__ADS_1


" Sudahlah, kakak pulang saja sebentar lagi maghrib." ucap Medina datar.


Medina beranjak meninggalkan Rifky yang masih berdiri mematung memikirkan ucapan kekasihnya itu. Medina langsung masuk ke dalam kamar lalu menguncinya dari dalam.


Rifky baru menyadari tak ada Medina di depannya saat terdengar suara pintu kamar Medina yang tertutup dengan suara keras. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu keluar dari rumah untuk menyusul pak Hasan ke Mushola.


¤ ¤ ¤


Sepulang dari Mushola, Rifky langsung ke rumah Medina dan mengobrol dengan pak Hasan di teras. Sepertinya belum ada yang berniat untuk masuk ke dalam rumah.


" Paman... Dina kenapa ya? Apa ada masalah disekolah?" tanya Rifky.


" Sepertinya tidak ada, memangnya Medina kenapa?" sahut pak Hasan sambil mengerutkan keningnya.


" Tidak apa - apa, paman. Mungkin hanya perasaan Rifky saja. Oh iya, paman... bolehkan Rifky ajak Medina keluar sebentar?"


" Boleh, tapi jangan pulang terlalu malam."


" Iya, paman. Rifky tidak akan lama kok."


" Ya sudah, kita makan dulu... Dina sudah masak tadi, mubazir kalau tidak di makan." ujar pak Hasan.


Saat pak Hasan dan Rifky masuk, Medina sedang menyiapkan makanan di meja makan. Tak ada sedikitpun gadis itu melirik ke arah Rifky.


" Sayang... mau kakak bantuin?" tawar Rifky.


" Tidak usah, duduk saja." sahut Medina datar.


" Dina... yang sopan kalau bicara!" ujar pak Hasan.


" Paman... tidak apa - apa, mungkin Dina sedang lelah saja." ucap Rifky.


Setelah semua makanan tersaji, mereka bertiga langsung makan dengan tenang tanpa bersuara. Sesekali Rifky melirik gadis yang sedari tadi mengabaikannya.


Setelah selesai makan, Rifky langsung membereskan meja makan walaupun pak Hasan sudah melarangnya. Dia ingin mempercepat pekerjaan Medina dan segera mengajaknya keluar sekedar cari angin.


Medina terkesan menghindari Rifky entah karena apa. Berkali - kali Rifky mengajaknya bicara namun gadisnya tetap bungkam.


Pak Hasan lebih memilih duduk di depan sambil menonton televisi daripada harus ikut campur masalah anak muda. Selagi masih dalam batas wajar, pak Hasan tidak akan mengatur kehidupan putrinya.


" Sayang... mau sampai kapan kamu mendiamkan kakak seperti ini?" lirih Rifky.


" Sepenting apa Dina buat kakak?" Medina menatap tajam pria di hadapannya.


" Sayang_..."


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2