
Malam ini, sesuai janjinya pada Medina, Rifky sudah menyiapkan tempat dinner romantis untuk kekasihnya itu. Untung saja tadi Nicko bisa membantunya mempersiapkan segala keperluannya.
Walaupun masih terlihat kesal karena tadi siang Rifky meninggalkannya tanpa pamit, Medina tetap mengiyakan ajakan untuk dinner.
" Kak, tempatnya masih jauh?" tanya Medina.
" Sebentar lagi, sayangku." jawab Rifky seraya tersenyum.
" Ribet banget sih, kak! Apa bedanya dengan makan di rumah." gerutu Medina.
" Ada yang mau kakak bicarakan sama kamu, ini serius dan kakak tidak ingin ada yang mengganggu." ujar Rifky.
Tak lama, mereka sampai di sebuah tempat yang menurut Medina sangat asing. Sempat gadis itu berpikir jika Rifky salah tempat karena tadi sudah bilang mau dinner tapi sekarang malah memarkirkan mobilnya di gedung perkantoran.
" Kak... beneran kita ke tempat ini? Bukankah ini gedung perkantoran?" tanya Medina heran.
" Iya, sayang. Kakak ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini juga. Maaf, ya? Janji tidak akan lama kok." ucap Rifky sedikit merasa bersalah.
" Ini tempat kerja kakak?"
" Iya, janji cuma sebentar. Setelah itu kita dinner, OK...?"
" Baiklah, terserah kakak saja." sungut Medina.
Rifky menggenggam tangan Medina berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas. Petugas keamanan bergegas menyambut kedatangan bossnya.
" Selamat malam, Boss. Kenapa datang jam segini? Bukankah_..."
" Ssttt... lanjutkan pekerjaanmu!" perintah Rifky.
" Ayo, sayang... keburu malam." Rifky merangkul bahu Medina sambil tersenyum.
Sampai di ruangannya, Rifky menyuruh Medina duduk di sofa sedangkan dirinya berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan berkas yang akan di pakai untuk meeting besok.
Sudah setengah jam menunggu, Medina merasa bosan hanya duduk - duduk saja di sofa. Rifky terlihat sangat serius menatap layar laptopnya.
" Kak... masih lama nggak sih? Tahu begini, Dina tidur aja di rumah!" kesal Medina.
" Sebentar ya, sayang? Sedikit lagi selesai kok." sahut Rifky sambil tersenyum.
" Huh... menyebalkan! Kalau niatnya kerja ngapain ajak aku kesini." sungut Medina.
Rifky menghubungi seseorang lalu berdiri seraya menatap kekasihnya yang sedari tadi memasang wajah juteknya.
" Ayo... kita dinner sekarang." ajak Rifky.
" Males, Dina mau pulang aja!" pekik Medina.
" Hei... jangan marah, sayang. Maaf soal pekerjaan ini, harusnya kakak bisa menepati janji denganmu."
__ADS_1
Rifky memeluk kekasihnya dari belakang. Cukup lama dalam posisi ini dan Medina tidak menolak tapi juga tak menanggapinya.
" Sayang... kakak minta maaf. Kita dinner sekarang ya? Kakak sudah menyiapkan sesuatu buat kamu." Rifky berbisik sambil mecium pipi Medina dengan lembut.
" Kakaakkk...!" lirih Medina merasa risih.
" Kakak sayang sama kamu," Rifky semakin mempererat pelukannya.
Braaak!!!
Dari sudut ruangan muncullah sosok pengganggu yang nyengir tanpa dosa. Dia melenggang begitu saja mengabaikan tatapan Rifky yang terlihat kesal.
" Lanjutkan saja, anggap saya tidak melihatnya." celoteh Nicko yang berjalan melewati Rifky dan Medina.
" Beraninya kau mengganggu...!" teriak Rifky kesal.
" Hehee... sorry, Boss."
" Ayo, sayang... jangan hiraukan Nicko." Rifky melingkarkan tangannya di pinggang Medina.
" Mau kemana lagi?" sahut Medina malas.
" Ikut saja, kamu pasti senang. Dan kau... pulanglah, terimakasih untuk hari ini." Rifky tersenyum sambil menatap Nicko.
" Everything for you, my Boss..." Nicko melambaikan tangan seraya berjalan keluar dari ruangan Rifky.
" Tadi kak Nicko keluar dari pintu ini, kak?" tanya Medina.
" Iya, Calis sayang... ayo masuk," jawab Rifky.
" Bukankah kita mau dinner? Kenapa malah kesini sih, kak? Dina tidak mau pulang larut malam, nanti mama Kamila nyariin kita."
" Hahahaa... tidak usah pikirkan mama. Kita tidak pulang saja tidak akan ada yang nyariin."
Rifky menuntun Medina menaiki tangga yang gelap karena tak ada pencahayaan sama sekali. Sampai diatas, Medina sangat terkejut dengan pemandangan di hadapannya.
" Kakak... kita di atas gedung?" pekik Medina girang.
Tanpa sadar Medina memeluk Rifky dengan sangat erat. Rifky membalas pelukan itu dengan senang hati, apalagi gadis dalam dekapannya itu terlihat sangat bahagia.
" Kau senang dengan tempat ini?" lirih Rifky.
" Iya, kak. Tempat ini sangat indah, apalagi di malam hari seperti ini."
Medina menatap sekitar dengan senyum yang mengembang walaupun masih dalam pelukan Rifky. Tak ada kata yang dapat ia ungkapkan untuk mewakili perasaannya saat ini.
" Kita makan dulu, ya?" ajak Rifky.
" Makan...? Kita harus turun lagi mencari tempat makan?" tanya Medina sedikit kecewa.
__ADS_1
" Tidak, sayang... Lihat disana, semuanya sudah tersedia untuk kita dinner malam ini."
" Hah... kakak sudah menyiapkan semua ini untukku?" ucap Medina tak percaya.
" Apapun akan kakak lakukan untuk kebahagiaanmu, sayang."
Medina berjalan mendekati meja yang tersusun rapi berbagai macam makanan di atasnya. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
" Tidak, sayang... jangan menangis, kakak hanya ingin melihat senyuman di wajahmu." Rifky menangkup wajah Medina dengan kedua tangannya.
" Dina sangat bahagia malam ini, kak. Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang telah kakak berikan padaku." Medina semakin terisak seraya menenggelamkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya.
" Tidak perlu berterima kasih, sayang. Sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab bagiku untuk membahagiakanmu." Rifky mengecup kening Medina cukup lama.
" Duduklah, kita makan dulu sebelum nanti ada kucing mendahuluinya." gurau Rifky.
Mereka berdua duduk saling berhadapan. Binar bahagia di wajah Medina membuat Rifky selalu tersenyum.
" Sayang, kamu mau makan yang mana dulu?" tanya Rifky lembut.
" Kenapa kakak memberikan semua kebahagiaan ini untukku? Aku merasa tidak pantas menerima semua ini. Ini semua terlalu berlebihan untukku." ucap Medina berkaca - kaca.
" Ssttt... jangan bicara seperti itu. Sejak pertama kali kakak mengenalmu, kakak sudah sangat menyayangimu. Kakak rela pergi jauh untuk bisa mewujudkan cita - cita kakak. Semua ini kakak lakukan untukmu, sayang."
Rifky mengambil kotak berwarna merah dari saku jasnya lalu membukanya di hadapan Medina. Sebuah cincin berlian yang berkilau yang telah ia persiapkan sebelum mengajak Medina dinner.
" Medina... Menikahlah denganku. Aku tahu ini terlalu cepat untukmu, tapi aku sudah sangat lama menantikan hari itu tiba." ucap Rifky serius.
" Kakak... Dina tidak tahu harus menjawab apa. Aku adalah putri dari seorang ayah yang masih bertanggung jawab atas masa depanku. Apapun yang menyangkut tentang kehidupanku, semuanya tergantung restu dari ayah sebagai orangruaku satu - satunya." kata Medina seraya menundukkan wajahnya.
" Tapi kamu sendiri bagaimana...? Kamu mau menerimaku, kan?"
" Asalkan ayah merestui, Dina akan menerimanya. Jadi... bicaralah dulu dengan ayah sebelum memberikan cincin itu padaku."
" Ya sudah, sebaiknya kita makan dulu. Kakak sudah menahan lapar dari tadi."
Medina hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Rifky menyuapi Medina dengan penuh kasih sayang. Malam ini hanya kebahagiaan yang Rifky curahkan untuk gadis kesayangannya sebagai kenangan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup mereka.
Dinner yang sangat romantis di bawah langit disaksikan bintang - bintang yang bertebaran. Rifky sungguh sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1